Bulan Sabit

Hai,
Sudah jam begini. Apa kau masih tinggal di ruangan kantormu? Ataukah saat ini kau sedang berkumpul dengan teman-temanmu, seperti biasanya? Dimanapun kamu, aku harap kamu baik adanya. Semoga semesta selalu memperlakukanmu dengan baik.

Aku baru saja pulang dari kantorku. Seperti biasa, aku pulang ketika gelap mulai menyelimuti hari. Malam ini, listrik di hampir seluruh Ruteng padam. Aku tak melihat sesuatu yang mengesankan di sepanjang perjalanan, hingga aku menengadahkan kepalaku ke atas langit. Ada yang berbeda, aku seperti melihat ujung garis bibirmu yang sedang tersenyum. Malam ini bulan baru telah menampakkan dirinya. Sesekali, awan gelap menutupi cahayanya, dan berlalu. Muncul, dan menghilang lagi. Aku teringat kau, yang tidak mampu kusampaikan rindu dengan cara yang tepat.

Apa kabar kamu disana?
Sudah beberapa waktu sejak terakhir kita berbicara, tentang sesuatu yang seharusnya tidak menjadi masalah karena kita sudah bersepakat untuk memilih jalan ini bersama. Namun, ternyata semuanya tidak semudah bayanganku. Seperti yang kubilang, rasanya seperti akan ada badai besar dalam ketenangan kita yang aneh. Kita menjadi diam, tak bicara walaupun sebenarnya terasa menyakitkan -bagiku- untuk tak berbicara denganmu. Mungkin hanya aku. Atau, justru aku yang menciptakan badai dalam tenang ini sendiri, sedangkan kau sedang benar-benar tenang karena aku lagi tak mengganggu harimu? Yang jelas, kita sama-sama mengeras untuk saling tak bicara. Mungkin kita menunggu karena kita berada dalam tahap yang sama: ingin ditemukan. Entah. Kuharap kau tidak begitu agar tidak perlu merasakan sesak yang aku rasakan hingga detik ini. Kuharap kau dapat bersenang-senang untuk dirimu sendiri.

Beberapa orang menyuruhku mengalah, berhentilah menjadi ingin ditemukan. Aku harus mencarimu, apabila benar: sebesar itu aku menginginkanmu. Namun, hubungan antara lelaki dan perempuan adalah dua sisi. Tak bisa hanya mengharapkan satu sisinya saja yang bergerak, karena nanti akan timpang. Inginku ini membuatku berpikir sendiri tentang perasaan yang sudah lama tinggal di diriku. Bagaimana bisa aku menemukannya yang terus bersembunyi dan tidak ingin ditemukan olehku?
Bagaimana bisa hanya aku yang tidak mampu tidur karena memikirkannya, sedangkan dia terlelap dalam dunianya sendiri?
Harus berapa banyak lagi aku menelan semua gengsi dan egoku untuk mempertahankanmu tetap disini?
Apa lagi yang harus aku lepaskan, sedang aku telah membiarkan satu-satunya hatiku berdiri diujung tebing dan bersiap untuk terjun bebas lagi? Memang benar kata orang. Ketika kita sedang jatuh cinta pada seseorang yang berbeda dari ekspektasi kita, otak akan selalu mencari pembenaran agar bisa tetap bersama orang yang kita cintai.

Namun bagaimana menurutmu, bila kali ini kamu mulai mencoba untuk menemukanku? Apakah itu hal yang terlalu sulit bagimu? Atau saking mudahnya, kau membiarkannya saja karena kamu tahu aku tidak akan kemanapun?

Melihat bulan yang sesekali tertutup awan saat perjalanan pulang ke rumah, seperti melihatmu dan keadaan kita. Kau adalah bulan dan keadaan seperti awan pekat yang menutupinya. Kau datang, menghancurkan segala pertahanan yang kubangun dan menyerah padamu sekali lagi, lalu kau menghilang. Sesaat kau datang lagi dengan harapan yang baru, lalu pergi lagi. Tapi, perasaan ini tetap sama. Tidak ada yang berubah untukmu. Masih sama, seperti saat pertama kali aku mengakui bahwa aku jatuh padamu. Namun, aku mulai takut pada kenyataan bahwa kau tak jatuh padaku sedalam aku jatuh kepadamu. Bahkan mungkin, kau hanya terantuk sedikit; tak sampai jatuh. Kau hanya kasihan pada seorang perempuan yang terlanjur jatuh padamu, lalu menolongnya sedikit untuk mengobati lukanya dan pergi begitu saja. Mungkin saja kau sedang menangani dirimu sendiri yang telah jatuh (pada seorang yang lain) namun terlihat sedang berdiri tangguh dihadapanku, agar aku tidak begitu kecewa.

Akhirnya aku sadar, kau adalah bulan. Dan aku menginginkanmu, sama seperti aku menginginkan bulan: kalah oleh jarak dan keadaan karena aku manusia. Pada titik ini aku harus memulai semua tahapan kesedihan untuk mengikhlaskanmu yang tak pernah selesai itu, dari awal lagi.

Disini, malam ini bulan sabit. Bagaimana disana?

Comments