Perihal Berharap
Bagaimana menjaga hati agar tidak terluka?
Ali Bin Abi Thalib ra pernah berkata: "aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yaang paling pahit adalah berharap kepada manusia".
Yep, disitu kuncinya. Minimize your expectations, or make it nothing. Ketika kamu berada posisi tidak berharap apapun pada orang lain bahkan dirimu sendiri, hatimu akan lebih aman karena resiko rasa sakitnya berkurang.
Memang, ini akan membuat perilaku kita, perkataan dan perbuatan kita menjadi berubah. Kita menjadi lebih acuh dan (mungkin) pesimistis: menganggap orang lain tidak bisa diharapkan sehingga semua hal akan dilakukan sendiri. Yang paling merasakan perubahan ini adalah orang-orang terdekat kita, mereka akan merasakan perbedaan yang cukup signifikan dengan tempo yang cepat atau mungkin mereka menyadarinya saat kita benar-benar sudah melupakan, saking kita tidak berharapnya kepada mereka. Namun, bukankah itu bagus untuk menjaga hati kita agar tidak terluka, dan menjaga mereka dari beban moril atas harapan kita?
Namun menjadi tidak berharap pada orang bukan berarti kita akan lepas dari harapan-harapan dan ekspektasi orang lain terhadap kita. Orang lain bisa saja berharap kita tidak berubah, berharap balik kepada mereka atau mungkin walaupun kita tidak berharap, mereka masih berharap kepada kita. Dan harapannya cukup tinggi. Ini mengganggu, namun tidak bisa terlepas. Begitulah hubungan antarmanusia bekerja--hubungan yang melelahkan.
Solusinya? Menjadi tidak acuh pada semuanya. Ekspektasi kita terhadap orang lain maupun sebaliknya. Untuk tiba pada tataran ini, kita harus menjadi manusia yang tega. Tega melihat orang lain kecewa atau kesakitan karena kita yang notabene tidak semua orang mampu melakukannya. Ya, beberapa orang bahkan memilih mati saja agar bisa terlepas dari hubungan antarmanusia yang nahas ini. Apakah semuanya selesai saat itu? Tergantung apa kepercayaan kita. Bila kita percaya pada anggapan bahwa Tuhan itu ada, maka setelah berurusan dengan manusia kita akan berurusan dengan Tuhan yang kita percayai itu. Berbeda dengan mereka yang tidak percaya Tuhan, mungkin urusannya selesai. Mereka hanya akan tertidur panjang hingga menjadi tanah atau bertemu dengan Tuhan yang tidak mereka percayai; yang ternyata sungguh ada.
Berharap.. berharap. Berhenti berharap kepada manusia adalah sesuatu yang berat. Kita harus pergi jauh, mengasingkan diri dan mampu mengandalkan diri sendiri untuk segala hal, yang notabene tidak bisa kita lakukan sejak lahir: lahir dibantu manusia lainnya dan mati dikubur manusia lainnya. Kecuali mati tenggelam di samudera, di hutan belantara yang belum dijamah manusia. Ketika kita berada dalam peradaban, adalah sulit untuk tidak berharap. Berharap, menjadi beban.
Sesuai, maka bahagia, lalu memasang harapan lebih tinggi. Tidak sesuai, maka kecewa. Semuanya pahit bagi yang berharap dan yang diharapkan. Semua ini adalah judi! Judi yang diciptakan Tuhan dengan taruhan yang paling besar: perasaan.
Konon katanya ada satu cara yang bisa meminimalisir kesakitannya--karena apapun yang terjadi kita akan tetap merasa sakit atas harapan kepada manusia yang sulit dilepas. Berharaplah dengan hati, bukan dengan logika karena logika akan selalu menaikkan taraf harapan dan taruhannya. Sedang hati tidak akan menaikkan tarafnya. Ketika sudah merasakan kecewa, ia akan mencoba hal yang sama hingga akhirnya ia lelah dan menjauh. Tidak akan lebih sakit karena kadar kesakitannya sama walaupun sensasinya selalu baru, dan ia paling tahu kapan harus berhenti. Kapan harus melepas semua harapan dan mengikhlaskan semua kekalahan dari judi yang sudah dia lakukan. Berbeda dengan logika yang terus berusaha membunuh hati dalam perjudian ini, hati tidak berusaha menyingkirkan apapun.
Berharaplah, sekadarnya saja menggunakan hati. Karena apapun yang terjadi, rasa sakit akan tetap mengikuti.
Comments
Post a Comment