A letter for you.


Untukmu, Sur: orang yang kusebut namanya sejak kita bertemu lagi hari itu. Sebelumnya, aku minta maaf karena tanpa izin aku telah menyebut namamu di semua doa hingga akhirnya Tuhan bosan dan tidak punya pilihan selain memberikan apa yang aku inginkan agar aku berhenti meminta untuk didekatkan denganmu. 


Hari ini, kita sudah menapaki satu langkah lagi dalam hidup kita. Satu keputusan besar tentang yang akhirnya tidak kuambil sendirian. Satu langkah lebih dekat untuk mencapai apa-apa yang kita inginkan: hidup bersama dan tentu saja aku bisa tersesat denganmu tanpa harus mempertanyakan eksistensiku sendiri. Sesungguhnya aku ingin tertawa jumawa, karena kupikir ini adalah ambisiku sendiri untuk mengikatmu dalam diriku. Tapi ternyata (dan syukurnya) ini bukanlah ambisi. Ini adalah keinginan yang sadar dan bukan hanya aku yang menginginkannya. Lihatlah kau hari ini, kau datang sesuai dengan apa yang kau janjikan saat itu, dan menyematkan sesuatu di jari manis kanan milikku.

Sur, kita telah melewati banyak hal yang terjadi sejak awal kita berkenalan saat itu. Kita menerima, menolak dan melepaskan banyak hal. Banyak tawa yang terdengar dan airmata yang tumpah, emosi yang meluap, kesakitan tak masuk akal yang hampir membunuh. Permainan tarik ulur yang membosankan, hubungan yang tak jelas, berpacaran hanya selama tigapuluh menit, hingga mencari segala macam pelarian. Kita pernah berupaya memulai kehidupan baru untuk sendirian saja dan tetap berdoa tentangmu, namun membalik permintaan awalku: tolong jauhkan orang ini dari hidupku dan buatlah aku mampu untuk pergi dari dia. Namun pada satu titik, sejauh apapun kita melangkah sendiri-- kau selalu menemukan aku lagi, lalu mengembalikan seluruh doaku ke arah semula. Kau akhirnya menempati posisi terdekat dalam diriku setelah mereka yang tumbuh bersamaku sejak akhir desember 25 tahun lalu. Orang asing yang berada dalam posisi yang terdekat dibandingkan orang asing manapun di dunia ini. Terkadang, aku bingung sendiri: bgaimana bisa aku menyerahkan hatiku kepada orang asing ini? Memohon pada Tuhan untuk didekatkan, berjanji pada kedua orangtua untuk bertanggungjawab atas hatiku yang telah kuserahkan, membiarkan seluruh prosesnya mengambilku dari seluruh rasa nyaman akan kesendirian berjalan dengan begitu lembutnya. Tapi, cinta memang demikian konyol. Seasing apapun dirimu, sesingkat apapun kita mengenal satu sama lain, aku tetap menyerahkan hatiku begitu saja.

Sur, aku paham bahwa segala yang dilabeli kata 'pertama' tidak akan pernah tinggal. Kenapa? Karena bila ada yang pertama, maka akan ada yang kedua, ketiga, keempat dan kesekian. Namun bila kau jadi yang terakhir maka tidak akan ada lagi setelah itu, bukan? Maka jadilah yang terakhir. Selain karena alasanku sebelumnya, aku hanya punya satu hati untuk diberikan padamu, dan tidak ada lagi yang tersisa bahkan untuk diriku sendiri. Aku harap, kita berpikir tentang hal yang sama saat ini untuk menjadikan satu sama lain sebagai orang terakhir di muka bumi ini, menempati posisi seperti dimana kita berada hari ini.

Hari ini, kita telah menyerahkan sebagian hati kita untuk 'dipenjakaran' dalam satu ruangan untuk selamanya. Mari bersulang.

Namun, ada satu pertanyaan untukmu: apakah kamu bahagia dengan keputusanmu hari ini?

Comments