Ngikutin Pelatihan yang Bikin Mikir lumayan

beberapa hari yang lalu, ada undangan masuk ke kantor dari Rumah Perempuan, lembaga mitranya LBH APIK buat ngikutin Training HAM dan KBB yang berperspektif Gender dan Inklusi bagi Mitra, Penyintas dan jaringan advokasi KBB di NTT (panjang bener yak judulnya hehe)

nah, kegiatan ini dalam ToRnya minta 1 orang utusan dari kantor buat ngikutin kegiatan itu. awalnya si Boss bingung nih mau ngasih ke siapa, sialnya pada hari yang bersamaan ada kegiatan kantor di luar kota dan semua staff harus ikut kecuali saya karena cuma intern dikantor hihihi

Sebenarnya nyaris tuh tidak ada yang bisa ikut, karena saya pada hari kedua kegiatan harus hadiri seminar proposal penelitian saya sendiri (hari ini maksudnya), tapi setelah nego kalo saya bisa ngikutin senin pagi sampai selesai tapi selasa pagi sampe siang saya harus ngizin keluar, jadilah saya yang ngikutin kegiatan ini. lumayan juga buat nambah-nambah pengetahuan dan pemabaman, biar bisa jadi manusia yang lebih berkualitas, gitu ceritanya.

peserta yang mengikuti pelatihan ini berjumlah 25 orang yang berasal dari perwakilan mitra, vocal point dari komunitas korban, komunitas muda yang selama ini telah diorganisir mitra dan perwakilan lembaga CSO lainnya yang selama ini mendukung kerja-kerja advokasi. yang tidak terbayangkan oleh saya adalah kegiatan ini juga dihadiri pihak yang hampir saya tidak ketahui bahwa mereka ada di sekitar saya, dan tidak pernah saya pikirkan keberadaannya mungkin karena saya terlalu sibuk dengan apa yang ingin saya pelajari tapi saya tidak melihat ke sekitar. yamg saya maksudkan itu adalah Syiah Kupang, Ahmadiyah Kupang, Kelompok Perempuan Ahmadiyah dan Komunitas Budha Kupang. Kalau boleh jujur, saya mungkin tidak mengetahui kalau mereka ada dan bahkan mungkin tidak peduli dengan keberadaan mereka.

kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 10-11 April, tepatnya kemarin dan hari ini, dengan difasilitasi oleh Asfina Wati. Asfina Wati ini adalah aktivis HAM dari YLBHI yang sudah menangani isu-isu kebebasan beragama dan kepercayaan yang dipermasalahkan oleh masyarakat awam, seperti kelompok Syiah, Ahmadiyah, Gafatar dan lain sebagainya, juga pendeta Emmy Sehertian yang menjadi narasumber materi bertajuk "Memahami KBB sebagai HAM" Pdt Emmy Sehertian adalah seorang Aktivis kemanusiaan dan juga seorang Pendeta di Sinode GMIT. Beliau juga pernah mengadvokasi isu KBB di berbagai daerah, salah satunya konflik Ambon tentang Acang dan Obet itu. ngomong-ngomong soal Acang dan Obet, itu berasal dari nama Hasan dan Robert, yang merupakan nama yang diberikan kepada kelompok muslim dan kristen di wilayah konflik tersebut waktu itu. itu yang saya baca di novel dulu sihhh hihi

dalam pembukaan pelatihan dan saat Pdt Emmy masuk, peserta yang menggunakan baju Koko dan rapih itu (belakangan saya mengetahui bahwa mereka berasal dari kelompok penyintas yang saya sebutkan tadi) menyalami dan terlihat sangat akrab dengan sang Pendeta. hati saya tiba-tiba rasanya kok jadi gatal ya.. bukan karena jengkel, atau tidak suka dengan keberadaan kelompok ini, tetapi bagaimana mereka dapat berhubungan baik dan saling menghormati kepercayaan padahal kepercayaan mereka berbeda jauh, sedangkan di dalam sesama Islam sendiri saja saling mengkafirkan satu sama lain. dalam hati saya bertanya, kok kita yang sesama islam tidak bisa seakur ini sih? padahal Islam mengakomodir semua pendapat dan Rasulullah sendiri sudah menyatakan bahwa ada 73 golongan yang terpecah dalam islam dan hanya ada 1 yang benar. masa sih hanya karena perbedaan pendapat maka kita dapat mengklaim yang lainnya kafir? hati saya terus gatal-gatal dan pikiran saya terus mencari sampai selesai kegiatan pada hari pertama, yang kemudian saya diskusikan kepada partner saya, tentang apa yang saya pikirkan sepanjang hari ini, yang kemudian ada kesimpulan sementara yang kami ambil bahwa setiap golongan yang ada harusnya membangun koordinasi sebagai sesama sebagai muslim. saya mencontoh gereja Kristen yang memiliki koordinasi dalam wadah yang bernama Persatuan gereja Indonesia (PGI), tetapi apakah ada yang akan menerima pandangan saya, nanti saya dikira lebih berpihak kepada mereka karena wilayah kerja saya lebih dekat pada mereka dan pandangan saya (bukan hanya saya, banyak pihak lain yang berpendapat sama) bahwa Sinode GMIT dibawah Kepemimpinan Pdt Merry Kolimon menjadi sangat prograsive, baik dalam masalah penanganan human trafficking sebagai isu strategis di NTT dan juga pemberdayaan perempuan seperti adanya Perempuan GMIT, melakukan aliansi untuk advokasi dan sebagainya. kenapa Islam tidak bisa mencontohi hal tersebut dengan membangun garis koordinasi sebagai muslim, apapun alirannya? kemudian saya mulai menyimpulkan bahwa seperti masalah gender, ini juga masalah mindset. bagaimana orang memandang orang lainnya berdasarkan pilihannya dan kenyamanannya. kenyamanan tersebut akan menimbulkan pembenaran atas pilihan yang membuatnya nyaman dan (mungkin--perlahan) akan memandang yang lainnya merupakan suatu yang salah.

Ternyata, pertanyaan ini tidak hanya mengganggu pikiran saya sendiri. ini juga mengganggu pikiran Senior saya dari HmI, tetapi kami berasal dari lembaga yang berbeda dalam kegiatan ini. Yeni namanya, mantan Ketua KOHATI HmI Cabang Kupang yang juga berperan menjadikan saya seperti sekarang ini. pertanyaan-pertanyaan tersebut juga 'menggelitik' pikiran beliau, karena disamping sebagai sesama muslim, di Kupang sendiri juga Muslim merupakan salah satu kelompok minoritas yang seharusnya menjalin silaturrahim sebagai sesama muslim, terlepas dari kepercayaannya dia sebagai muslim seperti apa dan aliran apa yang dia anut, karena itu merupakan nurani seseorang kita sebagai manusia lainnya tidak dapat mengontrol hati dan nurani seseorang. saya dan Kak Yeni sharing beberapa hal, termasuk permasalahan dalam wilayah HmI sendiri, yang ternyata menimbulkan indikasi bahwa HmI Cabang Kupang memiliki sedikit rasa ketidaksukaan kepada kadernya yang menjadi seorang feminis. ini baru indikasi lho ya.. jangan langsung di klaim.. nanti saya dituntut penistaan lagi.. hehe
dalam pelatihan selama 2 hari ini, saya banyak belajar, bagaimana menghormati pilihan orang lain, dan bagaimana membangun relasi yang baik untuk mencapai tujuan bersama. Kak Asfina sudah membuka mata, hati dan pikiran saya yang benar-benar tertutup kemarinnya, menjadi benar-benar terbuka lebar tentang isu KBB ini. bahwa akibat dari 'mindset saya yang lama' bisa menimbulkan kekerasan terhadap kelompok lainnya sehingga toleransi itu harus dipupuk sebagai sebuah investasi jangka panjang dan setelah keluar dari pelatihan ini saya rasanya seperti sudah menjadi 'saya yang baru' dalm memandang isu kebebasan beragama dan berkepercayaan yang ada di dalam masyarakat.
Oh iya ada 1 lagi, ternyata menjadi notulen itu lebih enak kalau menurut saya, entah ini karena pengalaman yang menjadi notulen atau belum terbiasa menjadi peserta. menurut saya menjadi notulen dalampelatihan itu lebih tinggi konsentrasinya, lebih mudah untuk menangkap materi sambil belajar dan juga tidak mudah lupa dibandingkan hanya menjadi pendengar. Tapi, saya tetap bersyukur karena sudah diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini, karena tidak semua orang seusia saya bisa masuk ke lingkungan ini dan mengikuti pelatihan seperti ini tetapi dengan Rahmat Allah swt saya bisa lenggang kangkung saja ikut pelatihan seperti ini. Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan (?)

Eh nihh ada beberapa poto tadi yang sempat didapet.. hehe

Nah ini 2 kelompok yang presentasi tugas pertama.. tentang apa ya? Lupa.. kliping kayaknya..


Ini kelompok pertama saya, jadi setiap kali ada tugas, pesertanya di shuffle jadi tiap tugas tidak ada kelompok yang sama.

Kelompok presentasi terakhir nih, tadi pas dateng tiba-tiba ditodong suruh langsung presentasi tentang advokasi.. yang jilbab kuning sebelah saya itu Kak Yeni yang tadi saya ceritain



 Ini rencana tingkat lanjutnya:
Actually ada 1 kelompok lagi yang saya anggotanya tapi gak sempat kefoto karena saat presentasi, saya juga lagi presentasi proposal penelitian dikampus.. itu isinya bapak-bapak semua.. 
Semoga bisa bertemu lagi dan belajar bersama di kesempatan selanjutnya!

Comments

Popular Posts