Queer


Queer. Mungkin banyak yang belum pernah mendengar istilah ini. Bahkan mungkin yang sudah terpapar dengan isu gender dan seksualitaspun belum tentu memahami apa yang disebut sebagai Queer, termasuk  saya. Selama ini, saya hanya mengetahui tentang LGBTI namun belakangan sayaa baca di jurnal-jurnal kok ada LGBTQ. Saya mulai kebingungan apa kepanjangan dari huruf Q dibelakangnya yang pada akhirnya saya ketahui bahwa Q-nya  itu merupakan kependekan dari Queer. Ini baru yang sudah terpapar sama isu seksualitas lho ya, apalagi yang belum sama sekali terpapar dengan isu gender dan seksualitas, pasti masih memandang bahwa aspek gender dan seksualitas merupakan sesuatu yang biologis dan kodrati yang tidak bias ditawar lagi. Bagi teman-teman yang sudah memahami tentang identitas seksual seperti gay dan lesbian mungkin akan lebih mudah untuk mempelajari hal ini, tetapi berbeda halnya dengan teman-teman yang belum memahami identitas seksual. Boleh kok diskusi soal ini bagi teman-teman yang pengen belajar lebih mendalam tentang identitas seksual, kita sama-sama belajar hehe 

Sebagai kajian yang relative baru, kajian Queer ini masih awam bagi banyak kalangan di Indonesia. 

Menurut Wikipedia, Queer adalah istilah payung untuk minoritas seksualyang bukan heteroseksual, heteronormattif atau biner gender. Istilah ini mengundang kontroversi karena pada dua decade sebelumnya, istilah ini merupakan epitet anti-gay. Beberapa kaum LGBT juga tidak menyetujui istilah Queer karena dianggap menyinggung. Ada pula yang menhindarinya karena dikatakan bahwa istilah ini terkait dengan radikalisme politik. 

Dalam definisi bahasa inggris secara harfiah, Queer berarti homo, aneh, ganjil, merusakkan atau orang aneh. Istilah Queer pertama kali digunakan untuk mengartikan ‘homoseksual’ pada akhir abad ke 19; apabila digunakan oleh orang-orang heteroseksual awalnya merupakan istilah agresif untuk menghina Pada 1980an, namun beberapa orang gay mulai sengaja menggunakan kata Queer untuk menempatkan gay dan homoseksual untuk mencabut kekuasaan negative. Queer juga memiliki konotasi yang lebih luas, yang berkaitan tidak hanya untuk homoseksualiras tetapi juga untuk setiap orientasi atau jenis kelamin seksual yang tidak sesuai identitasnya dengan norma yang dianut heteroseksual. Penggunaan netral Queer sekarang sudah banyak digunakan, terutama sebagai kata sifat atau kata benda pengubah, disamping penggunaan menghina. 

Frase ‘Queer’ sendiri berawal dari pemikiran Teresa de Lauretis pada awal tahun 1990 saat memilih judul presentasi dalam sebuah konferensi yang dikoordinasikannya untuk mengacaukan kepuasan diri dari kajian lesbian dan gay. Sebagai kajian interdisipliner, kajian ini digunakan untuk mempertahankan misi yang mengacaukan, seperti yang ditunjukkan oleh de Lauretis dalam presentasinya. Dalam presenyasi tersebut, beliau mengacaukan definisi lesbian dan gay sehingga definisi tersebut dapat keluar dari kotak kaku dalam mendefinisikan gender dan seksualitasnya, menggoncangkan makna, kategori dan identitas diantara gender dan seksualitas yang terkotak dalam identitas lesbian dan gay. Pemikiran ini kemudian disokong oleh Judith Butler dalam mengelaborasi cara-cara dimana kategori tersebut dinormalkan oleh wacana hegemoni kebudayaan yang dominan. Dalam pandangan feminis, gender adalah konstruksi sosial sedangkan seks adalah sebuah fenomena biologis yang tidak bisa diubah. Pandangan ini berbeda dengan pandangan de Lauretis dan Butler yang melihat keduanya, baik seks maupun gender sebagai sesuatu yang cair dan bisa diubah. Seks adalah konstruksi ideal yang termaterialisasikan secara paksa melalui waktu (Butler, 1993:13. Karenanya Butler melakukan dekonstruksi terhadap ‘seks’ dan mendemonstrasikan batas diskursifnya. Tidak hanya berpengaruh kepada teori performa dari identitas tetapi juga pada area yang dikenal sebagai teori Queer yang dalam hal ini menggunakan konsep ‘termaterialisasikannya tubuh’ melampaui konsep ‘terkonstruksinya seksualitas’, bahwa tubuh bukan sekadar plat yang kemudian diatasnya bentuk gender dan seksualitas. 

Teori Queer berakar dari materi bahwa identitas tidak bersifat tetap dan stabil. Identitas bersifat historis dan dikonstruksi secara sosial. Dalam konteks teori, dapat digolongkan sebagai sesuatu yang non normative atau non essensialis. Dalam teori ini terdapat tiga makna intelektual dan politik, meskipun sulit membuat batasan-batasannya, teori Queer juga dikenal sebagai teori antinormatif, anti kategori dan antidominan.
David Halperin menjelaskan Queer sebagai ‘apapun yang non normative jika dikaitkan dengan yang normative, sah dan dominan. Tidak ada suatu yang khusus yang ditunjukkan olehnya’. Queer menunjukkan posisi kita jika dikaitkan dengan normative. Menurut teori ini, ibu tunggal atau hidup tanpa pasangan bisa dikatakan Queer walaupun mereka heteroseksual, mereka tidak mengikuti praktik heteronormatif dalam kaitannya dengan pernikahan. Hal ini menjadikan Queer memenuhi labelnya dengan menolak meletakkan identitas. Sulliban mengatakan ini merupakan kajian dengan perbedaan.
Teori Queer mencoba mengganggu ‘kategori’ identitas dan seksualitas agar menjadi konstruksi sosial yang diciptakan dalam wacana daripada kategori yang biologis dan esensial. Teori Queer berakar dari materi bahwa identitas itu tidak bersifat tetap dan stabil. Identitas bersifat historis dan dikonstruksi secara sosial. Teori Queer juga dikembangkan oleh Judith Butler melalui pemikirannya mengenai gender dan performativity. Bagi Butler dan berbagai pemikir teori Queer, konstruksi gender dan seksualitas mengalami fluktuasi, mengembangkan produksi atau penampilan daripada kategori yang mendasar, stabil dan tidak berubah.
(Disadur dari berbagai sumber)

Comments

Popular Posts