Wisuda?
Beberapa waktu lalu feed facebook saya penuh dengan foto teman-teman yang sudah wisuda. Predikatnya cummlaude dan mereka berfoto bersama dengan keluarganya. Untuk beberapa saat, saya merasa down karena beberapa teman di kampus saya sendiri dudah judicium dan tinggal menunggu masa wisuda, sedangkan saya baru beberapa waktu lalu memasuki tahap seminar proposal, yang artinya masih ada tahap penelitian, seminar hasil dan ujian skripsi yang menunggu saya didepan. Dapat dipastikan saya tidak bisa diwisuda untuk pertengahan tahun ini, minimal menjelang akhir tahun ini, karena untuk penelitian saja (menurut pengalaman orang yang saya dengar) bisa memakan waktu sampai 3 bulan, dan apabila saya mulai penelitian pada bulan Mei maka dapat dipastikan saya tidak bisa diwisuda bulan Juni nanti. Benar-benar melenceng dari target awal saya, dan saya tidak punya pilihan lain selain diwisuda antara bulan September dan Desember, itupun kalau saya bisa selesai. Sesaat saya mulai berpikir, apakah karena saya yang terlalu banyak main-main karena seharusnya saya sudah mulai mengurus proposal penelitian sejak maret tahun lalu tetapi saya malah baru mulai September tahun lalu, saya terlalu banyak mengurus hal lain sehingga saya lupa kewajiban utama saya, atau mungkin memang saya yang malas untuk menulis (saya tipe orang yang moody kalau dalam hal menulis). Saya juga mulai flashback, memeriksa apa yang salah dari diri saya, atau apa kelebihan mereka hingga bisa duluan, dan apa yang saya punya. Saya teringat kata seorang pensiunan dosen yang pernah menceramahi saya di meja receptionist fakultas waktu itu, saat saya sedang mengurus KRS. Katanya banyak dosen wali yang tidak memberikan dukungan kepada mahasiswanya untuk mengambil mata kuliah di semester selanjutnya, diatas semesternya padahal hal tersebut bisa mendorong mahasiswa agar bisa cepat selesai kuliah. Apa itu saja masalahnya? Hanya karena SKS? Rasanya tidak. Karena kalau mau dilihat kembali, mata kuliah yang saya ambil tidak ada yang mengulang, dan apabila masalahnya adalah SKSnya ‘perpaket’ di semester awal, artinya kami bisa selesai bersama.
Saya lalu menghitung kemungkinan factor lain, saya terlambat memulai dan tingkat kesulitan referensi yang saya dapatkan karena pembahasan yang saya ambil terhitung baru di Fakultas saya dan kesibukan saya sebagai anak yang hidup di organisasi (saya belum berani menyebut diri saya aktivis hihi) dan saat itu sedang sibuk-sibuknya menjelang kahir kepengurusan saya di KOHATI kemudian saat itu juga saya mulai merasa jenuh dengan kuliah sehingga saya merasa mulai malas untuk mengurus kuliah. Apalagi pada saat-saat itu, kesempatan mulai berdatangan. Saya ditawari ini itu, ditambah dengan KKN sehingga saya mulai kehilangan orientasi. Jadi sibuk disana sini, hari ini kesana esok kesitu dan begitu terus sampai akhirnya saya benar-benar butuh perbaikan orientasi sampai saya dengar salah seorang teman sudah menjalani tahap seminar hasil proposal. Saya langsung frustasi saat itu dan baru memulai di akhir semester, pasca KKN dan karena moody, akhirnya proposal saya baru dapat diseminarkan pada April lalu. Saya kira saya sudah menemukan masalahnya, dan tinggal berusaha yang terbaik untuk mempercepat proses. Sekarang, setelah saya tau permasalahannya, sisa kegalauan yang ada dalm pikiran saya. Teman-teman sudah mulai diwisuda dan saya baru dalam tahap pertama, belum ada apa-apanya. Sudah mulai ditanyai kapan selesai kuliah, dan saya masih sibuk dengan magang (as you know, sekarang saya lagi magang di salah satu LBH di Kupang, bukan magang karena perintah kampus, tapi karena saya tertarik untuk belajar di LBH ini karena cara kerjanya yang beda) saya juga harus menyesuaikan dengan kampus dan jam biologis saya, apalagi pada masa-masa ini banyak kesempatan yang berlalu lalang di hadapan saya, meminta untuk di ‘approve’ tapi segera hilang ketika saya ingat kalau saya sedang magang dan ada target yang harus saya capai, apalagi uang bukan orientasi saya sepenuhnya. Hihihi
Karena kegalauan saya tadi, saya juga mulai menghitung kelebihan dan kekurangan yang saya miliki apabila dibandingkan dengan orang yang kuliahnya selesai lebih dahulu dari saya. Ini karena dalam beberapa kesempatan, saya melihat ada beberapa orang yang mementingkan ‘nilai dalam mata kuliah’ dan ‘yang penting cepat selesai’ tanpa memperhatikan prosesnya. Saya mulai menghitung pengalaman dan keadaan antara saya dan mereka, dan apa orientasi kami. Apakah ilmu, nilai, gelar, yang penting cepat atau pengalaman yang sepertinya lebih baik jadi konsumsi saya pribadi. Hehe
Intinya, melihat teman wisuda itu bukan akhir dari dunia kita. Teman wisuda bukan berarti kita bodoh atau kita pemalas karena tidak bisa diwisuda bersamaan dengan mereka. Bukan berarti kuliah, berakhir, dunia kiamat dan kita juga akan mati. Tidak perlu galau berlebihan saat melihat teman wisuda karena proses yang saya, kamu, dia dan mereka hadapi, dan juga orientasi kita berbeda. teman diwisuda duluan bukan berarti kita manusia yang tidak berbobot karena kuliahnya lama, nilai kita di setiap mata kuliah bukan menjadi jaminan akan kualitas diri kita. Mungkin saya dengan orientasi selesai kuliah bertepatan dengan selesai magang dan siap bekerja sesuai dengan minat dan ilmu yang saya pelajari lalu mengejar jenjang pendidikan selanjutnya, tapi mungkin kamu ingin cepat selesai dan mendapat gelar agar cepat pulang dan menjadi Guru untuk mengajar anak-anak di desa, atau pulang dan menjadi karyawan Bank. Dia mungkin ingin cepat selesai karena umurnya yang sudah sangat dewasa, atau mungkin ada tekanan dari pihak lain untuk cepat selesai. Mungkin mereka lambat selesai kuliahnya karena sibuk menjadi aktivis yang mengadvokasi kesana kemari, kegiatan disana sini dan lebih mendapatkan ilmu diluar dibandingkan hanya ‘memakan teori’ dikampus, atau mungkin dia sambil kerja sehingga tidak bisa mencurahkan dirinya secara penuh sebagai seorang mahasiswa. Mungkin orientasinya agar bisa cepat bekerja dan mendapatkan uang untuk membantu perekonomian keluarga dan sebagainya. Bayar mahar pernikahan mungkin. See? Kita semua punya orientasi dan cara menjalani kuliah, dan pengalaman yang berbeda yang tidak dapat disamakan antara satu dengan yang lainnya. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin, dan tetap punya orientasi, dan juga motivasi untuk segera menyelesaikan masa kuliah kita. Cepat atau lambat, masa kuliah tidak menentukan seberapa besar kualitas diri kita. Tapi pemikiran dan ilmu yang kita punya, menunjukkan kualitas yang kita punya sebagai manusia yang belajar. .

Comments
Post a Comment