Travel to Rote A la Freelancer

aloha!
hula hula hula hulaa
maaf baru muncul, masih disibukkan dengan bermacam kesibukan yang sok sibuk xixi
sudah lamaaaa sebenarnya pengen cerita soal Rote yang akhir bulan lalu saya kunjungi dalam rangka mencari sesuap nasi! tapi baru mood sekarang. *lebay

(perjalanan menuju Rote Ndao, menggunakan Ferry melewati pelabuhan Pantai Baru)

Kabupaten Rote Ndao atau singkatnya Rote merupakan kabupaten yang terletak paling selatan di Indonesia. Pulau terselatan di Indonesia itu pulau Dana atau Ndana ya, bukan Rote walaupun mereka berada dalam satu kabupaten. Pulau Dana sendiri dimanfaatkan sebagai pangkalan militer dengan cerita syerem soal pembantaian yang aka dibahas di lain waktu *nanti, saat ke pulau Ndana penuhi Undangan si Bapak yang menjadi tentara disana heheh

Di Kabupaten Rote Ndao, muslim merupakan minoritas. Hal ini saya sumpulkan karena keberadaan masjid yang hanya ada 2 di ibukota Kabupaten untuk seluruh kecamatan Lobalain dan kemungkinan juga Rote Tengah. Dalam beberapa kasus, kami agak kesulitan menemukan masjid di luar wilayah Ba'a.

subuh pertama di masjid Al-Ikhwan, Ba'a
gayaan dikit di masjid cagar budaya, An-Nur Ba'a. xixi

Jalur tempuh menuju Kabupaten Rote Ndao cukup mudah, bisa menggunakan kapal cepat dari pelabuhan Tenau menuju Ba'a (ibukota Kabupaten), melalui jalur pesawat dan juga melalui Ferry Bolok menuju Kecamatan Pantai Baru. Pantai Baru menuju Ba'a membutuhkan waktu sekitar 1 jam.




Kabupaten Rote Ndao menurut saya sangat eksotis. Laut masih alami yang tidak penuh sampah bisa ditemukan di banyak wilayah Rote, salah satunya adalah pantai Batu Termanu (kalau gak salah ya) yang ada di pesisir pantai kecamatan Rote Tengah. Sayangnya akrena kesibukan yang tidak memungkinkan untuk ditinggal saya jadi tidak sempat keliling-keliling lokasi wisata yang ada di Rote. hikssss

Bagi saya, Rote Ndao merupakan wilayah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Hasil laut yang bagus, pemandangan yang keren, pantai yang bersih dan yang paling menarik perhatian saya: Mercusuar! namun jam 10 malam ibukota kabupaten sudah sepiiiiiiiiii. Entah ya kalo di Nemberala karena Nemberala sudah terkenal dengan pantainya yang menantang untuk diajak surfing sama bule-bule. Sempat nih mau kesana, begitu kapal sandar kita langsung kesana dan ternyata jauh dan sudah sore, lampu motor tidak ada. Jadilah kembali ke Ba'a dengan hati hancur. "Mungkin belum rejeki," begitu penguatan hati saya hihi




di Dekranasda Rote juga dijual souvenir Batok Kepala 




Di Ba'a sendiri ada beberapa cafe di pinggir pantai namun masih juga belum ramai yes menurut saya karena selain di Dekranasda, cari oleh-oleh syusyaaahh dan yang ada paling hanya ditonjolkan Topi Ti'i Langga dan tenunannya, padahal lho ada icon seperti gedung kantor bupati dan Mercusuar yang besar dan keren. Gak ada souvenirnya yang angkat soal si Mercusuar itu hiks hiks. Selain itu, permasalahan kulit penyu yang dimanfaatkan warga juga menjadi persoalan lingkungan. Padahal ada ketentuan hukum yang melarang tetapi jual beli kulit penyu untuk aksesoris masih terus terjadi.




Ba'a merupakan potensi maksimal yang masih minimal pemanfaatannya. ada kuliner khas yakni bakwan kangkung dan rendang kangkung. Kami sempat mencoba bakwan kangkung dan memang enak tetapi membuat saya sendiri harus puasa makan kangkung hingga sekarang (saya sensitif dengan bau yang tajam. dalam kasus bahwan kangkung, aroma kangkung sangat menyengat bagi saya). memaksimalkan Rote dengan potensinya yang melimpah memang harus segera dilaksanakan. Potensi Pariwisata (bukan hanya di Nemberala) di wilayah lainnya, kuliner dan budaya.

Satu hal yang menjadi catatan adalah dalam pelosok, budaya patriarki masih sangat kuat di wilayah Kabupaten Rote Ndao. Dari survey yang kami lakukan juga sempat menyinggung isu gender dan semuanya dijawab dengan penolakan terhadap pemimpin perempuan, bahkan ada juga perempuan yang menolak karena menganggap perempuan tidak mampu untuk bekerja.
saya tadi sempat singgung soal cafe yes? ini dia, cafe yang menurut saya paling keren di Ba'a karena bisa lihat sunset dan mercusuar. hihi
Cafe 777, terletak di jalan menuju Mercusuar melalui tanggul pantai. actually ada beberapa cafe yang ada di lokasi ini, namun hanya ada 2 yang buka dan sebelahnya tidak punya tempat lebih tinggi sehingga kelihatan seperti cafe biasa yang ada di Kupang. selain itu, pemilik cafe ini juga ramah. gak rugi lah main ke cafe ini! Cafe ini jadi tempat buat 'escape' buat beresin kerjaan ato sekadar hadapi bosan karena kebiasaan di Kupang yang selalu ramai. waktu itu juga tahu kalo tempat souvenir hanya ada di Dekranasda dan di wilayah 'letter S' dari pemilik cafe ini. Ternyata kita punya pandangan yang sama: jangan beli souvenir dari kulit penyu. Belakangan saya juga mulai tergoda sih dengan kulit penyu ini, tapi apalah daya yes, prinsip harus teguh dipegang atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab! haha
t
 


Focus ON ME!
Kantor Bupati Rote Ndao yang dibangun juga mengangkat arsitektur Ti'i Langga sebagai budaya Asli Rote yang terkenal dimana-mana sebagai topi khas para To'o (om, laki-laki Rote). Ti'i Langga ini oleh-oleh yang sangat ramai dibawa kalau orang baru pulang dari Rote. Saat saya mau beli ehh malah Dekranasda masih tutup xixi
Jadilah pulang dengan tangan kosong. Padahal rencananya juga pengen cari tumbuhan khas sana buat jadi cenderamata hidup tapi semua pada gak sempat karena sibuknya minta ampyun









semoga saat kami datang lagi, Rote sudah lebih maju dari hari ini.




salah satu spot di desa Holoama, Lobalain. Wilayah kerja saya dan partner selama beberapa hari


Dalam perjalanan pulang yang hebohnya minta ampun karena banyak mahasiswa yang baru menyelesaikan masa KKNnya dan insiden orang yang melompat ke laut (mungkin) karena tidak sadar kapal sudah berangkat.


Comments

Popular Posts