Ibu, Madrasah Pertama Bagi Anak. Bapaknya Ngapain, tuh?

Ya, sering sekali kita mendengar ibu sebagai sekolah pertama bagi anak, ibu sebagai madrasatul ula, ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Bukan hanya oleh perempuan, peran tersebut juga diaminkan oleh para laki-laki.

Saat membuat tulisan ini, saya sedikit takut akan dicap menjadi perempuan yang terlalu liberal, tidak memahami posisi dan fungsi dalam keluarga, feminis radikal, tidak paham agama dan sebagainya. Tetapi jargon ibu sebagai sekolah pertama bagi anak ini terus mengganggu saya, hingga akhirnya membuat saya mantap untuk menulis disini, apapun resikonya. Toh ini juga blog pribadi saya :-P

Menurut saya pribadi, ada yang salah dengan jargon ini. Hal ini menjadi salah karena hanya ibu yang menjadi sekolah pertama bagi anak, padahal sering digaungkan juga adalah tugas keluarga untuk mendidik anak menjadi lebih baik. Dari jargon ibu sebagai sekolah pertama anak, saya tidak menemukan peran bapak disini. Kenapa? Padahal bapak juga seharusnya bersama ibu untuk mendidik anak menjadi manusia yang ‘lebih manusia’. Bapak juga memiliki peran dalam mendidik anak.

Saya juga membaca beberapa referensi sebelum menulis ini. Katanya, seorang perempuan adalah ibu yang berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di sekolah manapun. Katanya perempuan harus berpendidikan tinggi, kecerdasan anak diwariskan 1 kromosom dari ibu, dan akhirnya saya beranggapan bahwa dengan pandangan seperti saya sebutkan sebelumnya maka akan mendukung pernyataan ibu sebagai madrasah pertama menjadi hal yang mutlak. Saya lalu mencoba untuk mencari informasi melalui mesin pencarian di google dengan keyword ‘ibu sebagai sekolah pertama bagi anak, bapak sebagai sekolah pertama bagi anak.






Dari hasil pencarian saya, memang lebih banyak menonjolkan ibu sebagai sekolah pertama anak. Namun, ada website yang menyatakan bahwa bapak sebagai kepala sekolah, dan menyebutkan bahwa keluarga merupakan pendidik pertama. Hal ini sedikit melegakan saya, karena ternyata masih ada yang ‘sedikit’ memperhatikan peran bapak dalam proses pendidikan anak di rumah walaupun memang tidak dijelaskan secara rinci dan gamblang.

Lalu, kenapa saya mempersoalkan hal ini?

Berbicara mengenai pengasuhan anak, tentu tidak hanya dibebankan kepada ibu, termasuk proses mendidik anak. Dalam proses pendidikan anak, paling tidak peran bapak juga harus dibicarakan karena bapak pun memiliki peran yang besar dalam mendidik anak. Ibu dan bapak memiliki peran bersama dalam proses pendidikan anak sehingga tidak bisa hanya ibu yang menjadi sekolah pertama bagi anak, walaupun anak lahir dari Rahim seorang perempuan dan terlepas dari ibu sebagai IRT.

Pengkotakan peran dalam teori gender

Kita tahu bahwa dalam kesetaraan gender, perbedaan antara laki-laki dan perempuan hanya dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya. Semua pekerjaan bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, sesuai dengan kemampuannya. Termin ibu sebagai sekolah pertama bagi anak, menurut saya merupakan pengkotakan peran sehingga meminggirkan bapak sebagai salah satu pemegang peran utama dalam proses pendidikan anak. Termin ibu sebagai sekolah pertama bagi anak juga menjadikan pengkotakan peran sehingga bapak seolah bukan sebagai pendidik (juga) bersama ibu dalam keluarga.

Pengkotakan peran merupakan pembakuan tugas antara laki-laki dan perempuan, dimana hal tersebut diharuskan untuk dilakukan oleh salah satu jenis kelamin saja, padahal hal tersebut bisa dipertukarkan. Beda konteks dengan kodrat yang sama sekali tidak bisa dipertukarkan karena merupakan anugerah dari Tuhan yang Maha Esa.


Merujuk pada kluster Equilibrium, kesetaraan gender menekankan pada hubungan kemitraan sehingga harus memperhatikan masalah kontekstual dan situasional. Konteks sebagai pendidik anak, dapat dilihat dalam masyarakat sudah ada Bapak Rumah Tangga atau bahasa kerennya househusband, stay-at-home-dad. Bapak rumah tangga di sini juga berperan untuk mendidik anak selama ibu bekerja di luar rumah. Kita tidak dapat mengabaikan hal ini, karena hal ini sudah terjadi dan tidak dapat dipungkiri bahwa ibu sebagai madrasah pertama bagi anak bukanlah hal yang mutlak. 

Termin ibu sebagai sekolah pertama bagi anak menurut saya harus diperbaiki menjadi keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak, karena selain mengkotakkan peran antara laki-laki dan perempuan sebagai orangtua si anak, juga merugikan laki-laki karena dianggap bukan sebagai pendidik pertama bagi anak. Peran ibu dan bapak seharusnya berada dalam posisi yang setara dalam proses pendidikan anak, bukan hierarkis ibu sebagai sekolah pertama bagi anak dan bapak adalah kepala sekolahnya yang bertugas untuk menentukan kurikulum keluarga dan mengevaluasi visi dan misi keluarga. Selain memberikan beban lebih dan tidak melibatkan perempuan dalam menentukan kurikulum keluarga serta melakukan evaluasi, laki-laki juga menjadi berkurang kesempatannya untuk memberikan pendidikan kepada anak karena pengkotakan peran tersebut. Bapak hanya seolah hanya memiliki peran di ranah public, tetapi minim peran di ranah domestic sehingga waktu berkualitas bersama anak juga menjadi sedikit, lebih banyak ke ibunya.

Kesamaan peran ibu dan bapak dalam proses pendidikan pertama dalam kehidupan anak dapat mendorong kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki, serta membuat perkembangan anak menjadi lebih baik lagi karena di didik oleh keluarga yang lengkap menjadi pribadi yang baik ibu dan bapak memiliki peran yang sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak sebagai pendidik pertama dalam kehidupan anak.

Yang laki-laki, masih mau mengaminkan peran pendidik pertama ada pada perempuan?


Comments

Popular Posts