3. Menahan Rindu yang Menyeruak

Ah, entah apa lagi yang ingin kusampaikan padamu hari ini. Mengirimimu pesan setiap hari rasanya tak cukup untuk membendung rindu ini. Ingin aku menelepon, tapi aku tak punya keberanian sedikitpun untuk meneleponmu. Akupun takut mengganggumu di sela kesibukanmu, dengan siapapun itu. Aku tak ingin menyebut dia, karena kaupun tak ingin membahasnya.

Tahukah kau?

Aku benar-benar merindukanmu hari ini. Panas matahari ini belum mampu melelehkan rindu, rasa dan penyesalanku yang membeku di sudut kamarmu dalam hati ini. Ingin kudekatkan dengan api agar meleleh dan hancur, tamun tak jua. Mungkin harus kau sendiri yang datang dan melelehkannya untukku.
Rindu ini rasanya nano-nano. Manis, asam, asin dan bagiku ada rasa pahit dan juga sakit. Rasa yang kusebutkan itu, menggali lubang yang sangat dalam dihatiku seperti sedang mencari tambang minyak di dasarnya. Setiap kali mereka menggali, hatiku rasanya sakit namun aku masih harus bertahan dengan semua rasa itu lalu membiarkan kau pergi demi bahagiamu.

Ingin rasanya aku langsung pergi ke kotamu, dan memelukmu untuk melepaskan rindu ini, tanpa harus menjaga jarak. Aku datang dan langsung memelukmu tanpa khawatir ada hal yang kurang. Namun aku sadar, itu tak mungkin. Aku hanya mampu lari menjauh dan menahan kesakitan. Kau, kau tak akan mungkin datang. Tak ada alasan bagimu untuk datang, bukan pula aku.

Akhirnya karena jarak yang ada, aku hanya bisa membaca pesan lamamu, menatap nomormu dan foto-fotomu yang kucuri dari media sosialmu. Iseng kukirim pesan, untuk menyapa dan membuang-buang pulsa dan berharap kau membacanya tanpa ada rasa rindu yang tersampaikan. Biarkan saja dia tertahan di dalam dada. Mungkin dia akan terkubur dengan sendirinya, atau terobati dengan sendirinya, seiring perjalanan waktu.


*dari perempuan yang merindukanmu

Comments

Popular Posts