9. Lagu Favoritmu

Pada pertemuan singkat kita setelah perpisahan yang lama di sudut kota, kau bertanya kepadaku kenapa aku tak pernah kembali ke kota ini. Selalu kujawab sibuk dan banyak pekerjaan. Bahkan aku bercanda bahwa aku tidak memiliki uang untuk kembali ke sini. Mungkin karena aku lebih tak ingin memperpanjang cerita tentang hal itu. Saat itu aku masih berusaha untuk meninggalkan semua kenangan kita di kota ini. Aku pergi dari kota agar bisa meninggalkan semua kenangan kita disini. 

Sayangnya, ternyata aku tak mampu untuk meninggalkan semua dan akhirnya aku kembali lagi ke kota ini untuk mencarimu.

Dan kali ni aku akan jujur padamu dan diriku sendiri. Sejujurnya, aku tak berani. Tak berani berada di sudut-sudut kota ini, kota yang kusebut sebagai kota kita. Di kota ini, kenangan kita seperti udara yang ada dimanapun. Aku takut akan kembali merindukanmu, yang sudah tak mungkin lagi untuk aku miliki.

Setiap kali aku kembali ke kota ini, aku selalu kembali ke tempat dimana kenangan kita tertinggal. Kembali ke tempat kita pertama kali bertemu, ke lapangan basket depan sekolahku –tempat kau biasa bermain dulu-, tempat kita sering makan bersama, tempat dimana kau nyatakan cinta dengan cara yang lucu, dan jembatan di belakang komplek rumahku; tempat kita biasa bertemu saat kau lari dari tempat kerjamu, dan ah, ya, di kolong jembatan itu adalah tempatmu pertama kali menyatakan perasaan namun waktu itu kuanggap hanya bercandaan. Aku selalu kembali menyusuri jalan menuju villa yang pernah kita datangi bersama, golo curu yang bagiku identik denganmu dan setiap jalan yang oernah kita lewati berdua. Sengaja aku lewat di depan rumahmu dulu, mungkin saja kau masih tinggal disana dan sedang berdiri di depan pintu; aku bisa melihatmu untuk mengobati rindu ini.

Menyusuri tempat-tempat itu dengan mendengarkan lagu-lagu dari The script, band yang kita sukai waktu masih bersama. masihkah kau sukai band itu? –aku masih mendengarnya untuk menjaga agar kau tetap hidup dalam benakku. Ah, ya, tahukah kau patung komodo itu masih ada di tempatnya hingga kini?

Dengan aku kembali ke kota ini, aku bisa sangat leluasa untuk merindukanmu. Kepalaku penuh olehmu. Kepalaku penuh olehmu yang taka da dan tak bisa bersamaku. Dan itu membuatku frustasi.

4 tahun berlalu, aku masih takut untuk kembali ke kota ini untuk berdamai dengan kenanganmu. Aku takut aku masih sama seperti sebelumnya, mencarimu di setiap sudut kota; di rumahmu, di kantor lamamu, di setiap rumah temanmu yang kuketahui, di golo curu, di sawah selada, Bangka tuke dan setiap jalanan kota ruteng-walaupun ku tahu kau sudah taka da disana.


Mungkin aku akan kembali ketika semua kenangan kita yang masih melekat bisa terlepas sepenuhnya- apakah kau sudah melepaskannya? Beritahu aku caranya-melupakan kau dan semua kenangan kita. Membiarkan udara kota yang penuh dengan kenangan ini masuk ke paru-paru namun sudah tidak membakar dada dan menyakitkan hati. 

Comments

Popular Posts