6. Harapan
Aku teringat pembicaraan kita di tengah malam, dulu
sekali. Aku yang sangat manja, memintamu untuk berjanji agar kita akan terus
bersama, hingga tujuh tahun kedepan, hingga akhirnya kita bisa benar-benar
bersama.
Kau hanya bilang ‘tidak usah berjanji, cukup
berharap. Sejauh apapun kita, sebesar apapun masalah kita nanti, walaupun kita
berpisah, di ujung jalan nanti kuharap kau ada disana’. Aku langsung terdiam.
Tak tahu mau berbicara apa. Dalam benak, terbayang gelombang besar yang akan
menerpa, cepat atau lambat.
Akhirnya aku menyadari, membuatmu berjanji artinya
meminta hal yang sangat muluk darimu. Kuiyakan saja katamu waktu itu.
Hingga saat kita terpisah, masih kuingat selalu
harapan itu, berharap mungkin akan menjadi kenyataan walaupun kita sudah
terpisah sangat lama. Dan semesta akhirnya mendukungku untuk datang padamu,
berdiri di ujung jalan yang kau maksud itu. Namun ternyata kau sudah berpaling,
kau sudah taka da di jalan itu, persis di tahun ke tujuh kau sampaikan harapan
itu padaku. Katamu, aku terlalu lama sehingga kau memilih untuk menjalani
hidupmu sendiri, tak lagi menunggu dan berbagi hidupmu dengannya.
Maafkan aku. Seandainya aku datang lebh cepat, kau
mungkin masih berada di ujung jalan ini. Seandainya kau menungguku sedikit
lagi, mungkin kita akan bersua di ujung jalan ini. Pun Bagiku, Tak mudah untuk
kembali ke jalan ini, mendapatkan dukungan semesta untuk melepaskan semuanya
dan kembali padamu. Butuh waktu bagiku untuk menyadari bahwa tak segera kembali
padamu adalah hal yang salah dan menyakitkan. Butuh keberanian untuk melepaskan
segalanya dan mengikhlaskan semua perbedaan kita untuk menyatu denganmu.
Berbahagialah. Maafkan
aku yang lambat ini.

Comments
Post a Comment