Masa Lalu



memaafkan diri sendiri
.....
setiap orang pasti punya masa lalu. masa lalu yang ingin dikenang, dan masa lalu yang ingin dilepaskan.

ada kenangan yang baik, dan ada kenangan yang buruk.
ada kenangan yang terkadang, bila diingat akan membuat kita tersenyum bahagia, dan ada juga kenangan yang membuat kita marah, sedih, uring-uringan dan mempersalahkan diri sendiri.

Pernahkah kamu mengalami hal itu?
Kenangan apa yang kamu alami?

Aku ingin cerita tentang salah satu kenanganku yang mengganggu hingga saat ini. Kenangan ini bukanlah sepenuhnya kenangan yang baik, dan bukan pula sepenuhnya kenangan yang buruk. Belum pernah kuceritakan kepada orang, karena tidak ada satupun orang yang cukup kupercaya untuk menceritakan hal ini. Tidak juga kamu. Kenapa? Aku punya masalah pribadi soal kepercayaan. Sejak kecil, aku selalu mempercayai orang namun orang selalu menghancurkan aku dengan kepercayaanku itu, dan sejak saat itu, aku tidak pernah terlalu banyak membicarakan soal diriku kepada orang lain. aku tidak cukup percaya pada manusia. Pada siapapun, termasuk orang terdekatku.

Aku lalu mencoba untuk menulis. Tapi ternyata menulispun mengecewakanku. Bukan dia sebenarnya yang mengecewakan. Tapi selalu manusia, manusia dan manusia. Hingga aku muak dan memutuskan untuk memendam semuanya, dan berujung pada rasa sakit yang memuat dada selalu terasa berlubang. Aku terlalu kecewa pada manusia untuk menceritakan sesuatu. aku cenderung tidak menyukai sifat manusia yang tidak mampu mengunci mulutnya dan membuka lebar telinganya. Termasuk diriku sendiri yang manusia. Aku sadar, bahwa memang begitulah manusia. Tapi aku masih cukup ‘membandel’ mengharapkan adanya manusia sempurna untuk mendengarkan semua cerita yang menjadi penggali lubang dalam dada ini. Aku muak.  Aku terlalu takut dengan tatapan mata yang menghakimi saat aku menceritakan sesuatu, aku terlalu tak suka pembicaraan yang terpotong dan aku muak dengan nasihat yang mengguui seolah mereka paling paham apa yang aku rasakan.
Pada Tuhan?

Tuhan adalah entitas sempurna untuk mendengarkan apapun yang aku bicarakan tanpa membocorkan satupun rahasiaku. Tapi bukankah Ia sudah mengetahui segala sesuatu yang ada padaku dengan sifatNya yang maha mengetahui itu? Lalu, kalau Ia sudah mengetahui, lantas apa lagi yang perlu kuceritakan? Apa lagi yang perlu aku keluh kesahkan padaNya? bukankah Dia sudah melihat aku hingga isi dalam hatiku? Dia tahu sedalam apa lubang yang sudah ada dalam hatiku, Dia tahu apa yang sudah aku lewati, dan Dia paling tahu apa yang ingin aku bicarakan saat ini, tapi masih terganjal dengan masalah percayaku sendiri. Lagipula, aku tidak terlalu dekat denganNya. Aku terlalu malu untuk berhadapan denganNya. Aku merasa tidak pantas.

Sesungguhnya, aku muak pada diriku sendiri. aku muak menulis dengan kiasan, muak menulis dan ada yang menghakimi, muak karena harus bersembunyi di balik senyum palsu, muak dengan kata-kata bagus yang pernah kutuliskan. Aku muak.

Aku hanya ingin menulis apa yang ada dalam pikiranku tanpa harus memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang aku. Aku muak dengan ikatan ‘menjaga perasaan’ yang ada dalam setiap relasi manusia. Aku muak dengan bicara yang sok manis hanya demi menyenangkan orang lain. aku muak dengan pesan, kalimat dan perasaan yang aku terima saat mereka tidak menyukai apa yang aku tulis. Aku muak harus menjaga perasaan orang lain ketika ingin menulis apa yang ingin aku tulis. Aku muak dengan hubungan-hubungan sejenis ini. Tapi sialnya, aku membutuhkan hubungan ini untuk mempertahankan aku menjadi manusia. Aku membutuhkan hubungan ini untuk mempertahankan aku tetap waras dan mampu mengendalikan diri. Aku sadar, ketika aku terlepas dari hubungan yang sial ini maka aku akan menjadi manusia tak terkontrol. Dan itu akan membuatku menjadi manusia yang bukan manusia lagi.

Kenapa aku sebenarnya?
Muak pada diri sendiri. kurang lebih begitu.


Sepertinya tak akan kubicarakan lebih dalam soal kenangan tadi. hal itu hanya akan membuatku kecewa lebih dalam lagi. Pada semuanya. Mungkin kali ini hanya akan kuceritakan tentang perasaanku soal kenangan ini.

Kenangan ini mungkin menjadi salah satu kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan dalam hidupku, dan membuatku menyesalinya seumur hidup. Kenangan ini membuatku bermasalah dengan hidupku yang sekarang karena kenangan ini ternyata tidak menghilang bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Sepertinya sisa dari kenangan ini terbawa sampai sekarang.

Jadi, apa masalahnya?

Masalahnya adalah aku kesulitan melanjutkan hidupku yang sekarang karena kenangan ini memuatku masih bergantung pada masa lalu. Kenangan ini mengontrolku untuk melakukan hal yang seharusnya sudah tidak bisa: mengembalikan sesuatu yang sudah tidak mungkin kembali karena sudah menghilang. Aku melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan untuk mengembalikan kenangan itu, mengubah masa lalu menjadi masa kini dan masa depan. Dan kau tahu, hal itu gagal total dan membuatku terpuruk.

Aku jatuh cukup dalam dan merugikan diriku sendiri. Membuatku bermasalah dengan mentalku, membuatku bermasalah dengan kesehatanku sendiri, dan juga membuatku bermasalah dengan masa sekarangku. Dan aku cukup terganggu dengan hal ini.

Semoga akan membaik.

Comments

Popular Posts