4. Cerita di Sudut Pandang yang lain

Ada yang bilang, dalam proses melepaskan itu melalui 4 tahap. Tahap yang pertama adalah kesedihan mendalam yang membuat terus menangis dan mencari-cari. Tahap kedua, kemarahan. Tahap ketiga menerima dan tahap keempat adalah melepaskan.

Aku sudah melewati tahap yang pertama. Aku menangis tersedu saat tahu kau telah menyerah padaku, tak ingin kucari dan saat kutemukan kau tak ingin pulang bersamaku.

Aku mencarimu kemana-mana, ketempat yang kita permah datangi, menghubungi nomormu yang sudah tak lagi kau pakai -yang sudah kutahu tak bisa tapi masih kuharap kau merespon dan bersedu sedan sepanjang waktu. Sudah kulewati itu.

Aku telah memasuki tahap kedua. Kemarahan.
Kemarahan karena kau tak kunjung membalas pesan yang kutinggalkan, nomormu tak aktif saat kutelepon, dan semua sajak rinduku tak ada yang kau baca. Aku marah pada pada perbedaan kita, aku marah pada keluargamu yang membenciku karena kekuranganku, aku marah pada perempuan yang sedang kau gandeng tangannya, karena dia membuat kau nyaman dan tak ingin pulang padaku. Aku marah pada keadaan dan aku marah pada jarak yang memisahkan kita. Aku marah pada keputusanku di masa lalu untuk lari darimu, aku marah karena aku terlambat mencarimu, dan aku marah karena kau menyerah padaku, tak lagi menungguku.

Ingin rasanya kumaki semua yang ada, memarahi setiap orang yang pernah berkontribusi memisahkan kau dan aku. Aku ingin mengumpat semua hal yang berhubungan denganmu, membenci semua hal yang terkait dengan kau. Atau apapun yang bisa membuatku teringat padamu. Ingin rasanya kumaki mereka, kumarahi mereka dan menyampaikan semua rasa benciku di hadapan mereka yang membuat kita terpisah. Aku sangat marah pada apapun tentangmu, tentang hujan, dan kau dalam benakku.
Dan aku bertahan dari tahap itu.

Aku juga telah melalui tahap yang ketiga. Tahap dimana aku harus menerima, bahwa kau telah pergi dan memilih orang lain untuk menjadi pusat semestamu. Aku telah menerima bahwa mungkin memang bukan aku yang pantas menjadi pusat semestamu. Aku hanya bisa menerima bahwa memang, aku tidak bisa memaksa kita bersama -mungkin lebih tepatnya egoku. Aku mulai merelakan kau untuk pergi, dan untukmu, aku tak mengejar lagi. Merepotkanmu dengan segala gangguan dariku, seperti sebelumnya.

Dan kini aku telah pada tahap yang terakhir; melepaskanmu. Melepaskanmu dari segala aku, segala inginku. Aku mulai menata hatiku untuk melanjutkan hidup, sendirian. Mungkin saja aku akan menemukan potongan dirimu diluar sana. Mungkin saja. Tapi aku telah bertahan hidup dari segala kekacauan diriku. Kau telah menjadi biasa saja bagiku. Aku sudah melepaskanmu. Aku sudah marah dan menerima keadaanmu, juga keadaanku.
--
Jangan lagi datang, aku sudah bersusah payah untuk hidup dari semua ini. Jangan buat aku harus melewati tahap ini lagi. Aku lelah, dan tak ingin mengalami ini lagi.

Comments

Popular Posts