Menjadi Ekspresif demi Kesehatan Mental
Semalam sempat kaget berat karena ada seorang kawan yang sms: "Kiki, saya pengen mati." Auto panik ya kannn gimana kalo anak ini kenapa2, gimana kalo bunuh diri, gimana nanti kalo polisi liat recordnya nemu sms ke saya, gimana saya nutupin rasa bersalah saya kalo beneran anak ini bunuh diri, bla bla bla
Pikiran2 yang overthinking itu bukan tanpa alasan sih sebenernya. Saya sering baca di internet kalo orang udah sampe bilang mau mati itu berarti level depresinya udah berat dan biasanya orang depresi banyak yang ga mampu minta tolong sehingga akhirnya lebih memilih bunuh diri. Bingung dong, posisi kita beda pulau, dia di pulau jawa bagian antah berantah dan saya ada di pelosok NTT. Yang bisa saya lakukan hanya menghubungi dia lewat telepon. Setelah berbicara cukup panjang, akhirnya dia aman dan ga terjadi apa-apa, sejauh ini. Agak lega batin ini jadinya.. fiuh
Masalah depresi, menurut saya cukup erat kaitannya dengan kendala berkomunikasi seseorang dengan orang lainnya. Entah karena faktor internal, atau faktor eksternal yang mempengaruhi. Faktor internal contohnya: kebiasaan untuk memendam masalah sendiri dengaan pikiran, 'ah saya kan anak cowok. Masalah gini aja musti lapor. Harus bisa beresin sendiri dong' atau faktor eksternal yang membuat seseorang tidak memungkinkan untuk membicarakan masalahnya dengan orang terdekat, dalam kasus orang terdekatnya itu berbeda pemahaman atau mungkin bukan pendengar yang baik. Atau bisa juga dia 'ember bocor' alias ga bisa dipercaya. Kondisi-kondisi seperti ini membuat orang lebih memilih untuk memendam masalahnya sendiri, mengeksekusi solusi yang benar berdasarkan pendapat sendiri tanpa pertimbangan dari perspektif lain (yang kalo bener alhamdulillah kalo blunder maka makin ruwet masalahnya) sampe akhirnya buntu dan depresi, resiko terburuk adalah kematian yang diperoleh lewat bunuh diri karena udah overload.
Nah, dalam kasus teman saya ini, saya melihat faktor internal yang menjadi masalah. Sekian lama saya berteman dengan dia, saya cukup punya gambaran tentang dia. Dia hidup dalam budaya patriarki, dimana laki-laki cukup disanjung dan dianggap kuat. Laki-laki tidak boleh sama sekali terlihat lemah, harus jadi 'gentleman' sehingga dikagumi perempuan. Kira-kira kondisi demikian membentuk dia menjadi pribadi yang diinginkan komunitasnya, sehingga saat ada masalah, dia dituntut untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sayangnya, dia bukan pribadi sekuat itu. Budayanya hanya mendesain dia agar 'terlihat kuat' tapi tidak membuat dia menjadi kuat dari dalam. Dia cukup rapuh didalam.
Singkat cerita, dia memiliki masalah keuangan. Tertipu ratusan juta di usia yang muda saat bekerja dengan gaji pas-pasan, siapa yang tidak menggila?
Seluruh simpanannya, orangtuanya dihabiskan tapi belum cukup juga. Tanpa pikir panjang, dia berangkat keluar daerahnya untuk mencari si penipu dengan bermodal alamat 1 kecamatan di kot besar. Gambling? Betul sekali. Sialnya, dia berangkat diam-diam. Tanpa persetujuan orangtua, tanpa izin kantor dengan biaya seadanya. Tidak ada komunikasi sedikitpun. Keluarga mencari, kantor mengirim surat penggilan, orang tua tidak sadarkan diri karena shock, rekening dibekukan sehingga tidak bisa kembali ke rumah dan penipu belum juga ditemukan. Akhirnya, keluarga lepas tangan setelah berusaha menghubungi beberapa kali. Orang kantor lepas tangan karena tidak kooperatif dan dianggap kabur karena tidak masuk kerja dan tidak ada komunikasi apapun. Apesnya berlapis-lapis.
Kenapa? Berdasarkan hubungan pertemanan dan komunikasi kami sejauh ini, pola yang saya temukan adalah masalah komunikasi. Dia tidak mau terbuka dalam membicarakan masalah ini dan masih mempertahankan pride dia sebagai seorang laki-laki. Dia lebih memilih berbicara dengan saya yang jauh dan tidak bisa membantu apapun selain menguatkan dari jauh dibandingkan dengan keluarga yang memiliki potensi membantu lebih besar. Kenapa? Ada sesuatu dalam komunikasinya dia dan orang sekitarnya yang mengetahui masalah itu. Saya belum tahu dari sisi mana, selain yang saya tangkap ini. Saya belum berani menyebutkan ada faktor eksternal karena saya tidak mengenal keluarganya.
Komunikasi itu sangat penting. Apalagi dalam hubungan orang terdekat selevel anak-orangtua. Masalah apapun, berdasarkan pengalaman saya, pasti akan habis juga apabila dihadapi, dibicarakan dan diselesaikan. Orangtua, semarah apapun tidak akan lepas tangan begitu saja apabila terbangun komunikasi dan hubungan yang baik. Ini terbukti saat kejatuhan saya beberapa waktu lalu, ketika karier saya hampir tamat karena loyalitas yang bodoh. Bangkrut di awal 20an.
Tidak bisa dipungkiri, pikiran 'fight or flight' itu pasti ada ketika kita menghadapi masalah atau kendala sedikit saja, apalagi masalah besar ya. Tapi semua itu lucunya bisa dilewati melalui curhat dan diskusi dengan orang yang bisa dipercaya. Ya orangtua, ya sahabat, ya pacar. Sesederhana itu, sebenarnya. Cuma kadang pikiran kita yang buat masalah jadi ruwet sendiri. Melalui komunikasi, kita bisa mengekspresikan seberat apa sih masalahnya, seperti apa harusnya dan bantuan seperti apa yang kita harapkan dan solusi apa yang diperlukan bahkan dukungan apa yang kita perlukan dari orang sekitar. Kita bisa lebih ekspresif ketika berkomunikasi dibandingkan diam, memendam masalah dan mencari solusi sendiri.
Menjadi ekspresif-pun tidak harus perempuan saja. Laki-lakipun juga harus ekspresif sebenernya kalo menurut saya. Kenapa? Laki-laki juga manusia yang punya masalah dan butuh orang lain untuk berbagi beban atau sekadar curhat ringan. Manusia sebenernya ga perlu gengsi untuk bilang 'saya perlu bantuan' atau 'saya lagi punya masalah nih' karena hanya komunikasi-komunikasi ini yang bisa membantu kita jauh dari yang namanya depresi sampai bunuh diri. Menurut saya, sepenting itu komunikasi dalam manajemen mental kita.

Comments
Post a Comment