Growing Up
Helohaii
So, today I’m turning 24. Donno what to do on this special
day, I decided to sleep ‘till 01.00 PM
Ngobrol soal usia segini, pasti gak bisa jauh-jauh dari yang
namanya beban social. Ya kerja, ya menikah. Hahhhh dan menikah ini adalah
lawakan terlucu di ulang tahun kali ini. Mulai ada pertanyaan sudah punya pacar
apa belom (yang ini mah udah bisa dijawab ya) tapi yang ditanya kapan nikah ini
apa kabar cobaaaaa ya ampun dahhh. Ya doain aja, siapa tau emang takdirnya
nikah di usia segini hayuk aja.. yang penting karier dan ambisiku tidak
terpotong. Sejujurnya, walaupun sudah menjadi pengangguran banyak acara seperti
ini, saya masih cukup egois tentang cita-cita.
Yup, selama dua bulan terakhir, saya memang memutuskan untuk
tidak menerima tawaran pekerjaan apapun dulu. I think, I should take a moment
for myself to recovery. Lepas dari segala beban, mengosongkan pikiran dari
pekerjaan-pekerjaan sebelumnya supaya nanti saat saya memutuskan untuk bekerja
lagi, saya kembali segar karena ‘cangkir’ saya sudah siap untuk diisi kembali. Selain
itu, saya memang ingin tinggal dirumah bersama keluarga lebih lama, karena
sejak tahun ketiga kuliah hingga akhirnya saya bekerja di Kabupaten Nagekeo,
saya jarang dirumah. Bahkan ketika mama sakit saya agak sulit meluangkan waktu
untuk kembali kerumah, dan itu yang membuat saya ingin menebus hal yang menurut
saya merupakan kesalahan besar bagi seorang anak. Walaupun saya berdiam
dirumah, saya masih menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang menurut saya
sedikit produktif, agar masih terlihat bekerja walaupun lucu-lucuan saja.
Alhamdulillah, dalam masa recovery ini saya masih bisa jalan-jalan
tanpa mengeluarkan biaya yang berarti. Saya bisa ke luar negeri untuk pertama
kalinya, bisa bertemu orang-orang yang menarik bahkan menemui hobi baru:
mempelajari koperasi. Usia 23 yang lalu itu memang cukup menantang. Masalah silih
ganti, jatuh bangun, harus belajar dari nol dengan ‘cangkir’ yang hampir penuh
dan rasanya ingin kabur saja dari segala tekanan. Namun setelah itu saya
menyadari bahwa semua pasti ada maksudnya. Tuhan menempatkan saya pada posisi
itu, bukan berarti untuk menyiksa saya. Itu ujian naik level agar saya lebih ‘bold’
dalam menghadapi tantangan selanjutnya. Tidak sedikit airmata yang keluar. Masih
teringat bagaimana saya menghancurkan kepercayaan orang yang saya hormati hanya
untuk melindungi orang-orang yang mungkin pedulipun tidak pada saya. Masa itu
cukup menghancurkan hidup saya, saya hampir kehilangan arah dan menjadi orang
yang bukan saya yang sebenarnya. Sangat sulit untuk tetap pada jalurnya saat
itu. Sampai hari ini, saya masih merasa bersalah karena tidak mampu
mengungkapkan kebenarannya dan itu membuat saya terpacu untuk menemuinya pada
kesempatan lain untuk menjelaskan semuanya, ketika semua orang sudah tidak
berhubungan lagi.
Usia 23 mengajarkan saya bahwa menjadi loyal, bukan berarti
menjadi bodoh dan mengikuti semua perintah orang yang diberikan loyalitas itu. Menjadi
kaku, bukan berarti meu menyusahkan orang lain, tapi ingin menjaga semua hal
tetap pada jalurnya dan melindungi diri sendiri. Saya pernah gagal di usia itu.
Pada usia yang baru ini, saya tidak mau gagal lagi. Saya ingin jadi orang yang
lebih baik lagi dari sebelumnya.
Usia 23, menelan kegagalan, kehancuran dan penolakan. Sepanjang
usia ini banyak cerita yang akhirnya mendewasakan saya. Dan sekarang, saya siap
memasuki usia yang baru, dengan mimpi dan cita-cita yang lebih besar lagi.

Comments
Post a Comment