Life story: Kepercayaan itu Mahal
Sebelum kita mulai,let me tell you mu story:
Sejak SD, saya mengikuti program ekstrakurikuler pramuka di
sekolah. Program ini saya ikuti sejak kelas 2 SD. Pada tahun ketiga, saya salah satu anak yang
cukup aktif, bersama teman-teman lainnya terpilih utnuk mengikuti jambore
tingkat kecamatan di desa waktu itu. Masalah datang ketika saya harus tidur
bersama anak-anak lainnya, saat saya masih menjadi anak manja yang tidur
bersama mama setiap malam. Saya menangis sejadi-jadinya dengan alasan sakit
kepala. Beberapa pembina menghubungi orang tua dan menemani saya yang masih
menangis tersedu-sedu, ketika teman-teman saya mengikuti acara bersama api
unggun diluar. Saya tidak sadar, setelah itu saya menjadi siswa yang merusak
harapan dan kepercayaan pembina saya, dan mendapatkan cap anak mama yang manja.
Saat itu, selain dibully teman-teman, saya juga ditertawai para tante yang saat
yang bersamaan menjemput dan tinggal dirumah saya. saya hanya diam saja, dan
seperti anak lainnya; menyendiri di kamar atau sudut ruangan untuk menangis,
mengira saya bukan anak kandung karena diperlakukan demikian. Saya kemudian
dipisahkan untuk tidur bersama seorang tante, dan menangis sepanjang malam
hingga tertidur. Di hari pertama, proses saya tidur terpisah dengan mama diceritakan
dengan tertawa-tawa menggunakan bahasa ara (mother tongue mama dan tante) yang
membuat saya tersinggung dan seperti biasa, saya hanya terdiam saja. Proses ini
terjadi selama 3 hari hingga akhirnya saya terbiasa tidur terpisah dan lebih
suka tidur sendiri dibandingkan ada yang menemani.
Di tahun selanjutnya, saya kembali terpilih untuk mengikuti jambore,
dan diminta untuk melengkapi segala persiapan untuk jamboree. Di sela-sela
kegiatan, saya ditanyai seorang pembina, apakah mau berjanji untuk tidak pulang
ke rumah saat jamboree. Sebelum saya menjawab, saya mendengar salah satu
pembina mengatakan ‘jangan sampai membuat kami kecewa lagi’ lalu ditimpali oleh
pembina lainnya. Hal ini membuat saya takut, terus terang saja. Dan saya
meyakinkan diri untuk membatalkan semua rencana lain demi tidak mengecewakan
pembina ini.
Tibalah pada H-1 jambore. Orang tua saya tiba-tiba kembali
dari ruteng dan mengabarkan bahwa paman saya meninggal. Paman, merupakan orang
terdekat dalam keluarga. Kakak kandung mama dan pernah tinggal dirumah yang
selalu membela saya ketika saya dimarahi. Bagaimana tidak hancur hati saya waktu
itu? Dan sialnya, saya tidak bisa pergi ke rumah paman karena sudah berjanji
untuk tidak mengecewakan kedua pembina tersebut. Saya menepati janji saya untuk
tidak mengecewakan kedua pembina, dan tetap pergi ke jamboree dengan keadaan
sedang berduka. Saya tidak menceritakan keadaan ini kepada siappun walaupun
sudah beberapa orang disana yang mengetahui, dan bukannya tidak mungkin mereka
memahami keadaan saya. selain itu, saya memiliki trust issue dengan orang-orang
di sekitar saya (ah, kenapa saya harus mengalami ini sejak kecil? Hahaha sial).
Tidak ada yang membahas, tidak ada yang menguatkan, yang ada
malah dicibir oleh beberapa guru karena bukannya menghadiri pemakaman paman
malah pergi ke jamboree. Sekali lagi, saya hanya bisa terdiam karena tidak tahu
bagaimana cara mengungkapkan, sedangkan yang meminta untuk tidak dikecewakan
adalah orang dewasa. Saya takut nantinya akan disalahkan lagi karena tidak bisa
menjaga bicara dan akan didepak dari program kepramukaan. Hingga sekarang, saya
hanya bisa datang ke kuburan paman tanpa melihat paman untuk yang terakhir
kalinya.
Setelah kejadian itu, saya menjadi orang yang sedikit keras
tentang jadwal saya. untuk kejadian yang sama, saya harus tetap melakukan tugas
saya terlebih dahulu, setelah itu baru saya akan menghadiri pemakaman. Bahkan pernah
sekali, saya mengetahui seorang tante meninggal sejak malam namun saya tetap masuk
sekolah pagi harinya sampai ‘diusir’ pihak sekolah karena mereka mengetahui
tante saya meninggal. Perlahan, saya menjadi pribadi yang lebih keras.
Jadi, bagaimana pendapatmu setelah membaca cerita ini?
Mungkin banyak yang berpikir, kenapa tidak melepaskan saja peluang
di sekolah karena keluarga adalah prioritas, mungkin ada yang berpikir kalau
saya melakukan hal yang baik untuk kehidupan saya di masa mendatang. Entah,
hingga sekarang saya belum paham. Namun, setelah bertahun lewat, saya menyadari
bahwa ini merupakan proses yang membentuk saya menjadi saya yang sekarang. Saya
saat itu menjadi manusia yang menyadari bahwa ketika kepercayaan rusak, akan
membutuhkan pengorbanan yang cukup besar untuk memperbaikinya, walaupun tidak
akan sama seperti sebelumnya. Harga yang harus saya bayar di usia sekecil itu,
cukup besar hanya untuk mengembalikan kepercayaan pembina saya dan membentuk
pribadi saya dengan jiwa yang lebih besar lagi. Ketika saya tidak ingin
membayar harga yang mahal untuk memperbaiki sebuah kepercayaan, then I should
not broke it. Saya harus tetap menjaga kepercayaan itu bagaimanapun caranya.
Hal ini membentuk saya sehingga saya yang sekarang lebih
kaku tentang percaya walaupun terkadang menjadi bodoh karena perasaan loyal
yang bodoh. Saya masih terus belajar memperbaiki diri demi tidak membayar harga
yang mahal. Saya orang yang cukup perhitungan tentang harga, termasuk membayar
harga sebuah kepercayaan.

Comments
Post a Comment