Hijab Shaming dalam Konstruksi Sosial
Disclaimer:
Tulisan ini berpotensi menimbulkan pro dan kontra, baik karena gagasannya maupun karena eksperimen yang saya lakukan. Harap pembaca dapat bijak dalam merespon, kalau gak bisa bijak, jangan baca sekalian! TULISAN INI SAMA SEKALI DILARANG UNTUK PEMBACA DENGAN ALIRAN KONSERVATIF. APABILA ANDA TERLANJUR MEMBUKA THREAD INI, HARAP MENUTUP TAB BROWSER ANDA SEGERA
-----
Hijab merupakan salah satu dari sekian banyak simbol ketaatan bagi seorang muslimah terhadap agama yang dianutnya. Dalam agama islam, hijab dimaknai sebagai pakaian yang menutupi tubuh sebagai pelindung wanita dari pandangan laki-laki. Berdasarkan sejarah, hijab pertama kali digunakan oleh seorang bangsawan dari Makassar pada sekitar abad ke 17 yang lalu ditiru oleh para perempuan jawa, setelah berdirinya organisasi Aisyiyah, salah satu organisasi perempuan islam terbesar di Indonesia.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jean German Taylor dalam bukunya, Indonesia – Peoples and Histories menyebutkan bahwa tidak ada gambar hijab pada foto perempuan aceh yang notabene beragama islam pada rentang tahun 1880 hingga 1890, walaupun ada beberapa perempuan yang menggunakan hijab pada masa lalu. Hal ini memberikan implikasi bahwa hijan merupakan pilihan bagi seorang perempuan.
Pada masa orde baru, pemerintah melarang penggunaan hijab di lingkungan sekolah sebagai bentuk pengendalian isu agama di ranah publik. Pemerintahan era Soeharto beranggapan bahwa hijab merupakan symbol politis dari Mesir yang situasi politiknya berbeda dengan Indonesia, sehingga pemerintah khawatir hijab akan menjadi identitas politik yang mengganggu proses pemerintahan.
Seiring perkembangan zaman, hijab semakin diterima dan menjadi tren baru dalam masyarakat, terutama kalangan perempuan muslim yang didukung oleh organisasi islam besar di Indonesia yang menyatakan bahwa hijab adalah pakaian yang sangat ideal untuk seorang muslimah sehingga perlahan membentuk persepsi bahwa muslimah yang ideal adalah muslimah yang berhijab. Hijab perlahan menjadi identitas agama dan ekspresi kesalehan seorang perempuan yang menimbulkan persepsi bahwa muslimah berhijab lebih saleh daripada mereka yang memilih untuk tidak berhijab (Saba Mahmood: 2005).
Perempuan berhijab dalam kehidupan masyarakat
Dewasa ini, penggunaan hijab di kalangan perempuan muslim menjadi hal yang lumrah; perempuan muslim dapat menggunakan hijabnya di tempat umum dan menjadi industry yang cukup menggiurkan di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, hal tersebut tidak dapat terlepas dari intervensi Negara melalui aturan yang berlaku di Indonesia yang mengatur cara perempuan menggunakan hijabnya. Pada akhir 2018 lalu, Kementerian dalam Negeri mengeluarkan instruksi nomor 325/10770/SJ tahun 2018 tentang Penggunaan Pakaian Dinas dan Kerapihan Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan yang salah satu instruksinya adalah perempuan muslim yang berhijab agar memasukkan kerudungnya ke dalam baju seragam dan akhirnya dicabut kembali setelah menuai protes dari berbagai kalangan.
Intervensi lainnya juga muncul dari kehidupan bermasyarakat itu sendiri, dimana kelompok konservatif menentukan standard hijab yang ideal dengan dalil agama yang kemudia dilawan oleh kelompok masyarakat progresif yang berpendapat bahwa klaim ini dapat mengekang hak perempuan dalam menentukan apa yang akan dikenakannya. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, karena intervensi-intervensi ini dapat dipandang sebagai upaya untuk mengendalikan perempuan itu sendiri.
Salah satu intervensi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat adalah hijab shaming. Pembahasan ini memang belum seheboh body shaming yang ramai dibicarakan, namun hijab shaming sudah memakan cukup banyak korban. Ketika body shaming diasosiasikan sebagai komentar-komentar miring seputar tubuh seseorang, maka hijab shaming lebih khusus mengarah kepada seorang perempuan muslim yang merupakan ‘hijaber part time’ atau mantan hijaber. Bentuk hijab shaming dapat beragam, seperti sindiran dan penolakan baik secara langsung maupun tidak langsung, ceramah dengan dalil agama atau mungkin ekspresi kemarahan dari orang-orang sekitar. Pelakunya bisa siapapun, mulai dari lingkar terdalam seperti keluarga, hingga lingkar terluar seperti komunitas dimana muslimah tersebut berada.
Hijaber part time dapat saya maknai sebagai seseorang yang mengenakan hijab pada kesempatan-kesempatan tertentu, misalnya pada saat kuliah atau menghadiri acara-acara tertentu. Hijaber tipe ini sering ditemukan dalam masyarakat, dimana mayoritas pengguna hijab melakukan praktik demikian dalam kehidupannya. Sedangkan mantan hijaber dapat saya maknai sebagai seorang muslimah yang di awal mengenakan hijab lalu pada rentang waktu tertentu memutuskan untuk melepaskan hijab sepenuhnya, dan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa mengenakan hijab.
Hijaber part time maupun mantan hijaber sesungguhnya mengalami masalah yang sama: hijab shaming yang berasal dari orang-orang di komunitasnya. Namun, level hijab shamingnya dapat berbeda, bisa lebih berat dan bisa lebih ringan. Hal ini terjadi karena konstruksi sosial yang telah dibangun bahwa hijab merupakan identitas agama yang menjadikan seseorang ‘dipaksa’ untuk mengenakan hijab agar mendapatkan pengakuan dari komunitasnya sebagai muslimah yang ideal. Masyarakat masih mampu menoleransi perilaku ‘hijaber part time’ dibandingkan ‘mantan hijaber’ yang dianggap menyimpang dari norma-norma yang telah dibangun dalam kehidupan bermasyarakat.
Beragam berita tentang hijab shaming selebriti cukup mewarnai portal-portal di Indonesia. Kasusnya beragam, mulai dari cara berpakaian yang tidak sesuai dengan standard perempuan berhijab, sampai selebriti yang memutuskan untuk melepaskan hijabnya karena alasan-alasan tertentu. Misalnya pada kasus artis Marshanda dan Rina Nose yang ketika mengenakan hijab menuai pujian, dan pada saat melepaskan hijab justru berbalik menjadi hujatan. Yang lebih parah pada kasus Rina Nose, salah satu produsen hijab terbesar di Indonesia turut mencibir dengan menawarkan akan memberikan hijab gratis asalkan Rina bersedia untuk kembali berhijab. Efek hijab shaming ini dapat beragam, namun yang paling sering muncul adalah pengucilan dari komunitas hingga akhirnya berujung pada perundungan yang dapat berakibat fatal pada korban hijab shaming.
Menanggapi isu hijab shaming yang sedang menyusup dalam kehidupan bermasyarakat membuat saya tertarik untuk memulai eksperimen sosial tentang lingkungan saya sendiri mengenai hijab shaming. Saya ingin mengetahui reaksi orang-orang sekitar saat mengetahui saya adalah orang yang berbeda dengan melepaskan hijab dan melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan saya.
Kesempatan ini muncul ketika saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai Public Relations & Human Resources Managerdi suatu perusahaan local yang berpusat di kota Kupang, NTT pada akhir bulan Juni 2019 yang lalu. Saya memutuskan untuk melakukan eksperimen social ini dengan cukup hati-hati agar terlihat tidak disengaja. Pada saat itu saya memutuskan untuk melepaskan hijab saya sementara demi melihat reaksi orang-orang di sekitar dan mengalami sendiri seperti apa bentuk hijab shaming. Saya melepaskan hijab dan mulai melakukan perilaku merokok di tempat umum. Sebagai informasi awal, fase saya saat ini adalah ‘hijaber part time’ yang masih menggunakan hijab untuk hampir setiap occasion dan telah menggunakan hijab sejak tahun 2013 dengan sukarela.
saya cukup akrab dengan banyak orang di Kota Kupang, karena saya pernah berkuliah di salah satu universitas negeri di sana. Menurut saya, ini adalah kesempatan yang bagus untuk membuktikan teori saya sendiri bahwa hijab shaming memang bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja termasuk saya. pada rencana awal, saya memutuskan untuk melakukan eksperimen social ini selama 6 bulan, sesuai dengan masa kerja saya di perusahaan tersebut. Namun karena saya harus berangkat ke India pada bulan November, eksperimen ini harus saya hentikan pada bulan ke 4 sekaligus resign dari pekerjaan saya tersebut.
Pada masa kerja tersebut, saya bertemu dengan orang-orang yang baru mengenal saya pada saat itu dan mereka cukup menerima keadaan saya yang berbeda, karena mereka tidak mengetahui siapa saya sebelum masuk ke dalam pekerjaan ini. Eksperimen saya baru dimulai ketika saya mengundang beberapa teman untuk bertemu. Saya menangkap beberapa ekspresi kaget dan tidak mengenali saya ketika bertemu. Pada kesempatan lain, saya tertangkap basah oleh seorang teman yang cukup agamis sedang memegang rokok. Saya menangkap ekspresi yang cukup tidak menyenangkan ketika melihat saya dalam keadaan tersebut dan kami hanya terlibat dalam pembicaraan yang singkat lalu dia pergi. Hingga sekarang, kami tidak berkomunikasi lagi dan saya tidak mengetahui alasannya.
Salah satu cerita yang cukup menarik adalah seorang keluarga dekat yang ketika saya berada didekatnya, beliau memutar satu video ceramah seorang ulama yang berbicara tentang pentingnya berhijab bagi seorang perempuan muslim agar didengarkan oleh saya. Lucunya, video yang diputar adalah video ceramah Quraish Shihab yang terkenal sangat moderat dan mendukung pilihan perempuan. Beberapa orang bertanya apakah saya memiliki masalah sehingga memutuskan untuk melepas hijab, ada yang menyatakan bahwa hijab saya hanyalah kedok untuk menutupi jati diri saya yang busuk. Ada pula yang berdoa semoga saya bisa kembali ke jalan yang benar, seolah saya adalah orang yang sudah tersesat jauh dari jalan Tuhan hanya karena melepaskan hijab. Cukup kasar kedengarannya, namun perlakuan ini yang saya terima.
Keberadaan hijab shaming, bukan berarti tidak mengganggu psikologis saya ketika melakukan eksperimen ini. Saya merasa cukup terasingkan dari kelompok saya yang lama, merasa takut ketika bertemu dengan komunitas saya yang lama dan mereka menemukan saya dalam keadaan seperti ini dan mulai membandingkan tentang saya yang dulu dan saya yang sekarang. Pada saat itu, saya mulai menyadari bahwa saya cenderung menghindari orang-orang dari lingkungan lama dan lingkar keluarga saya untuk mengurangi beban psikologis yang ada. Keberadaan hijab shaming bagi mantan hijaber membuat seseorang menarik diri dari lingkungannya karena perbedaan perlakuan yang dialami ketika orang tersebut masih sebagai seorang hijaber.
Selain mendapatkan hijab shaming karena eksperimen ini, saya juga menemukan banyak orang yang masih berlaku sama seperti ketika saya menggunakan hijab; mereka masih menganggap saya sebagai ‘Kiki yang sama’ dengan penampilan yang berbeda. Menurut saya, hal ini dapat menjadi support system yang baik bagi seorang mantan hijaber karena masih ada orang yang mendukung apapun keputusannya walaupun saya yakin dalam pikiran mereka masing-masing pasti penasaran tentang alasan saya melepaskan hijab saat itu.
Hijab shaming adalah musuh kita bersama
Setelah melewati masa eksperimen dan menulis tentang hijab shaming, saya belajar bahwa begitu banyak orang dengan mudahnya menghakimi orang lain lewat hati, pikiran, mulut dan jempolnya tanpa menghormati suatu keputusan dan memikirkan bahwa seseorang memiliki hak penuh atas dirinya dan apapun keputusan yang diambil. Selama empat bulan melakukan eksperimen ini, saya cukup banyak kehilangan teman-teman dan ‘power’ sebagai perempuan berhijab yang didengarkan pendapatnya, karena selembar kain yang menutupi kepala. Saya mendapatkan stigma tersesat, bermasalah dan tidak istiqomah dalam menjalankan perintah Tuhan. Sedikit, saya dapat merasakan betapa sulitnya menjadi muslimah ‘mantan hijaber’ yang harus bertarung dengan norma masyarakat karena keputusan yang diambilnya menyangkut hijabnya sendiri.
Menurut saya, hijab shaming merupakan musuh seluruh manusia di muka bumi ini yang harus dikalahkan apabila kita ingin menjadi manusia yang merdeka sepenuhnya. Kita sebagai manusia tidak memiliki hak apapun untuk menghakimi setiap keputusan yang diambil oleh seorang perempuan; entah dia tetap berpegang teguh pada hijabnya atau melepaskan hijab sepenuhnya. Perempuan memiliki hak penuh atas dirinya untuk memakai apapun yang dia inginkan, termasuk berbikini atau bercadar di pantai. Masalah agama, hanya dia, malaikat di kiri kanan dan Tuhannya yang mengatur. Kita sebagai manusia, hanya wajib menghormati dan menghargai setiap keputusan selama itu tidak berdampak merugikan bagi kita sendiri.
Bukankah menghormati keputusan orang lain dan memandangnya sebagai manusia merdeka merupakan langkah yang brilian untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik? ;)
https://www.hipwee.com/feature/resiko-lepas-jilbab-dari-bikin-kecewa-sampai-di-anggap-gangguan-jiwa/

Hai, Ki. it's me, K Cha. ��. karena saya seorang yg suka belajar sosiologi, maka izinkan saya juga memakai kacamata ilmu sosial untuk menanggapi ini.
ReplyDeletegara² disclaimer di awal tulisan, sy jd sangat kepo dgn isinya. setelah baca, malah jd lebih ingin berdiskusi.
hijab shaming yg diperkenalkan dlm tulisan ini nampaknya merupakan sebuah fenomena sosial, jelas terjadi pada masyarakat kita. dan gambaran kiki ttg sikap masyarakat thd fenomena ini, sebagai hal yg wajar & baik adanya yakni sebagai sebuah bentuk kontrol sosial. kontrol sosial menandakan bahwa masyarakat sedang memegang & menjaga nilai identitas sosialnya (budaya) atau sedang menjadikan nilai budaya sebagai filter terhadap liberalisme (kebebasan individu).
banyak yg ingin saya tulis juga jadinya, tapi mungkin lebih baik di laman saya sendiri nanti. hehehe...
sungguh informasi di awal tulisanmu sangat bermanfaat untuk saya, dan argumentasimu sangat mempengaruhi saya. semoga semakin banyak orang yg tertarik dan semangat bernarasi, dan menghidupkan budaya literasi.
Hello kak Cha.. terima kasih sudah mampir. Yes emang sengaja dibuat ada disclaimer untuk meminimalisir 'sampah' di blog saya. Hehe
DeleteBagaimana menurut kak Cha, apakah shaming act sebagai bentuk kontrol sosial yang berpotensi merugikan korban dari sisi psikologis juga baik dan wajar adanya?
Saya pikir agak terlalu jauh kalau kita bicara soal liberalisme. wong perempuannya saja masih banyak yang belum merdeka kalo kita lihat dari berbagai sisi.. hihi
Sip kak, terima kasih kembali.. sila berkabar untuk tulisan kakak selanjutnya yaa