Bayaran Untuk Jiwa
Beberapa hari terakhir, saya agak terganggu dengan beberapa
saran dari teman-teman mengenai aktivitas seorang pengangguran seperti saya.
ya, untuk beberapa bulan terakhir sejak kembali dari India, saya memutuskan
untuk berhenti sejenak. Kenapa? Ya pengen aja.
Entah kenapa saya berpikir bahwa berhenti sejenak lebih baik
supaya saya bisa lebih focus untuk pekerjaan selanjutnya, dan saya bisa
menemukan diri saya yang dulu dengan tambahan sikap yang lebih dewasa dalam
menghadapi pekerjaan. Saya merasa bahwa selama 2 tahun terakhir ini, saya
terlalu ‘random’ dalam memilih jalan mana yang akan saya pilih. Dimana ada
aktivitas langsung sibukkan diri dengan itu dan melupakan yang lainnya hingga
saya muak, lalu berpindah lagi tanpa memikirkan konsekuensi apa yang akan
terjadi kedepannya. Entah, saya terlalu naïf atau terlalu berambisi untuk
karier saya.
Mari kita kembali ke 2017, dimana saya akhirnya memutuskan
untuk masuk ke dunia NGO secara sukarela. Saya mengajukan magang selama setahun
di salah satu lembaga non pemerintahan di Kota Kupang yang memberi saya
kewajiban untuk melakukan tugas yang bagi orang lain merupakan hal yang remeh. Jadi
tukang gunting Koran dan notulen di beberapa kegiatan yang dilaksanakan lembaga
hingga akhirnya pada penghujung tahun, saya mengikuti wawancara kerja yang
menugaskan saya ke pulau flores. Awalnya saya akan ditugaskan ke pulau Lembata,
namun keputusan akhir saya dipindahkan ke Kabupaten Nagekeo, wilayah terdekat
dari rumah di ruteng.
Saya mulai bekerja di Nagekeo pada awal 2018 dengan bermodal
nekat karena belum pernah bekerja sebelumnya. Menjadi orang yang cukup kaku
dalam bekerja karena belum berpengalaman dan masih membawa kelakuan idealis
yang bodoh: semua orang pasti paham dan sangat bodoh kalau mereka menolak saya.
bekerja bahkan di hari libur hanya untuk menyenangkan atasan dan membuat diri
menjadi seolah sangat penting dalam pekerjaan, padahal sesungguhnya tidak. Ya,
saya bekerja dengan pola seperti itu sampai ada seseorang yang menyadarkan saya
dengan pertanyaan “kamu itu dibayar berapa sih sampai total seperti itu? Tidak
memikirkan libur dan hanya mengurusi pekerjaan”. Hubungan pribadi saya hancur,
seluruh aspek kehidupan saya mulai tidak bisa dibedakan dengan pekerjaan hingga
saya hanya mampu bicara ketika berurusan dengan pekerjaan. Saya kesulitan
bersosialisasi bila menyangkut hal yang lain. Masalah mulai bermunculan hingga
akhirnya terlihat biang keladinya: saya yang salah. Hingga saat ini, saya belum
berani untuk berbicara tentang masalah itu. Ketika mengingatnya, saya mulai
kacau.
Di saat-saat terakhir saya bekerja disana pada pertengahan
2019, saya mulai memperbaiki diri; mulai meminta maaf kepada seluruh orang yang
terkena imbas karena perbuatan saya yang sudah merusak banyak hal walaupun saya
hanya mengikuti permintaan, dan pemperbaiki masalah social dalam diri saya.
saya mulai terbuka untuk berbicara kepada orang lain dan bersiap untuk memulai
hal baru. Saya pikir, ini tidak akan berdampak panjang: What happens in Nagekeo
stays in Nagekeo. 2 hari kemudian, saya mendapatkan pekerjaan lainnya dan
langsung pindah ke Kupang.
Ternyata saya salah, saya semakin kacau disana. Berada dalam
bayangan pekerjaan sebelumnya, bertemu dengan orang-orang di pekerjaan lama
lumayan menyiksa. Saya kembali teringat dengan masa lalu yang membuat saya
menjadi pribadi yang makin kacau karena ambisi saya ternyata terbawa hingga ke
Kupang. Terkadang saya menangis sendiri karena sudah tidak dapat melihat diri
saya yang lama disini. Saya melihat diri saya makin berantakan; bekerja di
tempat yang ‘bukan diri saya’ dan terpaksa mengikuti hal yang tidak saya
inginkan dengan mengorbankan hati nurani. Ketika mendapatkan kesempatan untuk ‘melarikan
diri sejenak’ ke India, saya tidak membuang kesempatan itu. Saya resign dan
kembali ke Ruteng.
Dan inilah saya sekarang, pengangguran yang menambah jumlah
unemployment di Ruteng. Berdiam sejenak dan mencoba untuk ‘make up my mind’
dengan memaafkan diri sendiri dan memulai hal baru dengan project-project social
di Ruteng. Namun memang tidak semudah yang dibayangkan. Networking saja tidak
cukup, saya butuh effort lebih untuk memulai project yang jelas 0 budget ini. Saya
harus bertarung dengan pandangan bahwa kita cukup santai saja dan menunggu
pekerjaan serta bekerja seperti ini sudah harus dibayar, tidak bisa lagi
menjadi relawan. Lalu, kalau saya tidak memulai dari sekarang, siapa yang akan
bayar saya dan siapa yang akan memulai kegiatan ini?
Saya telah bekerja dalam beberapa bidang, pemberdayaan
masyarakat, pure bisnis dan saat ini sedang bekerja secara sukarela. Dalam dua sector
sebelumnya saya sudah bekerja untuk memberi makan ego saya sendiri: traveling,
pengalaman, ambisi dan network. Namun, tidak memberi makan jiwa saya. mungkin
terdengar idealis, namun entah kenapa saat menganggur seperti ini saya merasa
telah mulai menambal jiwa yang kosong. Saya merasa lebih dewasa untuk menerima
bahwa apa yang terjadi di masa lalu adalah kesalahan saya dulu yang tidak bisa
diperbaiki, namun saya bisa menjadi lebih baik di masa depan. Saya merasa jiwa
saya terisi dan sangat puas setelah melakukan pekerjaan a la pengangguran ini
dan dapat melihat diri saya sendiri; saya yang bersemangat, saya yang bahagia
dengan keadaan yang serba ‘pas’ dan tidak menuntut banyak hal dari diri saya
sendiri. Saya melakukan apa yang ingin saya lakukan untuk berkontribusi pada
daerah saya sendiri. Saya pikir, ini bayaran yang lebih dari cukup untuk saat
ini.
Lebih dari itu, saya lebih siap untuk menyongsong hal baru
yang ada didepan saya. saya bahagia dengan keadaan saat ini.

Comments
Post a Comment