Classy unemployment (?)
Saat memutuskan untuk pulang dan
menetap di ruteng sebagai seorang pengangguran beberapa bulan yang lalu, saya
menghabiskan waktu dengan hanya makan dan tidur dirumah. Bukan tanpa alasan,
saya sudah sangat lama menunggu masa ini: masa dimana saya bisa berhenti
berpikir sesuatu yang berat dan hanya memikirkan diri sendiri – mengosongkan
gelas karet yang rasanya sudah sangat penuh hingga meluap-luap hingga melar dan
takut bila terlalu lama akan pecah karena tidak tahan dengan tekanan yang ada.
Masa ini ternyata tidak bertahan
lama; saya yang terbiasa bekerja harus bertarung dengan badan yang sakit,
kepala yang penuh dan sedikit stress karena tidak ada yang bisa dilakukan. Memang
ada banyak pekerjaan diluar seperti mengurus kebun, namun kebun yang cukup jauh
membuat saya lebih memilih dirumah dan menghabiskan jatah makanan keluarga
hingga akhirnya saya terpikir untuk menciptakan movement di Ruteng. Saya berpikir,
kenapa saya harus melihat keluar daerah yang jelas tidak bisa saya sentuh
daripada membuat gerakan saya sendiri yang bisa memajukan daerah? Saya lalu
mencari orang-orang yang sekiranya berpeluang menjadi eksekutor dalam setiap
ide gila yang saya pikirkan. Ketemu! Mereka orang-orang baik yang ternyata mau
bergerak untuk membangun daerahnya sendiri.
Akhirnya, di beberapa bulan masa
saya tinggal di ruteng, beberapa kegiatan telah saya lakukan: membangun
koperasi siswa di salah satu sekolah negeri, menjadi pendiri @crafter.rtg yang
tidak jelas karena tidak punya partner, grup donor darah manggarai yang mandek
karena corona, perjudian di bidang politik yang sama sekali saya hindari dan
yang terakhir, memulai gerakan social untuk tanggap covid-19 yang akan selesai
di awal bulan mei nanti. Masih ada beberapa project baru yang akan diluncurkan
namun saya masih bimbang apakah dapat terselesaikan atau tidak. Akhirnya saya
membuat kehidupan yang tenang dan damai ini menjadi kacau dengan segala
kesibukan yang kata orang tidak menghasilkan materi apapun dan hanya akan
membuat tumbang namun entah kenapa, saya menikmatinya. Mungkin ini terdengar
idealis atau sangat naïf: saya sudah
bekerja di dua bidang yang bertolak belakang. Pekerjaan yang non-profit
oriented dan profit oriented untuk melihat perbedaan dan memenuhi semua ambisi
saya tentang pengalaman, jaringan, materi, kesenangan namun, semua itu hanya
memberi makan ego- saya merasa jiwa saya masih kelaparan. Walaupun gelas karet
saya penuh, saya masih merasa ada yang kurang. Mungkin, dengan kesibukan tak
bermanfaat ini bisa mememberi makan jiwa saya. Itu yang saya pikirkan saat
ini. Namun, memang pada awalnya saya hanya memikirkan hal ini sebatas angin lalu,
toh setelah pandemic saya sudah harus mencari kerja karena sudah tidak punya
tabungan lagi untuk menikmati hidup yang reckless. Haha
Gerakan-gerakan ini juga disambut
cukup baik oleh masyarakat sekitar dan kenalan-kenalan yang masih
berkomunikasi. Sebutlah untuk gerakan tanggap covid-19, saya dihubungi oleh 2
radio untuk wawancara dan juga terhubung dengan beberapa jaringan besar untuk
bergerak bersama. Saya tidak menyangka bahwa gerakan ini menjadi massif dan
direspon sangat luar biasa. Namun saya bersyukur, artinya ini bermanfaat untuk
orang lain dan saya mampu menafkahi jiwa saya yang merongrong kelaparan. Namun
hal ini cukup mengganggu kebahagiaan saya yang sedang memamerkan diri sebagai
seorang pengangguran kaum rebahan karena dengan adanya semua ini, saya harus
meninggalkan kebiasaan saya yang bisa tidur lebih dari 24 jam untuk melancarkan
aksi social ini. Saya hanya menjadi pengangguran, namun bukan lagi menjadi kaum
rebahan. Apakah itu menjadi hal yang merugikan? Sebenarnya tidak. Menguntungkan
malah.. hanya kebanggaan saya dengan predikat itu yang berkurang. Hal ini saya
bicarakan dengan seorang teman lama dan katanya, “kamu sudah harus mengubah
kebanggaanmu dari pengangguran pemalas menjadi pengangguran berkelas. Classy unemployment,”
katanya.
Saya cukup berpikir panjang tentang
apa yang dikatakan teman tadi. Apa yang bisa saya banggakan dari seorang
pengangguran yang hobinya rebahan bahkan tidak membereskan kamarnya sendiri? Tapi,
jika saya ingin mengubah kebanggaan itu, apakah pantas? Padahal project saya
lebih banyak gagal dan evaluasi minusnya kalaupun berhasil. Apa pantas saya
menyebut diri saya sebagai pengangguran berkelas hanya bermodal komitmen untuk
memulai? Apa itu cukup? Ah, jadinya malah banyak pertanyaan dan bikin gak bisa
tidur, kan.

Comments
Post a Comment