Holy Month Day 5 - Tentang Menepati Janji
Mari kita kembali ke ramadhan
tahun 2017, dimana saya masih menjadi seorang yang sangat idealis, menganggap
semua orang selalu menepati janji dan semua orang yang berada di sekitar saya
tidak akan menyakiti saya…
Saat itu pertengahan bulan
ramadhan. Karena sudah semester akhir dan tinggal menyusun skripsi, saya jarang
berkumpul dengan teman kuliah yang semenjak awal sudah menjadi orang dekat. Saat
itu saya dan dua teman lainnya berjanji untuk buka puasa bersama; sekaligus
lepas kangen. Kami berjanji untuk bertemu menjelang buka puasa di salah satu
restaurant di kawasan oeba, Kupang. Saya dengan polosnya sangat antusias dengan
acara ini karena merindukan mereka dan yain bahwa kami akan bertemu esok hari.
Hari yang dijanjikanpun tiba, dan
saya kehabisan kuota pulsa sehingga tidak bisa menghubungi siapapun. Namun karena
berpegang dengan janji, saya tetap pergi ke tempat yang kami sepakati untuk
menunggu mereka. Saya ingat persis, waktu itu jam 5 sore saya sudah menunggu
disana. Waktu bergulir. 10 menit, 30 menit, 40 menit, tidak ada yang datang. Hingga
tiba saatnya berbuka puasa, saya belum memesan apapun karena menunggu kedua
teman dekat saya ini. Pemilik restaurant yang melhat saya sendirian dan kikuk
karena belum memesan apapun sedari tadi, memberikan saya the hangat dan kue
sebagai hidangan untuk berbuka. Setelah menyantap hidangan berbuka, saya
membeli makanan untuk dibawa ke kost, lalu makan sendirian. Sepulangnya saya
mengisi pulsa untuk menghubungi mereka dan alasannya beragam namun saya tidak
dikabari sama sekali kalau mereka membatalkan secara sepihak. Ketika saya
menceritakan pengalaman ini kepada seorang yang dekat; saya malah ditertawai. Saya
cukup kecewa saat itu karena tidak ada yang bisa mendengarkan saya dengan tanpa
penghakiman…
Sejak saat itu, saya sadar bahwa
saya tidak akan bisa hidup hanya dengan memegang janji orang lain. Memang
benar, saya pernah mengalami hal yang sama sebelumnya, namun mungkin saat itu
adalah kesempatan terakhir bagi diri saya sendiri untuk menoleransi ingkar
janji. Saya mulai menjadi orang yang tidak peduli dengan janji orang lain,
walaupun saya tetap berusaha menepati janji saya pada orang lain sebisa
mungkin. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa mengontrol janji orang lain
kepada saya, namun saya bisa mengontrol reaksi terhadap janji yang orang lain
berikan kepada saya. dan saya memilih untuk tidak peduli. Tidak ada gunanya
berharap pada orang lain untuk menepati janji mereka sendiri. Itu hanya akan
menyakiti kita.
Tidak jarang, saya bertemu
orang-orang yang seperti saya di dahulu: bersandar pada janji orang lain atau
bahkan ‘memaksa’ orang lain untuk menepati janji mereka sehingga membuat yang
memiliki janji tersebut tertekan. Saya bisa memaklumi, rasa sakit karena ingkar
janji itu memang benar-benar berbekas. Mungkin dia tidak mau menodai hidupnya
dengan hal seperti ini. Namun, kita manusia, bukan? Tidak ada yang benar-benar
bersih. Termasuk saya. yang bisa kita lakukan hanyalah berhenti berharap pada
orang lain – mulailah berharap pada diri sendiri.
Idealis boleh, paksa diri jangan.
Jadilah manusia yang bersandar pada diri sendiri.

Comments
Post a Comment