Holy Month day 11 - Tentang perasaan ‘selesai’
Saya pernah bertemu orang-orang yang mengatakan mereka telah
selesai dengan suatu hal, entah menyelesaikannya dengan baik, atau selesai
secara sepihak, berhenti. Saya cukup sering mendengarkan cerita-cerita tentang
berakhirnya, atau selesainya hubungan seseorang dengan sesuatu. Ada yang
mengatakan ketika berakhir maka sudah sukses, ada yang berakhir dengan senyum,
atau berakhir dengan menyedihkan- dia tidak mau mengingat hubungan itu lagi.
Saya sendiri masih belum menemukan arti tentang kata ‘selesai’.
Apakah harus nya begini, atau harusnya begitu. Saya masih mencari arti ini. Apakah
selesai artinya sama dengan berhenti di tengah jalan, ataukah seharusnya
selesai dengan baik, dan mengenangnya sebagai hal baik. saya mengalami hal ini
berkali-hali. Bahkan saya juga mengalami dihentikan sepihak. Bukan saya yang
menginginkan, namun memang sudah seharusnya berakhir.
Cerita seorang teman mengingatkan saya pada sesuatu yang
terjadi dalam hidup saya, apa kah ini pantas dikatakan selesai, atau saya
dihentikan. Kebodohan saya waktu itu akhirnya menjatuhkan (atau mengangkat?)
saya pada titik ini, menjadi manusia yang lebih berambisi dengan apapun yang
saya kerjakan. Hingga saat ini, saya merasa hal itu menjadi hal yag
mendewasakan, sekaligus membuat saya gelisah. Apakah kegagalan di masa lalu
benar ingin membentuk saya seperti ini, menjadi manusia yang lebih berambisi
ataukah membuat saya menjadi manusia yang lebih gelisah karena hubungan yang
belum selesai itu.
Walaupun sudah selesai (atau terhenti?) saya masih belum berani mengenang hal itu sebagai sesuatu yang baik. Sesekali, saya masih menceritakan kepada beberapa orang tentang betapa saya menyesal telah membakar diri sendiri untuk orang lain hingga menghancurkan semuanya, dan memberikan dampak buruk bagi orang sekitar. Mereka selalu menguatkan bahwa itu adalah pelajaran bagi saya, dan bagi semuanya. Namun, apakah benar ini maksudnya?
Apakah kebodohan saya di masa lalu yang membuat saya berada di titik ini, yang membuat saya berambisi dan gelisah memang sudah seharusnya seperti ini? Apakah saya sendiri yang harus memutuskan, apakah ini terhenti atau selesai? Dengan dia, yang kepercayaannya sudah saya rusak dan hingga hari ini dan walaupun sudah meminta maaf masih membuat saya selalu memikirkan kesalahan saya. Orang yang pertama mengenali potensi, membimbing dan mempercayai saya. Rasa bersalah yang membuat saya ingin membalas dendam dengan dedikasi yang lain, yang mambuat saya menjadi ambisius, sekaligus gelisah.

Comments
Post a Comment