Holy Month Day 15 - Tentang Ekspektasi yang Terlalu Tinggi
Saya mengobrol dengan seorang kenalan dekat tentang
ekspektasi ketika menjalankan suatu project. Kak Jejey, saya memanggilnya
begitu. Kami mengobrol cukup banyak tentang setinggi apa ekspektasi yang harus
dipasang ketika menjalankan suatu project. Obrolan ini dimulai ketika saya
menonton video wawancaranya. Obrolan ini tiba-tiba membuat saya berpikir
tentang diri saya sendiri: setinggi apa sih ekspektasi saya terhadap diri
sendiri dan apa yang saya lakukan, sehingga apapun yang saya jalankan selama
ini semuanya terasa gagal atau tidak membuahkan hasil apapun?
Saya pernah menjadi orang yang hampir ‘obsesif kompulsif’
pada semua hal yang saya kerjakan, terutama pekerjaan. Ini membuat saya menjadi
orang yang berharap semua harus sempurna dan bila gagal sekali, maka saya akan
berhenti dan menganggap semuanya menjadi hal yang gagal. Mungkin itu adalah
salah satu alasan mengapa tidak ada kebanggaan yang tersisa di hidup saya.
semua pencapaian menjadi biasa, karena ekspektasi yang saya tanamkan terlalu
tinggi.
Pada tulisan sebelumnya, saya berbicara tentang selesai,
atau berhenti. Perlahan saya mulai menyadari bahwa masalahnya ada pada diri
saya sendiri, pada ekspektasi saya sebagai manusia biasa yang menginginkan
semuanya menjadi sempurna dan selalu diatas. Padahal, hidup itu ada pasang
surutnya. Itu yang tidak bisa diterima oleh ekspektasi saya: tidak boleh turun,
harus merangkak naik terus, atau minimal stabil. Mungkin ekspektasi ini yang
membuat saya juga menjadi seperti ‘membalas dendam’ dengan memulai project
lainnya, dan juga menjadi gelisah apakah akan berakhir sama gagalnya, atau
mungkin yang saya lakukan ini tidak bermanfaat apapun a.k.a just wasting my
time.
Pembicaraan malam itu membuka perspektif saya yang lebih
luas tentang memasang ekspektasi untuk segala usaha yang saya lakukan:
ekspektasi rendah, effort besar dan harus siap berkorban. Ketika kita sudah
mencapai ekspektasi rendah tersebut, barulah boleh memasang ekspektasi baru,
yang juga sama- tidak boleh terlalu tinggi agar semua usaha kita tidak terkesan
membuang waktu.
Ekspektasi membuat kita menjadi takut, takut tidak bisa
memulai, takut tidak bisa menyelesaikan, takut tidak bisa mendapatkan
sumberdaya yang dibutuhkan. Ini saya buktikan sendiri ketika menjalankan salah
satu project saya, dimana sebelumnya saya terlalu egois untuk memandang bahwa
project ini akan berhasil sangat besar dengan metode yang saya lakukan, ternyata
salah. Ekspektasi saya terlalu jauh, kekurangan dimana-mana dan banyak
kesalahan yang dilakukan. Project ini akhirnya melelahkan dan harus diakhiri
tanpa pamit, hanya dengan evaluasi yang tak selesai-selesai, replikasipun
tidak. Akhirnya saya hanya membuang waktu dan merusak semua keberhasilan yang
saya capai bersama orang-orang yang terlibat di dalam project tersebut.
Ini adalah pelajaran, dan saya sangat menghargai ini sebagai
ilmu baru untuk menghargai waktu, kapasitas dan project saya selanjutnya. Berhenti
berekspektasi tinggi, mulai melakukan dengan ekspektasi yang terukur.
Bagi yang ingin menonton cuplikan video kak Jejey, boleh
lihat disini:
atau video lengkapnya bisa diakses disini: https://youtu.be/sORrDla9t0c

Comments
Post a Comment