Holy Month Day 19 - Tentang Pernikahan (?)
Hampir semua refleksi yang saya alami, berasal dari
pembicaraan-pembicaraan random yang menjadi highlight pada hari itu. Namun,
refleksi ini terus saya bawa hingga menemukan jawabannya. Apakah semua orang
seperti itu? Entahlah.
Pembicaraan tentang pernikahan sering muncul ketika
berkumpul dengan ibu-ibu, maupun teman-teman seumuran saya yang mulai galau
tentang pernikahan. Saya yang sebelumnya tidak memikirkan tentang pernikahan
ini. Apakah memang sudah waktunya untuk mulai memikirkan hal itu di usia yang
seperti ini?
Saya punya banyak ketakutan tentang pernikahan, sebagian
besar didasarkan oleh pengalaman sendiri sejak mendampingi para orban KDRT
sewaktu kuliah, kasus perceraian yang hanya karena alasan salah pilih pasangan,
tanggungjawab yang mengikuti setelah pernikahan, keadaan finansial bahkan
persiapan pernikahan itu sendiri. Saya takut tidak bisa menanggung itu semua,
bahkan saya takut untuk komitmen jangka panjang; in case saya tidak bisa
menepatinya.
Banyak orang yang telah memberikan nasihat untuk jangan
takut memulai kehidupan pernikahan, karena ketika mengalaminya ternyata semua
baik-baik saja. Saya seperti percaya tidak percaya karena realita yang saya
hadapi sebelumnya, ternyata kehidupan pernikahan itu sama sekali berbeda, naik
turun seperti roller coaster. Bahkan ketika ditanya bagaimana mereka memutuskan
untuk menikah, saya hanya menemukan jawaban “kamu akan siap ketika kamu bertemu
dengan dia” serta “semuanya terjadi begitu saja, saya tidak tahu bagaimana kami
mengawali kehidupan pernikahan ini” yang membuat saya berpikir: ah, people
going crazy when they decided to got married.
Mungkin saya terlalu banyak berpikir, hingga akhirnya saya
menemukan pertanyaan:
Apa sih indicator kesiapan seseorang untuk menikah?
Apa menikah itu hanya sekadar cinta-cintaan, saling
mengerti, saling menerima dan mau membangun semuanya dari 0?
Bagaimana mereka harus dealing dengan kondisi finansial yang
membuat kita harus berbagi, hidup pas-pasan sedangkan sudah terbiasa dengan
hidup sendiri yang cukup hanya dengan dasar cinta?
Bagaimana sebenarnya mereka bisa bilang “yes I do” ketika
mereka sendiri tidak paham apa itu pernikahan?
Bagaimana mereka harus dealing dengan kehidupan pernikahan
ketika mereka membutuhkan ‘me time’?
Bagaimana mereka memutuskan untuk punya anak ketika mereka
sendiri masih sibuk dengan dirinya sendiri?
Dan pertanyaan yang paling esensial dengan diri saya saat
ini, bagaimana pasangan saya bisa menerima kalau saya saja tidak bisa berubah,
jadi seperti yang mereka mau, misalnya saya dituntut untuk tinggal dirumah
sedangkan saya adalah tipe yang ekstrovert? Bagaimana kalau saya harus pergi
menjauh dari orang tua sendiri dan mengikuti orang asing yang dipanggil suami
itu? Pasti akan sangat merepotkan.
Rusak sekali rasanya kalau saya harus menikah dengan keadaan
yang seperti ini. Haha
Saya memang berencana untuk tidak menikah dalam beberapa
tahun kedepan, mungkin sampai saat saya menemukan jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan saya. Kecuali, mungkin ketika saya berubah menjadi gila
dan membiarkan semua pertanyaan itu menjadi hal yang tak terjawab, dan
membiarkan semua tanggungjawab itu masuk ke dalam kehidupan saya begitu saja
dan merusak semua kesenangan yang ada lebih cepat dari waktu yang saya
targetkan. Mungkin Tuhan sudah mendekatkan dan saya tidak punya pilihan lain selain menjadi gila dengan kesenangan yang bodoh. Who knows?

Comments
Post a Comment