Holy Month Day 25 - Tentang kehadiran seorang anak dalam keluarga
Seberapa penting kehadiran seorang anak dalam suatu
keluarga? Apa indicator anak menjadi suatu ikatan yang kuat untuk sebuah
keluarga dapat ‘hidup’?
Sebagai seorang anak, saat ini saya seharusnya sudah
memahami bahwa anak bukanlah goal utama dalam membentuk suatu keluarga yang masuk
dalam ukuran ‘family goals’. Namun, bagaimana dengan orang lain? bagaimana
dengan keluarga besar yang selalu muncul dengan pertanyaan yang tidak pernah
habis tentang kehadiran seorang anak? Hal ini cukup mengganggu, sebenarnya.
Saya bertumbuh dalam keluarga yang patriarkis, dimana anak
menjadi salah satu ukuran bahwa keluarga itu adalah keluarga yang baik. Anak
yang ada baik sebelum atau sesudah terjadinya proses pernikahan menjadi indicator.
Lalu bagaimana dengan perempuan/laki-laki yang tidak mampu menghadirkan seorang
anak? Apakah mereka tidak bahagia? Saya sudah melihat banyak keluarga yang
berhasil dan yang gagal dalam hal ini dan menimbulkan banyak pertanyaan baru
yang sulit untuk saya jabarkan satu persatu. Seharusnya, sebagai seorang yang
pernah belajar, pertanyaan ini sudah khatam pada diri saya namun hal ini masih
menjadi hal yang mengganggu, karena cepat atau lambat saya pasti akan mengalami
hal ini juga. Entah memiliki, atau tidak. Untuk itu, saya hanya bisa
mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi entah saya akan dilabeli gagal
atau berhasil dimata keluarga yang patriarkis itu. Dalam keadaan yang seperti
ini, saya lebih memilih untuk tidak begitu banyak memikirkan tentang hal yang
mengganggu. Menikmati kesendirian pada masa ini, tanpa rasa khawatir tentang
masa depan menjadi pilihan yang menarik; saya tidak direpotkan dengan pemikiran
yang tidak perlu, perhatian-perhatian yang tidak perlu dan lebih berfokus pada
pencapaian sendiri. Pada saat seperti ini, bukankah khawatir pada pencapaian
diri sendiri lebih penting daripada memikirkan pencapaian yang belum terjadi,
bahkan belum dimulai?
Tetaplah berbahagia dengan jalan ini, Ki. Jangan memikirkan
hal yang tidak perlu, berhentilah menjadi overthinking. Biarkan, biarkan saja
semuanya terjadi. Kamu bisa mengatur indicator keluargamu sendiri, nanti. Jangan
biarkan pemikiran orang lain mengganggu pilihan dan jalanmu sendiri. Focus pada
peranmu sebagai anak, dan nikmati masamu sekarang. Pemikiran seperti ini wajar
dalam quarter life crisis, namun jangan biarkan itu mengganggumu. Bersenang-senanglah.

Comments
Post a Comment