Denial
Hai.
Apa kabar disana? Kuharap baik-baik saja. Aku menulis surat
ini ditengah awan kelabu yang menutupi warna senja di Ruteng. Aku tidak tahu
lagi, bagaimana caranya agar terus bisa menghubungimu. Aku kehabisan cara dan alasan,
dan kau menutup semua jalannya. Aku tidak punya pilihan lain selain
mengirimkannya lewat udara, bergumam sendiri lalu berharap suatu saat nanti kau
teringat bahwa ada sesuatu yang kau cegah untuk datang padamu-aku- lalu membaca
surat ini.
Sebenarnya, sangat banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan
padamu. Tentang keadaan kita saat ini, tentang kau yang berusaha menghilang,
tentang kau yang akhirnya mewujudkan segala ketakutanku akan kehilangan kamu. Mengapa
kamu memilih untuk menjadi seperti ini, dan bagaimana caranya agar kita bisa
memperbaiki semua. Namun, semua pertanyaan ini buyar ketika pada akhirnya,
hanya kalimat-kalimat rindu yang mampu aku keluarkan.
Aku ingin bercerita tentang warna kelabu hari ini. Warnanya gelap
menutupi warna jingga seperti yang pernah kita lihat di saat terakhir kita
bertemu, disana. Itu cukup menggangguku, karena akhirnya warna kelabu yang
biasa saja mempengaruhi perasaanku. Perasaan yang sudah mulai kutata dan luka
yang mulai mengering, seperti terbuka dan basah lagi karena wajahmu tiba-tiba
muncul di setiap sudut ruangan kerjaku, dan aku seperti melihat kau sedang
bercanda disamping kursiku. Menyandarkan kepalamu di bahuku sambil bercanda. Ah,
maafkan aku. Sepertinya aku sedang berhalusinasi. Bagaimana bisa kau muncul
disini, sedangkan kita sudah tak pernah saling berkomunikasi-kau tak tahu aku
ada dimana?
Warna langit sore ini cukup sendu. Dia seperti tak ikhlas
berlepas dengan warna senja yang indah, walaupun perpisahan itu keniscayaan. Mungkin,
saking tak ingin jauh, dia menutupi warna senja yang indah agar dapat dia
miliki sendiri. Mungkin, aku juga dahulu seegois itu padamu. Aku hanya ingin
memilikimu sendiri, sehingga kamu menjadi sesak lalu pergi untuk mencari udara
segar, tapi tidak pernah kembali lagi. Ataukah, aku tidak seegois itu, maka dirimu
dengan mudahnya terlepas? Aku masih tidak percaya kalau semuanya harus seperti
ini. Rasanya baru kemarin aku memberanikan diri untuk bilang bahwa aku percaya,
aku rindu, dan aku berani menempatkan hatiku dalam resiko untuk bersamamu. Namun,
aku dibuang begitu saja. Apa kali ini keputusan untuk mempercayaimu adalah
salah besar? Apa kali ini keputusan untuk mengakui dan jujur pada diri sendiri
adalah hal yang tepat? Padahal, kau sendiri yang memintanya. Aku, hanya
memberikan apapun yang aku bisa beri. Ah, aku mulai ngawur. Sepertinya aku
mulai halu. Lanjutkan saja semua urusanmu disana. Semoga kau sempat mengingatku
sedikit saja, agar surat ini tiba padamu.
Aku masih rindu.
Salam,
Aku

Comments
Post a Comment