Hati yang tidak Berotak!

Hari ini dua kali ditanyain soal hal yang sama oleh orang berbeda. Kenapa sih, gak mau terlibat lagi sama hubungan personal? Pertanyaan ini cukup membuat saya berpikir cukup panjang atas apa yang sudah saya lewati beberapa waktu terakhir. Ketika saya mulai melunak dan perlahan meruntuhkan semua barrier yang saya punya untuk menerima hubungan personal sebagai sesuatu yang juga saya perlukan.

Saya selalu berdalih, bahwa saya tidak ingin direpotkan dengan hubungan-hubungan pribadi karena kesibukan bekerja. Sejak pagi hingga malam saya harus bekerja dan setelah itu, masa saya harus mengurusi beban pribadi yang tidak mampu memberikan saya kepastian? Namun, lebih dari itu, saya kesulitan untuk mengakui perasaan saya sendiri untuk menjaga perasaan agar tidak tersakiti, tidak terluka dan sumur yang menganga di dalam dada tidak terbuka lagi.

Saya punya pengalaman yang cukup buruk dalam berhubungan, mungkin karena selalu total ketika ‘menyerah’ kepada seseorang. Saya menjadi manusia lemah yang akhirnya harus bergantung pada sesuatu yang tidak pasti. Ketika saya mengakui bahwa saya menyayangi sesuatu, maka sesuatu itu perlahan akan menyakiti saya. Entah karena kebohongan, hubungan yang akhirnya hanya sebatas status, sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi, atau urusan yang belum selesai di kehidupan sebelumnya. Karena ketakutan itu, saya menjadi seorang yang cukup denial dalam menjalani hubungan. Saya terbiasa mendengarkan, namun tidak terbiasa untuk mengungkapkan perasaan sendiri karena menurut saya, orang hanya tertarik dengan apa yang saya miliki. Mereka hanya menginginkan sesuatu dari saya. Akhirnya, saya hanya akan memberikan apapun yang mereka inginkan. Saya tidak tertarik untuk meminta apapun. Sudah cukup bagi saya untuk membuat harapan yang akhirnya akan dikecewakan oleh kenyataan. Ketika kamu merasa patah, hampir seluruh lini kehidupanmu akan hancur: kamu akan merasa kesakitan hingga tidak bisa tertidur berhari-hari kecuali sangat kelelahan dengan hampa, pikiranmu terganggu dengan bayang-bayang yang tidak nyata, kamu akan berkhayal bagaimana jika begini atau begitu..

Kamu akan terjatuh, membuat luka baru yang membutuhkan waktu untuk menyembuh dan kamu harus mulai menata dirimu dari awal lagi.. dan itu menyesakkan, hingga kamu kesulitan bernapas. Untuk menghindari semua itu, saya harus tega membuang semua hal yang berpotensi mengganggu kehidupan normal dan tenang ini, mengubur semua perasaan dan tetap diam. Pengalihan saya cukup bermanfaat: menyibukkan diri hingga lelah dan terus keras pada diri sendiri bahwa tidak ada orang lain yang mampu memberikan saya kepastian kecuali saya sendiri. Saya tidak mau lagi mengambil resiko untuk mencintai sesuatu yang akan menyakiti saya di kemudian hari. Yang akan membuat saya bermasalah di kemudian hari. Saya punya banyak tanggungjawab yang harus ditunaikan segera, dan masalah hati, saya tidak punya waktu yang tersisa untuk itu.

Dan hari ini, saya sudah melakukan kesalahan yang fatal hanya karena tidak mampu berfikir jernih.. hati saya yang tidak punya otak mengalahkan semua logika saya. Tiba-tiba saya berubah jadi bodoh dan harus menata diri dari awal lagi. Semua kekuatan yang saya punya sebelumnya, hilang. "Dasar hati bodoh! kamu sudah membuat tuanmu rusak lagi! Semua usaha yang dibangunnya, rusak! habis! Kamu sudah menempatkan semuanya dalam resiko yang bahkan tuanmu sendiri butuh waktu lama untuk menyelesaikan. Dasar hati bodoh! dungu! buta! bebal! kalau semuanya hancur, siapa yang mau tanggungjawab? siapa? kamu mau berharap siapa untuk perbaiki untukmu? memangnya ada? memangnya kamu masih kuat buat perbaiki semua lagi? semua ambisi, semua kekuatan yang kita kumpulkan selama ini? seenaknya seperti itu tanpa pikirkan apa yang terjadi, dasar hati sampah! mati saja sana!" umpat saya pada diri sendiri. Memang dasar Kiki yang bodoh. dungu. Bisa-bisanya masuk ke dalam masalah yang dia sendiri tidak bisa selesaikan. Akhirnya, harus melarikan diri. Goblok! Sampah memang kamu, Ki. Lemah hanya karena hal beginian. Taik

Hari ini, saya harus bangkit lagi, kembali menjadi kuat dan membangun barrier yang lebih kuat untuk melindungi diri saya sendiri. Butuh waktu lagi untuk menata semuanya, namun saya percaya waktu akan menyembuhkan semuanya. Berat di awal, namun ketika suatu saat saya sudah kebal, semua akan terasa biasa saja.

Biarkan semuanya hanya jadi ingatan. Mari lebih rasional. 

Salam waras!

Comments

Popular Posts