Mengekspresikan Rasa Rindu
Rindu punya banyak cara untuk mewujudkan dirinya sendiri. Banyak
wajah yang ia gunakan untuk menampilkan dirinya melalui mimic dan gerakan tubuh
seseorang. Terkadang, ia mengambil alih system kerja otak untuk melakukan
sesuatu sebagai wujud rindunya.
Berbagai jenis rindu sudah saya alami, dan saya rasakan. Mulai
dari rindu yang membahagiakan, hingga rindu yang sangat sakit hingga
menyesakkan dada. Rindu yang akhirnya mengambil alih system kerja otak saya
sehingga mampu melakukan hal yang ‘sembarangan’.
Malam ini, rindu itu datang lagi. Rindu yang pada akhirnya
mulai menyesakkan dada, namun tidak mampu berbuat apapun karena perasaan ini
menjadi tidak masuk akal. Ditambah, rasa gengsi yang membuat kata ‘rindu’ itu
menjadi semakin tidak jelas; kacau dan sulit untuk diungkapkan. Rasa rindu itu
akhirnya membuat saya memutar otak, bagaimana caranya agar bisa mengobati,
paling kurang sebagai obat sehat mental beberapa waktu kedepan.
Saya teringat, ada beberapa video yang tersimpan. Demi menjaga
gengsi, saya merindukan dia dengan diam, hanya memandangi dan tersenyum melihat
tingkahnya di layar laptop sendiri. Terkadang dijeda, agar bisa lebih lama
melihatnya dengan ekspresi yang konyol, dan mengenang tingkahnya yang saat itu
sangat receh. Rindu itu benar-benar membuat anak manusia ini menjadi manusia
yang konyol: senyum-senyum sendiri didepan layar, memangku dagu dan merasakan
kebahagiaan lebih banyak daripada mengalami sendiri pada saat itu. Membuat pikiran
melayang, bagaimana kehidupan ini berjalan bila bersama dia, dan bagaimana bila
tanpa dia. Perlahan mulai membayangkan banyak hal yang membahagiakan,
menyebalkan, dan bagaimana sebaliknya.
Ternyata, rindu bisa membuat orang menjadi aneh dan sedikit
menggila dengan wujudnya. Dan hari ini, ia memilih untuk bekerja dalam diam
dalam pikiran saya..

Comments
Post a Comment