Prolog
Banyak jenis hantu gentayangan di
dunia ini. Mereka punya cara tersendiri untuk melakukan penampakan dan
menghilangkan jejak. Hantu juga bisa berubah bentuk, sesuai dengan
keinginannya, atau mencontohi apa yang dia lihat misalnya meminjam wajah orang
lain. Biasanya, orang yang sudah mati. Banyak yang bilang ini qarin yang
gentayangan, namun entahlah apakah benar atau tidak.
Ada juga, hantu yang menyerupai
wajah orang hidup.
Hantu yang menyerupai orang hidup
terkadang suka lupa diri bahwa mereka adalah bantu bagi manusia yang hidup di
dunia nyata. Mereka bertindak seperti manusia pada umumnya: makan, tidur,
bekerja bahkan mencintai.mereka tidak menyadari bahwa semua itu adalah semu. Mereka
tidak akan pernah menjadi sama seperti manusia nyata hanya dengan menjiplak
rutinitas manusia. Meskipun memiliki perasaan mencintai, hantu tetaplah hantu. Mereka
akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Sialnya, ketika si hantu
menghilang orang yang dia cinyai juga akan merasakan kehilangan. Mereka merasa
bahwa ‘manusia yang mencintai dia’ sudah menghilang dan meninggalkan luka yang
cukup dalam. Si manusia nyata tidak menyadari bahwa dia mencintai makhluk yang
seharusnya diakui, tapi tidak perlu dicintai. Dia tidak menyadari bahwa mereka
sesungguhnya hidup dalam dimensi yang berbeda.
Hantu itu sengaja menyerupai
manusia untuk mencintai sesuatu yang sesungguhnya tidak diperbolehkan. Setelah bosan
dan menemukan makhluk sedimensinya, mereka lalu berpaling. Setidak setia itu
mereka. Hantu itu mungkin hanya sedang mencari pendampingnya, namun dengan cara
yang salah.akhirnya, menyakiti manusia nyata yang mengira bahwa yang dia balas
cintanya adalah manusia nyata.
Namun, ada manusia-manusia yang
bodoh pula. Walaupun mereka menyadari bahwa yang dicintainya adalah hantu,
mereka tetap saja memutuskan untuk memilih melanjutkan hidup dengan si hantu. Ujungnya
bisa bermacam-macam: bisa gila karena sering berbicara sendiri, bisa sampai
mati dengan menutup rapat kisahnya, ada juga yang berharap agar si hantu segera
menemukan pasangan sedimensi agar dapat berpisah, walaupun konsekuensinya
adalah rasa sakit karena patah hati. Pilihan yang terakhir adalah pilihan yang
cukup berat, karena selain harus menahan semua rasa sakit yang menerjang,
mereka juga harus menjaga diri agar tetap ‘waras’ di mata orang lain untuk
berbaur dalam kehidupan dunia nyata. Mereka harus melanjutkan hidup, entah
dengan menemukan yang sedimensi juga atau menikmati kesendirian mereka dengan
si hantu yang selalu hidup dalam ingatan.
Aku adalah salah satu dari
manusia bodoh yang mengambil pilihan terakhir dengan konsekuensi ganda:
mencintai seorang hantu berwujud manusia yang menurutku akan baik-baik saja
jika terlepas nanti. Aku terlalu sesumbar di awal karena hanya aku yang
memiliki dia, dan akhirnya harus menanggung kekecewaan karena nyatanya harus
melepaskan sesuatu yang hanya kumiliki sendiri.

Comments
Post a Comment