Terpaksa Siap
Kita tidak pernah benar-benar siap atas segala sesuatu yang
terjadi dalam hidup kita. Kita hanya ‘dipaksa’ untuk siap atas semua
kejadian-kejadian yang telah dirancang oleh semesta. Kita dipaksa untuk lahir,
besar dengan orangtua yang tidak bisa kita pilih, menjadi anak berbakti dan
mengikuti tatanan sosial yang ada. Begitu juga dengan orangtua. Walaupun dalam
prosesnya mereka bertanggungjawab dan memilih untuk memiliki anak, mereka tidak
bisa memilih anak seperti apa yang akan keluar dari Rahim si ibu. Mereka juga
dipaksa untuk siap atas segala kemungkinan yang terjadi pada sang anak. Ketika mereka
tidak siap, mereka akan merasa diri mereka gagal, dan tidak becus menjadi orang
tua. Seperti itulah konsekuensi menjadi tidak siap. Mereka terpaksa harus siap
untuk semua konsekuensi yang akan terjadi.
Kembali pada konteks manusia pada umumnya, semua yang
terjadi dalam hidup ini bagi saya adalah sebuah ketidakpastian yang niscaya. Apapun
yang terjadi, kita tidak pernah benar-benar siap. Selalu saja ada konsekuensi
yang mengikuti. Baik, atau buruk. Susah, atau senang. Semua akan menjadi sebuah
seleksi alam atas kemampuan manusia untuk menahan. Bagaimana bila tidak mampu? Kamu
bisa memilih untuk mengakhiri hidupmu, sehingga tidak harus mengalami ‘keterpaksaan’
yang ditujukan oleh semesta kepadamu. Dunia memang jahat, semesta memang kejam.
Ujian yang tidak habis-habis, karma yang terus berputar dan semua manusia harus
bersiap atas segala kemungkinan, walaupun dia tidak mampu. Seleksi alam.
Akhirnya, manusia juga dipaksa untuk mencari pembenaran atas
segala hal yang terjadi sebagai bagian dari hidup, bagian dari mencintai diri
sendiri. Penerimaan bahwa memang seleksi alam ini akan terus berlaku dan
sekarang, bagaimana jika kita menerimanya saja sebagai proses menjadi manusia. Lalu,
selama ini kita apa? Robot? Bahan percobaan?
Manusia terpaksa untuk siap menahan rasa sakit yang
berlebihan, beban yang berlebihan yang entah didapatkan darimana. Manusia terpaksa
siap untuk menerima sebuah kehilangan dengan dalil bahwa segala yang hilang
akan kembali dalam bentuk yang lain. apa itu? Bohong semuanya. Manusia kehilangan
yang dicintai karena kematian atau hati yang berpaling, atau terabaikan. Lalu,
dipaksa untuk menjadi siap dan menerima semuanya, melanjutkan hidup begitu
saja. Begitu saja? Tidak semudah itu, Ferguso.
Jadi, untuk apa sebenarnya kita bilang, saya siap, saya
mampu, saya kuat? bukankah itu hanya kebohongan? Bukankah kita memang tidak
pernah benar-benar siap? Bukankah kita hanya terpaksa siap untuk segala hal
yang terjadi? Kenapa saya selalu dipaksa untuk menjadi siap? Kenapa saya selalu
dipaksa untuk menjadi ikhlas? Kenapa saya selalu dipaksa untuk mendengarkan? Entah.
Saya mulai bosan dengan pembelaan bahwa ini merupakan proses pendewasaan diri. Hampir
25 tahun saya jalani hidup ini masih kurang dewasa juga? Sedewasa apa sih manusia
baru bisa dikatakan dewasa seutuhnya? Bagaimana menjadi dewasa yang baik? Apa indikatornya?
Pada akhirnya, saya mulai bosan untuk berdebat. Saya mulai
bosan untuk berargumen, saya mulai bosan untuk berbicara. Saya mulai bosan
dengan semua ‘seleksi alam’ dan keterpaksaan yang dirancang oleh semesta kepada
saya karena semua itu terlalu menyakitkan. Konon, saya harus menangis bila
ingin semua perasaan bosan ini menghilang namun saya sudah kesulitan menangis,
meski dipaksa. Kata orang, saya terlalu keras pada diri sendiri. Kata saya, saya
sudah terlalu sakit hingga lupa bagaimana caranya menangis walaupun dipaksa.
Saya terlalu lelah dan bosan dengan hidup. Haruskah menghilang,
kalau begitu?

Comments
Post a Comment