Acceptance
Tiga bulan terakhir, terlalu banyak hal yang terjadi. Banyak sekali
hal yang membahagiakan, menyedihkan, mengecewakan, dan masih banyak hal yang
cukup membuang waktu dan menguras tenaga. Beberapa waktu, saya merasa semua
yang terjadi membuat saya menjadi tidak produktif karena konsentrasi yang
terganggu, sempat down dan berefleksi tentang diri sendiri lalu bangkit lagi.
Sayapun mengalami beberapa kali tahap kesedihan: denial,
anger, bargaining, depression, dan acceptance. Berulang-ulang sehingga
berdampak cukup besar kepada trust issue yang sudah saya alami sejak lama. Manusia
ternyata tidak bisa benar-benar dipercaya.. Untungnya, saya masih mempercayai
diri saya sendiri, saya mampu bangkit, mampu hidup dan berjalan untuk capai
semua mimpi yang sedang saya coba wujudkan. Menjadi lebih ambisius, let’s say.
Semua ini jelas, selain berdampak pada mental juga berdampak
kepada kondisi fisik yang sering menurun. Namun, mau bagaimana lagi? Saya hanya
bisa cuap-cuap disini karena bagi saya, disinilah ruang aman yang bisa saya
temukan walaupun beberapa waktu lalu ada yang mencoba untuk.. ah sudahlah
hahahhaha. Ini juga salah saya, kenapa terlalu cepat terbuka. Tiga bulan ini
menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk lebih selektif dalam
memilih teman, memilih kesempatan dan membuat kesempatan baru untuk orang lain. Tiga bulan ini juga membuat saya lebih focus untuk diri sendiri, untuk ambisi dan
kebahagiaan sendiri. As I said, sometimes being selfish is a good thing.
Beberapa teman pernah bilang bahwa saya terlalu keras pada
diri saya sendiri; terlalu menjaga perasaan sendiri agar tidak terluka dan
membebani diri sendiri dengan hal yang seharusnya bisa dibagi dengan orang lain
bila saja saya mau terbuka dengan orang yang mendekat kepada saya. kembali
lagi, saya melindungi jiwa saya dari rasa sakit yang berlebihan, yang
mengganggu saya dalam mencapai mimpi karena saya lelah merasa sakit. Saya berpikir,
lebih banyak hal membahagiakan lainnya yang bisa saya lakukan daripada membuang
waktu untuk merasakan kesakitan yang seharusnya tidak perlu saya rasakan. Saya lebih
memilih kebahagiaan yang hampa daripada harus merasakan kesakitan yang berarti.
Saya merasa kesakitan-kesakitan yang saya rasakan sudah cukup, dan saya merasa
tidak perlu mendewasakan diri dengan hal bodoh seperti itu lagi.
Diantara semua rasa tertutup, beban dan kesakitan itu ada
satu hal yang menguatkan saya. saya selalu berkata pada diri sendiri setiap
bagun tidur: selamat pagi, Ki. Semua yang
sudah terjadi, semua pencapaian yang kamu miliki hingga pagi ini kamu membuka
mata, semuanya karena kamu keras pada dirimu sendiri. Hal itu yang melindungimu
hingga hari ini dari rasa sakit, kekecewaan, kemarahan dan rasa sakit
berlebihan yang dialami oleh manusia normal lain sepertimu. Terima dan maafkan. Hanya itu solusi yang
bisa kamu berikan pada dirimu sendiri, agar kamu siap dan lebih kuat dengan
masalah yang akan terjadi hari ini. Bersyukurlah, kamu masih terus bertumbuh dengan
positif hingga hari ini. Lalu, saya meminta pertolongan Tuhan agar selalu
melindungi semua langkah yang saya ambil pada hari itu.
Sesaat beberapa waktu lalu, saya melupakan semua doa ini dan
memutuskan untuk melepaskan semua, namun ternyata bukan pilihan yang baik.
Ternyata, menjadi lebih lunak malah menghancurkan saya. Menjadi manusia yang
berbagi, bergantung adalah pekerjaan manusia lemah yang menghancurkan perlahan,
dari dalam. Dan hari ini, saya menjadi lebih kuat, lebih berani dan ambisius
dengan positif.
Namun, apakah saya masih menjadi manusia normal seperti yang
lainnya ketika saya sama sekali tidak mau merasakan sakit? Bila focus pada
mimpimu sendiri, bagaimana dengan mimpi orang lain denganmu? Bagaimana kamu
menjalani hidupmu bila semua pintumu tertutup? Entah. Saya tidak ingin
menjawabnya. Saat ini, menutup pintu dan menjadi egois menjadi lebih penting
bagi saya daripada mimpi dan bahagia milik orang lain.

Comments
Post a Comment