Bodoh!

Bicara soal percaya itu kaya pergumulan yang luar biasa ya. Ketika kita mencoba berusaha untuk percayai lagi seseorang yang sudah dengan sakiti kita dan berkontribusi atas makin parahnya trust issue yang kita alami, lalu karena hati kita yang tidak bisa meninggalkan, lalu kita kembali meningkatkan batas toleransi kita untuk menjaga agar kita tidak mengalami rasa sakit karena suatu kepergian.

Kata orang, kepercayaan itu seperti kertas yang diremukkan; ketika sekali kamu remukkan lalu membentangnya lagi: ia tidak akan sama halusnya. Mungkin itu yang terjadi pada saya. Saya tipe orang yang memiliki level toleransi yang cukup tinggi kepada orang yang saya rasa sudah sangat dekat dengan saya. saya membiarkan sekali untuk memperbaiki, dua kali untuk memperbaiki dan tiga kali untuk memperbaiki. Begitu selalu, karena saya meyakini bahwa orang akan berubah. Begitu terus hingga akhirnya saya muak dan mundur sendiri karena kelelahan. Mungkin kadarnya akan berkurang, namun tetap saja kepercayaan itu masih ada.

Namun kali ini, saya percaya karena ketakutan. Ketakutan akan rasa yang lebih sakit, ketakutan bahwa saya akan lebih rusak dari sebelumnya. Saya ‘terpaksa’ percaya karena perasaan saya sendiri menuntut agar melakukan sesuatu agar tidak terluka lagi. Sebenarnya, kali ini masih cukup terluka karena rasa kurang percaya dan insecure yang bergabung jadi satu. Semua akhirnya berefek ke kondisi fisik saya yang sering menurun, dan tidak segar seperti biasanya. Namun apa daya, hati yang bodoh ini tetap meminta untuk bertahan. Masih ada harapan, katanya. Saya bahkan ragu apakah perasaan ini masih tulus adanya, atau hanya karena untuk menjaga diri saya sendiri agar tidak kesakitan lagi seperti sebelum-sebelumnya.

Rasa insecure karena waktu, jarak dan overthinking yang berlebihan. Kehilangan kabar membuat overthinking, kesibukan masing-masing membuat insecure, jarak menggabungkan semuanya. Ah andai saja dekat, bisa saja saya iseng-iseng melewati tempatnya hanya untuk mengurangi perasaan yang tidak enak ini. Mungkin ini sebabnya kenapa saya menjadi ‘tidak tulus’ dalam mempercayai dengan meminta jaminan. Jaminan bahwa saya tidak akan terluka lagi, atau mungkin jaminan bahwa bukan hanya saya yang akan dilukai ketika kepercayaan saya dirusak. Harus ada hati lain yang terluka ketika kepercayaan saya dirusak lagi. Maafkan saya, siapapun kamu. Saya menjadikanmu tumbal untuk perasaan bodoh saya sendiri, demi seseorang yang belum tentu memiliki perasaan yang sama besarnya seperti saya kepada dia. Maafkan saya yang terlalu egois, tidak mau terlalu lama menunggu jawaban segala istikharah saya dan memaksakan kehendak saya untuk memiliki dia untuk saya sendiri. Mungkin saat ini Tuhan sedang menghukum saya karena keegoisan saya sendiri: menyakiti banyak orang hanya demi memiliki sesuatu yang mungkin bukan Allah gariskan untuk saya. Akhirnya saya harus menanggung perasaan sendiri, karena tidak ada yang mau mendengar-mereka menganggap saya cukup kuat untuk menghadapi semua masalah sendiri yang ternyata menghancurkan saya dari dalam.

Saat ini, saya hanya bisa menutup mata, telinga dan pikiran saya dengan rasa percaya. Semoga memang benar, kepercayaan kali ini tidak dirusak lagi. Semoga memang benar, jawaban semua istikharah ini sesuai dengan harapan saya sebelumnya. Semoga di lauhul mahfudzmu, memang ada nama saya. Semoga semua usaha ini memang bukan sia-sia.

Saya percayai kamu kali ini, sekali lagi.

Comments

Popular Posts