Daftar Prioritas

Lim,

Kamu bilang dia beruntung sekali karena disukai oleh perempuan seperti saya. Seharusnya dia cepat sadari itu. Entahlah. Saya tidak melihat sesuatu yang istimewa di diri saya, yang membuat dia harus merasa beruntung karena disukai oleh seorang perempuan yang haus perhatian dan kasih sayang seperti saya. Saya malah merasa menjadi beban atas kesibukannya sehari-hari, dengan dunianya. Sedangkan saya, terus berusaha mengalihkan rasa haus ini dengan mengalihkan semuanya pada segala kesibukan (yang tidak perlu). Saya justru berharap dia tidak akan pernah sadari itu, karena memang tidak ada apa-apanya ketika disukai oleh saya. Saya tidak mampu memberikan apapun selain waktu, pikiran yang saya punya, dan satu-satunya hati yang baru saja diperbaiki.

Masih jelas dalam ingatan saya ketika dia bilang, tidak mau terbebani dengan masalah pribadi, karena dia sedang berfokus pada pekerjaannya. Ini membuat saya berpikir sendiri, Lim, berada dalam urutan keberapakah saya dalam daftar prioritasnya. Saya bahkan ragu, saya berada dalam 5 besar daftar prioritasnya. Terlalu berlebihankah ketika saya meminta menjadi prioritasnya ketika kami sebenarnya belum memulai hubungan yang mampu menempatkan satu sama lain dalam daftar prioritasnya? Perasaan ini cukup mengganggu sebenarnya. Ketika saya harus merasa tidak apa dengan keadaan seperti ini, sisi lain dalam diri saya (yang kehausan itu) menginginkan lebih. Menginginkan waktu, hati dan pikirannya seperti saya memberikan hal yang sama kepada dia. Saya sadar, bahwa hubungan ini bukanlah jenis yang harus memberikan segala timbal balik dengan setara. Tapi, kenapa saya menginginkan hal yang sama? Kenapa sisi lain saya terlalu banyak menuntut? Ah, ini juga mambuat saya berefleksi, dalam urutan keberapa saya menempatkan dia dalam daftar prioritas saya sehingga saya jadi begini? Kamu tidak perlu bertanya lebih lanjut, karena dia akan jadi orang pertama yang akan saya beritahu jawabannya.

Saya seperti melihat diri saya yang dulu. Saya yang menyia-nyiakan banyak orang yang menempatkan saya dalam urutan prioritas seperti yang saya inginkan, menyia-nyiakan banyak hal hanya karena tidak ingin terbebani dengan hal lain diluar dunia saya sendiri. Saya menyakiti perasaan banyak orang untuk melindungi diri saya sendiri, melindungi apa yang saya miliki. Saya cukup ego untuk melepaskan sesuatu. Mungkin kali ini, karma sedang mendatangi saya. Semua keinginan yang orang lain kepada saya, harapan orang lain kepada saya, sekarang berbalik. Saya menginginkan dan berharap, namun tidak memiliki kuasa apapun untuk mendapatkan dan mewujudkan harapan itu. Pikiran seperti ini, Lim, yang membuat saya sedikit lebih tenang. Lebih merasa tidak perlu untuk menuntut apapun ketika menyukai dia. Karena dulu, sayapun seperti dia: tidak mau terbebani oleh apapun yang mengganggu ambisi dan menghalangi jalan saya. Kali ini, saya merasakan apa yang sudah saya lakukan kepada orang lain: ternyata rasanya tidak enak. Sepertinya, kali ini logika saya sudah mengambil lebih banyak control atas rasa rindu dan keinginan saya.

Saya bersyukur, saya bisa merasakan ini semua sekarang-karma datang kepada saya di saat ini-, bukan di masa depan. Karena jika semua ini terjadi di masa depan, mungkin saya akan kesulitan untuk menanganinya. Mungkin rasanya lebih membakar, karena saat itu, mungkin perasaan saya sudah lebih besar dari saat ini. atau, mungkin perasaan ini sudah hilang? Bisa saja saya mengalami ini saat saya mulai menyukai orang lain. Mungkin lebih besar. Dan lebih sakit. Saat itu, mungkin saya akan memilih untuk melarikan diri. Jauh dari sini. Oh, tidak. Perasaan saya kembali mengambil alih. Saya mulai bicara sembarangan. Sudah, ya. Saya mengantuk. Esok, saya harus berusaha menjadi tidak apa karena jika memang apa-apa, saya tidak tahu harus mulai bicara darimana. Itu melelahkan.

Comments

Popular Posts