Dasar Jurangmu

Akhirnya satu-satunya hati yang kusayangi itu berhasil terjun bebas ke jurang yang kau buatkan untuknya. Setelah ia jatuh, aku yang menutup mataku saat ia terjun kembali membuka mata dan berjalan perlahan ke tepian jurang lalu menengok ke dasarnya: ia telah hancur berkeping-keping, pecah tak karuan. Aku lalu turun perlahan melalui tangga tersembunyi yang berada di sela-sela bebatuan menuju dasar dengan membawa semua perekat terbaik yang kumiliki untuk memperbaiki hatiku itu. Namun nahas, semakin dekat kuperhatikan, ternyata keadaannya lebih buruk dari perkiraan. Aku teringat, beberapa waktu lalu, aku baru saja memperbaikinya karena 'kasus bunuh diri' yang sama. Saat terakhir kali kuperbaiki, dia masih memiliki retakan-retakan dan lubang kecil yang rentan bila hancur lagi.

Sesampainya di jurangmu, aku memungut satu persatu puing hati yang sangat kusayangi itu. Mengumpulkannya di satu tempat terlebih dahulu agar dapat lebih mudah digabungkan kembali. Kuoleskan lem yang cukup banyak agar dapat merekat dengan baik, walaupun di beberapa bagian warnanya telah memucat. Namun ketika kurekatkan satu bagiannya, bagian yang lain terlepas. Saat kurekatkan bagian yang terlepas itu, ia melebur, menjadi bubuk lalu tertiup angin. Ah, hati ini sudah rusak sangat parah. Aku kebingungan, bagaimana memperbaikinya sementara beberapa bagian sudah melebur menjadi debu. Sejujurnya, aku tidak berharap hati ini akan kembali seperti semula, paling tidak ia masih berbentuk hati, masih terlihat dan layak disebut sebagai hati. Harapan ini sepertinya cukup muluk. Ia sudah hancur, warnanya yang telah memucat itu kini menghitam, tanda tidak terselamatkan. Sepertinya, ia telah mati karena kehabisan darah karena aku terlambat menolongnya karena kelemahanku.

Aku hanya bisa menangis tersedu saat itu. Sesaat kemudian, tiba-tiba semuanya terasa hambar, hampa dan kosong. Kematiannya membawa semua perasaan yang aku miliki. Airmataku perlahan terhenti, dan pandanganku kosong. “Tidak ada gunanya lagi menangisi hatimu. Dia tidak akan kembali hidup: aku sudah menyusun skenario terbaik untuk membunuhnya. Kau tidak akan bisa mencintai lagi setelah jatuh dalam jurangku. Aku sudah membunuh hatimu dengan cara yang sangat sempurna dan ia dengan bodohnya menyerah padaku,” suara tanpa tubuh berbisik lirih dengan nada yang sangat bangga.

Lalu aku berdiri, mengelap air mataku dan beranjak dari puing-puing hati yang telah mati itu, membiarkan dia menyatu dengan bumi dan angin didasar jurangmu. Di perjalanan pulang, aku menghadiahi diriku sendiri waktu untuk berkabung atas kematiannya, sekaligus membiasakan diriku untuk hidup dengan dada yang kosong.

Comments

Popular Posts