Gerakan Tanda dari Kehidupan

“Kenapa kamu tertarik untuk bangun start-up, Ki?” Lim bertanya suatu saat.

Lim bercerita bahwa dia sering mengikuti update media sosial saya yang sering menceritakan tentang dunia start-up. Kamu menceritakan mimpimu untuk membuat start-up dan teori-teori yang pernah kamu pelajari.

Saya hanya menjawab: karena saya tahu diri, saya sadar bahwa saya tidak mampu untuk bersaing dalam CPNS. Mau tidak mau, harus memulai. Awalnya, ini hanya project iseng yang diseriusi karena masa pandemic yang menuntut saya harus tetap berpenghasilan. Project-project yang saya develop hanya untuk mengisi waktu luang selama saya berada di Ruteng, sebelum akhirnya saya bersiap untuk pindah lagi. Namun, saat ini saya sudah mengikhlaskan semua peluang kerja di luar daerah untuk mengerjakan project sendiri dengan pemikiran: sampai kapan mau wujudkan mimpi orang lain? lalu, siapa yang wujudkan mimpi kita sendiri?

Saya juga bercerita tentang kelemahan-kelemahan saya dalam pekerjaan ini seperti pelaporan diatas kertas sehingga harus berkolaborasi dengan yang mampu agar tidak kesulitan. Lim heran ketika saya bercerita bahwa system kerjanya adalah koperasi. Orang bisa mempercayai saya padahal saya tidak mampu menjanjikan apapun dan baru berkenalan dengan para member. Saya menjawab dengan sedikit tertawa, sayapun heran. Saya hanya anak dengan modal nekat dihadapan orang-orang ini. Namun, mereka percaya. Mungkin karena saya pandai bernegosiasi? Entah. Saya masih bingung hingga saat ini. 

Lim heran, dari sekian banyak lahan bisnis apalagi untuk zaman sekarang inginnya yang sedang trend dan fancy, mengapa saya bisa terpanggil untuk masuk ke lahan usaha yang berhubungan dengan pertanian karena jarang ada anak muda yang mau terjun ke usaha pertanian karena tidak terlihat fancy. Bagi saya, justru sector pertanian itu keren dan prospeknya sangan menjanjikan karena semua orang butuh makan dari hasil pertanian selama mereka masih hidup. Soal fancy atau tidak, menurut saya hanya karena image petani yang dibuat kurang bagus saja, seperti kotor, dekil dan berpenghasilan rendah. Bagaimana jika kita ubah imagenya menjadi petani yang jago bisnis, weekdays pake caping dan weekend jadi anak nongrong, petani kota yang memanfaatkan teknologi. Istilahnya diupgrade. Kalau sudah begini, saya yakin ini akan jadi pekerjaan yang fancy dan menarik anak muda untuk berbondong-bondong masuk ke sector pertanian.

Cukup banyak anak muda yang saya temui, tidak ingin menjadi petani, padahal berasal dari keluarga petani. Pemahamannya seperti ini: kalau orang tua sudah menjadi petani, maka anaknya jangan jadi petani lagi, jadi karyawan atau apapun asal berbeda, karena karyawan minim resiko asalkan loyal pada tempatnya bekerja. Sedangkan petani harus berhadapan dengan banyak resiko: hasil tidak terjual, gagal panen, masalah lahan, dan sebagainya. Padahal kalau kita mau melihat hal yang sama dari perspektif yang berbeda, menurut saya akan sangat menarik hasilnya.

Kalau kita flashback lagi, jarang ada anak kecil yang bermimpi untuk jadi petani. Ketika sudah besar dan paham baru mereka menjadi petani, biasanya bukan by choice namun karena tuntutan keadaan. Kembali lagi, karena image petani yang terlanjur buruk di mata orang banyak. Orang lebih prefer untuk menjadi buruh migran di daerah lain daripada jadi petani di kampung sendiri. Padahal, apabila mau menjadi petani by choice, saya yakin ini bisa jadi salah satu langkah untuk mengurangi angka kekerasan pada buruh migran, karena mereka tidak perlu keluar daerah untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Disini, perubahan paradigm menjadi koentji!

Menurut Lim, pengaruh media juga cukup besar untuk membuat anak dari perkampungan turun ke kota. Sebenarnya itu tidak salah, hanya di kota sudah penuh dengan bangunan dan kendaraan yang membuatnya terlihat maju karena paradigmanya adalah daerah maju harus penuh dengan bangunan. Pun lahan pertaniannya berkurang, entah mau kios, took, bengkel memang menghasilkan uang. Namun apabila ditilik lebih mandala,. Bahan pangan menjadi diluar control terutama komoditas pertanian. Baik, kalaupun ada took ataupun kios di kampung, sumbernya bukan dari kota sendiri. Ketika memasuki masa krisis seperti ini barulah terasa distribusi yang macet dimana-mana. Ketika lahan pertanian mulai berkurang entah kapan terjadinya, suatu hari nanti bahan yang paling sukar dicari adalah sayur mayur yang segar. Bagi Lim, ini seperti pengikisan pola pikir yang perlahan menjadi pengikisan lahan pertanian: semua akan terasa ketika krisis distribusi. Semua akan kebingungan untuk mendapatkan akses sayuran dimana. Perlahan, bahan sayuran hanya untuk mengenyangkan namun sudah tidak memiliki nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Saya menjelaskan pada Lim, bahwa kami membangun project ini dengan concern bahwa semua orang butuh akses sayuran segar yang kita ketahui asalnya dari mana. Saya pernah mempelajari tentang isu kedaulatan pangan yang akhirnya saya bawa hingga hari ini. Daulat pangan dari keluarga, dari rumah yang akan didevelop juga. Kami berbeda dengan anak muda yang hanya menjalani bisnis untuk keuntungan, kami menyisipkan gerakan kemanusiaan. Concern sosial yang kita angkat salah satunya adalah harga yang baik dibanding tengkulak-tengkulak jahat yang melakukan permainan harga, namun ternyata masih kalah dengan para pemain besar yang sudah terlebih dahulu nyemplung ke dunia ini.

Namun, ada hal lain yang terganjal. Kata orang, bisa saja saya bahagia karena dekat dengan alam, terutama air yang melimpah. Namun sebenarnya ini adalah pencitraan atas pressure kerja yang dibuat sendiri dan persaingan bisnis yang harus dihadapi cukup keras. Persaingan yang terjadi, bukan saja dengan pemain yang berbeda tujuan, tetapi juga teman-teman sendiri yang akhirnya memulai model bisnis yang sama. Entah mengapa tidak mau bergabung, tetapi menjadi sporadic. Bagaimanapun, ini tetap bisnis dan itu cukup melelahkan karena yang memikirkan tidak banyak kepala. Berendam kaki di air, biasanya membuat tubuh saya menjadi rileks dan menjadi healing tersendiri ketika bertemu para petani dan mereka senang karena hasilnya bisa terjual dengan harga yang baik. benar kata Sherlock Holmes, kehidupan nyata lebih aneh dibandingkan semua scenario film yang bisa dibayangkan oleh seorang sutradara. Kesalahan saya memang bisnis yang saya jalani melibatkan perasaan, dan hasilnya pasti kacau. Lim bilang jangankan bisnis, pertemanan saja bila melibatkan perasaan juga bisa kacau.

Selain itu, kami juga berbicara tentang tengkulak yang terekspos dengan image negative, padahal masih ada tengkulak yang baik dan dengan cara yang baru. Masih, paradigm adalah koentji. Selain itu, untuk mengeliminasi maka kita perlu mengganti, peran tengkulak jahat digantikan oleh tengkulak baik yang punya concern sosial yang ada.

Kami lalu mengobrol tentang anime yang kami gemari, One Piece yang sedang dalam seri kerajaan Wano, dimana kalau masyarakatnya tidak sadar benar tentang pentingnya sector pertanian bagi kehidupannya maka akan kesulitan seperti Wano.

“Gerakan tanda dari kehidupan,” kata Lim.

 

Comments

Popular Posts