Hantu

Hantu itu selalu muncul pada pukul dua dini hari. Dia muncul dengan senyuman yang memenuhi wajahnya yang pucat dan ceria. Sejak awal bertemu, aku selalu terheran-heran. Darimana semangatnya datang ditengah malam hingga saat inipun masih mampu bercerita dengan penuh energy? Walaupun aku terlalu lelah untuk meladeninya, namun entah mengapa aku selalu melakukan hal yang sama- mendengarkan ceritanya dengan seksama hingga pukul empat pagi, menjelang subuh. Setiap hal yang ia ceritakan seperti sangat membahagiakan, dan membuatku tidak bisa berpaling.mimik wajahnya, gerak bibirnya, ekspresinya dan gerak tangannya ketika berbicara membuatku tak mampu memalingkan sedikitpun perhatianku padanya. Seperti ada magnet, semuanya terasa menarik untuk didengarkan.

Ceritanya kadang berubah-ubah, tidak detail dan tidak beraturan. Bicaranya manja seperti anak kecil, namun pada waktu yang lain seperti orang dewasa yang sedang memberikan nasihat pada anak yang akan keluar rumah untuk melihat dunia. Pernah sekali, ia tertawa lepas dan suaranya memenuhi seluruh ruang kamarku. Aku langsung memukul lengannya, “kalau kedengaran gimana?” tanyaku.

“tenang saja, hanya kamu yang bisa mendengarkan suaraku. Karena aku milikmu,” jawabnya.

Aku tersenyum. Bahagia sekali rasanya ketika dia hanya milikku sendiri. Walaupun terdengar egois, namun toh taka da yang tahu, kan? Toh dia hanya muncul didepanku, bercerita hanya padaku dan hanya aku yang bisa mendengarkan semua ceritanya. Hanya aku yang bisa menerima keadaannya yang semu di duniaku.

Kami bertemu hampir setiap hari, ketika mataku hampir menutup seluruhnya. Dia mengetuk pintu, atau jendela kamarku untuk menandakan kedatangannya. Selalu begitu, dan hari-hari berjalan seperti biasa namun aku bahagia karena selalu ada tempat untuk bercerita di malam hari yang dapat dibayar dengan mudah: mengorbankan waktu tidurku untuk menatap matanya, mendengarkan suaranya. Terkadang, dia berbaik hati untuk membiarkan aku tidur. Mungkin dia melihat kesibukanku hari itu. Dia hanya mengelus kepalaku hingga jatuh tertidur, lalu ketika aku terbangun dia sudah pergi. Namun aku yakin, esok aku akan bertemu lagi dengannya di pukul dua dini hari. Semoga dia datang lagi.

Comments

Popular Posts