Lupa Diri

Ada satu hal yang terjadi lagi dalam hidup saya. Alhamdulillah, puji Tuhan. Akhirnya saya bisa mendapatkan kepastian dari apa yang saya tunggu selama ini tentang sesuatu. Sesuatu ini awalnya cukup mengganggu saya karena harus bertaruh dengan ketidakpastian. Bahagia yang tidak pasti akan bertahan lama, atau kesedihan yang tanpa alasan dan tidak pasti kapan menghilangnya. Hari ini, akhirnya saya memberanikan diri untuk meminta kepastian yang selama ini saya inginkan. Mengambang terus, ternyata tidak enak, justru membuat saya makin bingung kemana arahnya, apa yang harus diakui dan apa yang harus dilakukan. Akhirnya saya berani untuk menanyakan siapa sebenarnya saya di matanya, dan apa yang sebenarnya dia inginkan. Apakah saya benar-benar ada di masa depannya. Jawabannya cukup menyakitkan walaupun tidak dikatakan secara jelas, namun entah mengapa melegakan karena pada akhirnya sudah jelas: saya harus mengubur semua harapan jauh ke dalam tanah dan saya memang tidak ada dalam masa depannya. Selama ini, saya hanya berharap pada cangkang kosong. Tidak ada apapun yang terjadi, dan semua ini hanya delusi dalam diri saya.

Namun, semua itu akhirnya membuat logika saya semakin berpacu, dan akhirnya semakin menyadari bahwa saya memang tidak bisa melawan perasaan sendiri sebagaimanapun kepastian yang harus saya hadapi. Saya menjadi semakin sadar bahwa logika memiliki cara kerja yang sama dengan perasaan tulus. Kita bisa menyukai, menyayangi seseorang dan tidak mengharapkan apapun dari yang disayangi: membiarkan perasaan itu terus bertumbuh dan membunuh kita dari dalam. Padahal, bisa saja kita utarakan semua yang ada didalam dada, menjadi manusia ego yang menginginkan keseluruhan yang disayangi itu untuk kita sendiri. Namun, yang kita lakukan hanyalah merasakan, dan berusaha untuk tetap dekat dengan jarak yang aman dengannya. Bagi saya, ini cukup masuk akal untuk menyelamatkan hati kita untuk tidak patah dan rusak karena menginginkan hal yang tidak mungkin ada dan terjadi pada kita.

Walaupun lebih banyak rasa sakitnya, rasanya tidak semua perasaan harus diutarakan dan tidak semua perasaan harus jadi 'harus'. Sebagai manusia, kadang kita sering lupa diri. Kenapa kita harus sedih ketika orang yang kita sukai tidak berbalik suka kita, atau yang kita sayangi ternyata lebih memilih orang lain untuk disayangi. Itulah alasan kenapa semesta tidak mau memberikan kebahagiaan yang banyak kepada kita. Kita sering lupa diri ketika sedang bahagia..

Perlahan, kita harus menyembuh. Ingat bahwa kita hanya manusia, dan tidak baik memaksakan perasaan yang seharusnya tidak perlu dipaksakan. Tidak perlu memaksa hati untuk cepat terbuka lagi. Bila masih perlu berbenah, ditutup saja dulu pintunya agar tidak ada yang bertamu. Kadang, kita perlu ruang kosong dalam hati kita untuk diri sendiri.. bahwa sebenarnya, mencintai diri sendiri adalah sesuatu yang sangat pasti, merencanakan masa depan sendiri tanpa perlu bersandar dimanapun, kita mampu.

Kita mampu berdiri tanpa tumpuan apapun.



  

Comments

Popular Posts