Orgasme

Hai, Lim.

Hari ini kita bicara soal hal yang agak tabu, karena saya memulai pembicaraan tentang salah satu thread media sosial soal posisi seks. Ternyata kamu juga belajar tentang itu ya.. saya beruntung sekali bisa jadi teman bicaramu. Kita bisa saling belajar dari satu sama lain dan menambah wawasan.

Kamu memulai pembicaraan dengan membahas buku The Tao of Sex tulisan Stephen Chang dan hal-hal berhubungan dengan kamasutra, yang merupakan bacaan yang cukup menantang. Dalam buku itu, katamu, menjelaskan bahwa dalam sperma terdapat energy sangat besar yang dimiliki laki-laki. Ketika perempuan menyerahkan tubuhnya = laki-laki menyerahkan energinya. Katamu, menurut Napoleon Hill, energy seks apabila ditransmutasi dapat menjadi kekuatan spiritual yang besar. Ketika laki-laki melakukan penetrasi dan mengeluarkan spermanya, sesungguhnya laki-laki kehilangan energinya. Jadi, transmutasi seks yang dimaksudkan adalah pengalihan energy seks menjadi energy kreatif yang lain. bukannya berhubungan seks bisa membangkitkan energy spiritual, namun sebaliknya: seks sampai titik orgasme baik bagi perempuan dan laki-laki malah mengurangi kemampuan spiritualnya.

“Lalu, untuk meminimalisir pengurangan kemampuan spiritual maka sebaiknya ketika penetrasi tidak perlu sampai orgasme?” tanyaku penasaran.

Orgasme adalah pelepasan, dan sering dimanfaatkan untuk melepas stress, katarsis dan relaksasi. Pelepasan punya efek jangka pendek saja, sedangkan itu energy  cukup besar yang sulit untuk di manage, sehingga jalannya adalah dikeluarkan.  Analogimu cukup menarik: energy seks sama seperti Aang saat menjadi mode avatar, ketika tidak bisa dimanage maka akan menjadi liar dan setelah mode avatar off maka dia akan lemas atau bahkan pingsan. Berbeda dengan fase ketika ia bisa dikontrol. Ketika berhubungan seks, seharusnya sampai pada fase orgasme agar ‘selesai’. Apabila ingin ditransmutasi, artinya mengalihkan nafsu seksualnya untuk mencapai/melakukan hal lainnya. Katanya, seks adalah energy. Ketika nafsu tersebut berlebih maka dapat ditransmutasikan.

 Saya jadi penasaran apakah ini ada hubungannya dengan ikatan emosional pasca penetrasi yang dirasakan oleh orang yang melakukan hubungan seksual. Katamu, orgasme dalam seks adalah kunci keintiman secara emosional dengan pasangannya. Nah, tantangannya adalah perempuan lebih sulit untuk mencapai orgasmenya dibandingkan dengan laki-laki. Ada juga laki-laki yang bisa menyesuaikan dengan ritme si pasangan perempuan, misalnya 2-3 round. Namun, itu memang butuh latihan dan menurunkan ego si laki-laki untuk segera mencapai klimaksnya. Perempuan memiliki 9 fase untuk mencapai orgasme, berbeda dengan laki-laki yang grafiknya dapat meningkat secara tajam. Kamu benar, bahkan di kampung-kampung tempat saya bertugas dulu, perempuan bahkan tidak paham apa itu orgasme, padahal sudah memiliki beberapa anak. Mereka belum pernah mengalami orgasme seumur hidupnya, sehingga hanya melakukan fungsi reproduksi selama hidupnya. Ini cukup menyedihkan karena perempuan juga perlu untuk merasakan orgasme, karena kenikmatan seksual adalah milik bersama. Hahaha

“Namun, ikatan emosional juga tetap bisa terjalin tanpa adanya hubungan seksual. Ikatan emosional yang terjalin ketika orgasme yang dimaksud mungkin adalah sensasi yang masih terekam. Banyak manusia yang tertipu dengan ilusi ini. Pelepasan yang efeknya jangka pendek seperti itu yang akan membuat candu, dan lama kelamaan akan menjadi obsesi yang berujung pada penyimpangan,” jelasmu. Mungkin, ini juga ada hubungannya dengan orang-orang yang memiliki aseksual, dimana dalam satu titik, saking sayangnya mereka tidak ingin melakukan hubungan seksual: mereka sangat menjaga bahkan takut untuk menyentuh pada titik terparahnya.

Kamu lalu menjelaskan panjang lebar tentang anatomi vagina yang sama sekali tidak saya pelajari secara mendalam. Kamu menjelaskan bahwa perempuan memiliki dua jenis orgasme yang sangat dipengaruhi oleh bagian-bagian tertentu. Perempuan memang rumit, katamu. Itulah kenapa ada istilah fake orgasm. Orgasme pada perempuan ada dua: orgasme dengan merangsang klitoris dan orgasme dengan merangsang g-spotnya. Ketika proses senggama, jarang terdapat g-spot dan klitoris tersentuh penis, sekalipun perempuan menikmati, tetap saja tidak utuh. Menurutmu, tanpa rangsangan pada g-spot dan klitoris, sangat mustahil perempuan mengalami orgasme. Bisa saja orgasme terjadi tanpa rangsangan pada dua titik tersebut hanya jika perempuan SANGAT menyukai lelaki yang berhubungan dengannya sehingga tanpa sentuhan fisiologispun, perempuan dapat orgasme secara psikologis.

Pada dasarnya, kemungkinan punya anak perempuan lebih besar dibandingkan anak laki-laki karena penis anak laki-laki merupakan pengembangan dari vagina; secara sperma sampai ke jadi janin lebih lama di Rahim perempuan sehingga secara otomatis menyerap kromosom ibu lebih banyak. Ketika vagina janin berkembang menjadi penis dalam janin, klitoris menjadi kepala penis, labia terkatup rapat lalu menjadi buah zakar dan kemungkinan g-spot adalah bagian vagina yang tersembunyi dalam vagina sebelum berkembang menjadi penis yang mengembang keluar.

Hal yang perlu digarisbawahi bahwa ejakulasi dan orgasme adalah dua hal yang berbeda, namun yang jelas orgasme berhubungan dengan psikologis dan ejalukasi berhubungan dengan fisiologis. Ejakulasi bisa terjadi tanpa orgasme dan sebaliknya, bersamaanpun bisa. Yang membuat ikatan ekosional itu, orgasme, bukan ejakulasi. Orgasme terjadi ketika pelaku hubungan seksual puas secara psikologis. Ejakulasi pada perempuan kuantitasnya bisa lebih banyak, bisa mencapai satu cangkir bila dikumpulkan, namun sayangnya hanya sekitar 40% perempuan yang bisa mencapai ejakulasi karena rangsangan yang dibutuhkan berbeda pada setiap perempuan. Itulah kenapa foreplay memegang peran yang sangat penting: perempuan bisa orgasme tanpa ejakulasi, tetapi laki-laki tidak bisa orgasme tanpa ejakulasi. Setiap pasangan harus mampu mempelajari ini agar bisa menyenangkan pasangannya masing-masing. “Sifat seksualitas yang seperti ini yang menggambarkan tingkat ketulusan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Maksudnya, perempuan memang diciptakan bukan untuk menikmati seks secara berlebihan karena bagian-bagian vagina yang paling sensitive itu tersembunyi, tanpa tangan maka akan cukup sulit untuk ditemukan dan dibuka rangsangannya. Lain hal dengan penis yang terpampang nyata bagian sensitifnya sehingga lebih mudah dan banyak selingkuhnya,” tutupmu dengan bercanda.

Saya menjadi bingung, bagaimana seksologis mempelajari ini semua karena selain implementasinya, ilmu seksualitas merupakan hal yang cukup abstrak. Ternyata, ketika dinikmati dan disadari lalu dipahami, semua tidak akan menjadi abstrak karena seks adalah tipe aktivitas yang sangat menjunjung tinggi prinsip learning by doing. Hahaha. Ini cukup menjawab bagaimana seksologis bisa belajar begitu dalam.

Akhirnya, ada ruang untuk berbicara tentang hal ini.

Terima kasih ilmunya, Lim. 

Comments

Popular Posts