Refleksi Hari Koperasi Nasional - Merasionalkan Mimpi
Ada yang tahu ga hari
ini hari apa?
Hari ini, 12 Juli 2020 adalah hari koperasi nasional. Usia Koperasi sudah 73 tahun di Indonesia dan hari ini, saya dapat undangan untuk sharing-sharing lucu soal koperasi di @demeko.334455 punya Mas Sena. Masih ingat mas Sena? Salah satu CEO yang waktu itu pernah saya ceritain pernah bareng-bareng ke India untuk belajar koperasi. Nah beliau ini punya satu platform untuk belajar tentang demokrasi ekonomi di Indonesia. Untuk peringatan hari koperasi hari ini, mereka buat diskusi online gitu, dan saya dapat kesempatan untuk jadi pemantik di salah satu sesinya: "12 Juli 2047, seperti apa perayaan 100 tahun koperasi Indonesia yang kita impikan?"
Nih flyernyaa:
Sebenernya agak nervous
yak karena ini pertama kalinya saya jadi narsum di diskusi online kaya gini,
dan langsung berhadapan dengan orang yang jam terbangnya udah tinggi banget. Banyak
sekali insekyur-insekyur dan bingung banget mau ngomong apa pada awalnya,
karena memang saya belum begitu dalam mempelajari koperasi. Seumur jagung lah. Namun
akhirnya saya mikir dong: selalu ada kali pertama dan ketidaknyamanan sebagai
pemula dari rasa ‘terbiasa’. Akhirnya, saya memutuskan untuk berbicara tentang
mimpi, dimana semua hal yang saya lakukan hingga detik ini dimulai dari mimpi
masa kecil. Saya bercerita tentang bagaimana saya bermimpi, merasionalkanya dan
platform Sayur Mayur Ruteng akhirnya lahir. (eh soal Sayur Mayur Ruteng ini
saya belum sempat cerita disini yaa.. nanti deh di post yang lain akan saya
ceritakan. Belum pede karena belom bisa disebut sukses banget hahaha).
Nah, ngomong-ngomong
soal mimpi, saya punya satu tulisan lama tentang merasionalkan mimpi. Ini menjadi
satu ulasan saya (secara general) tentang mewujudkan mimpi, yang merupakan
inspirasi dari presentasi saya dalam diskusi hari ini. Bagi kamu yang mau
nonton video diskusinya, bisa cek ke Youtubenya Demeko 334455 yak!
“Saya
diingatkan sekali lagi bahwa mimpi, ketika dipecah menjadi tujuan konkret,
menjadi rencana yang dapat dicapai. Dan kerja keras serta komitmen terhadap
suatu visi, akan menuai hasil.” – Maudy Ayunda
Sejak lama, saya punya satu kebiasaan:
menulis semua mimpi saya di satu buku kecil yang saya bawa kemanapun ketika
bepergian, seperti bucketlist. Saya menulis semua keinginan-keinginan yang
mungkin saja menurut orang adalah hal yang muluk, dan tidak mungkin untuk
dicapai. Bukan tanpa alasan, saya menulis semuanya untuk terus mengingatkan
saya bahwa ada mimpi yang harus terwujud, ada tujuan yang harus tercapai dan
ini adalah bagian dari petualangan hidup saya. Ketika mimpi saya mulai
terwujud, saya tuliskan tanggal disamping tulisan yang telah saya buat untuk
membuktikan bahwa satu persatu, mimpi saya terwujud, rencana-rencana, tujuan
saya mulai terwujud satu persatu seiring waktu. Memang, ketika melihat masih
banyak yang belum terisi tanggal, saya agak terbebani namun ini seperti
‘mencambuk’ saya untuk lebih berambisi, lebih focus dan lebih semangat lagi
untuk mewujudkan semua mimpi yang telah saya buat sendiri.
Perlahan, saya melihat semua kebiasaan
ini mengubah saya- dari saya yang selalu takut untuk memulai, saya yang selalu
mengawali semua rencana dengan masalah menjadi lebih berani, “ah yang penting
mulai saja dulu, belajar kemudian” atau menjadi mem’bisa’kan segala sesuatu
even I don’t know how to do it. Memang ada dampak negatifnya, menggampangkan
segala sesuatu dengan mindset “I’ll figure it out later” namun untungnya, saya
benar-benar selesaikan semuanya hahaha. Bukannya bermaksud takabur lho ya..
hanya mau berbagi tentang apa yang saya alami sejauh ini.
Saya menyadari bahwa semua ini tidak
terjadi begitu saja. Semua mimpi tidak akan terwujud begitu saja tanpa ada
perencanaan. Lalu, bagaimana caranya?
Rasionalkan. Bagaimana kamu
mewujudkan mimpimu tergantung bagaimana kamu merasionalkan mimpimu sendiri.
Membuat sesuatu yang tidak masuk akal menjadi sesuatu yang masuk akal, menjadi
sesuatu yang bisa digapai. Bagaimana kamu membuat peta untuk menuju mimpimu
sendiri, dan bagaimana kamu tetap konsisten, punya komitmen penuh untuk
mencapai mimpimu. Ketika kamu tidak punya komitmen dengan dirimu sendiri,
bagaimana bisa kamu mencapai mimpimu, sedangkan tidak ada orang lain yang bisa
diharapkan selain dirimu sendiri?
Saya merasionalkan mimpi saya,
kira-kira seperti ini: saya ingin mencapai A, sejauh apa jarak saya dari A, dan
bagaimana cara saya menggapai A. saya menghitung semua kekuatan dan potensi
yang saya punya, apa yang harus ditambah dan apa yang harus dikurangi. Lalu waktunya
membuat rencana, dalam berapa lama saya harus mencapai A, dan konkritkan
langkah-langkahnya.
Pernah beberapa kali, saya menyerah
dengan mimpi saya. dengan usia yang seperti ini, dengan tuntutan yang semakin
banyak, apakah mungkin saya akan mewujudkan semua bucketlist yang sudah saya
buat sendiri?
Saya menyadari, usia manusia tidak
lama. Bisa saja saya mati sebelum memenuhi semua mimpi saya, atau bisa saja
saya sudah memenuhi lebih banyak daripada bucketlist yang saya buat sendiri.
Ini manusia. Kita bisa merencanakan apapun, dan tetap saja semua kenyataan yang
akan menunjukkan hasil rencana kita. Ini akhirnya membawa saya untuk menerima
kenyataan bahwa bisa saja semua keinginan saya tidak terwujud, namun hal
terbaiknya adalah saya pernah bermimpi dan berusaha untuk mencapainya. Saya
pikir, ini adalah pencapaian terbaik yang sudah saya lakukan untuk konteks
mimpi yang tidak tercapai itu. Mungkin nanti, anak saya yang akan melanjutkan
mimpi ibunya hihi. Seperti kata Maudy Ayunda lagi (emang idola nih orang):
Penting buat anak muda sekarang jangan terlalu panik tentang masa depan.
Terkadang mimpi itu berjalan terus maju aja tanpa harus tau persis. Tidak ada
mimpi yang tidak bisa dicapai. Jika mimpi itu terlalu besar untuk dicapai,
mulailah membagi mimpi tersebut menjadi bagian-bagian kecil. Karena sebenarnya
mimpi besar berawal dari serpihan mimpi kecil yang sudah kamu wujudkan
sebelumnya.
Ahh ngobrol tentang mimpi sebenernya
asik banget sih. Rasionalisasikannya yang kadang bikin banyak orang males,
ribet katanya. Enakan bermimpi, gratis dan bisa lebih dari kenyataan. Tapi, apa
artinya kalau mimpi hanya tinggal mimpi?


Comments
Post a Comment