Cangkang Kosong
Hai, kamu.
Malam ini aku berada di tempat yang sama seperti
waktu itu, menunggumu yang mungkin saja lewat tanpa menyadari ada aku di
sekitarmu. Bendungan rasa yang aneh, yang selama ini aku tahan itu sepertinya
mulai meretak. Sudah tidak bisa ditambal lagi walaupun aku sudah berusaha
sekuat tenaga untuk tidak bergerak. Aku tidak ingin mengakui apapun namanya itu
padamu, karena itu akan merusakku lebih jauh lagi. Ini melelahkan sebenarnya:
jarak ini bukan jarak yang dekat, beban ini bukan beban yang ringan. Walaupun telah
diingatkan berkali-kali bahwa yang kulakukan ini adalah hal yang sia-sia, aku
masih tetap dengan konyol melakukannya. Entah kenapa. Sesungguhnya ini
mengecewakan karena untuk kesekian kalinya aku tidak menemukanmu dan aku masih
memilih untuk percaya bahwa ini adalah cara terbaik untuk mengobati sakaw atas
kamu.
Memang benar ya, ketika rasa sudah mengambil alih
control atas tubuh kita, kita bisa melakukan apa saja yang tidak masuk akal. Aku
tidak tahu kapan bisa berhenti seperti ini. hampir saja aku berubah menjadi
bar-bar: menghampiri dan menemuimu, mungkin mengajakmu berbicara atau mungkin
saja hanya menatapmu sebentar lalu pergi lagi, seperti orang bodoh. Sepertinya ini
adalah puncak rasa yang aneh itu: rasa ingin menemuimu yang akhirnya
menggerakkan seluruh otot dalam tubuhku. Rasanya seperti hampir mati karena ada
yang ingin melompat dari dalam dada melalui mulut, tetapi salurannya terlalu
kecil. Sepertinya, lubang mendalam yang ada di dalam dada ini masih menyisakan
memori tentangmu yang menguap ke permukaan dan membuatku menginginkanmu lagi,
sesakit apapun keadaannya.
Namun, perlahan angin malam menyadarkan sesuatu
tentangmu, tentang hatimu yang kuusahakan dan hatiku yang kau hancurkan berkali
hingga ia mati dengan sangat dramatis: bahwa sekeras apapun aku berusaha saat
itu –bahkan mungkin saat ini- hatimu memang sudah tidak berada disini, bersama
tubuhmu. Hatimu sudah pergi bermil-mil jauhnya dari tempat kita berada saat
terakhir kali kita bertemu. Bodohnya, aku pura-pura bodoh dan meyakinkan diriku
bahwa aku bisa memenangkannya. Aku paham bahasa tubuhmu, gerakanmu. Aku bisa
paham bahwa aku hanya sekadar selingan karena kau hanya sekadar benci sendiri. Kesombonganku
akhirnya terbayar tuntas: aku kalah dengan satu pukulan mutlak. Memenangkan tubuhmu
adalah keuntungan bagiku, namun ternyata aku hanya memenangkan cangkang kosong yang tertutup.
Hatimu tidak ada pada tempatnya dan itu membunuhku dari dalam karena ambisi
yang tidak terpuaskan. Ternyata, aku sama sekali tidak memenangkanmu. Itu hanya
delusi.
Kamu menyayangi dirimu dengan baik: memanfaatkan
situasi dan perasaanku dengan menjadikan aku pelepas penat yang berguna. Sudah
waktunya aku menyayangi diriku dengan cara yang berbeda, dengan menjaga diriku sendiri dari apapun yang akan menghancurkan atau menggali lubang didadaku lebih dalam. Saat ini,
kamu telah menjadi titik terendah dalam hidupku, dan kamu menjadi alasanku
untuk bangkit, lebih kuat dan lebih menutup dari segala hal yang dapat merusak
lebih parah lagi: rasa sialan itu.
Pada akhirnya, aku harus memaksa untuk mengusir
diriku sendiri dari sini. Cangkang kosong bukanlah tempat yang cocok untuk
menyandarkan semua beban yang aku punya, karena ia hampa, rapuh dan terlalu
lemah untuk menjadi tempat bergantung. Bisa saja hancur dari dalam dan
merubuhkan segala yang telah kubangunkan untuknya nanti.

Comments
Post a Comment