Ketenangan
Ada pertanyaan yang muncul dalam
benakku saat pertemuan terakhir kita di tepi pantai siang itu, telah sama-sama
menyadari bahwa kita telah kalah oleh kekuatan semesta yang menghendaki kamu
dan aku untuk berpisah ditengah badai di hari-hari sebelumnya, sekuat apapun
kita berusaha untuk bergandengan atau serendah apapun kita menurunkan ego untuk
saling menarik ditengah ombak yang menghantam: semua usaha itu tidak akan
pernah berhasil. Sepertinya saat itu kita sedang merayakan kekalahan kita, ya.
Ditertawakan oleh angin, debur ombak dan langit yang sedang cerah-cerahnya.
Sejujurnya saat itu perasaan dan
logikaku sedang bertengkar hebat hingga aku sedikit limbung. Perasaanku –yang
kau tahu apa itu memaksaku untuk tetap tinggal, membiarkan semesta menertawakan
kesia-siaan dua manusia ini dan menikmati jarak yang tidak terlampau jauh
dengan sentuhan-sentuhan tidak sengaja yang entah kenapa terasa menenangkan.
Logikaku –yang juga sangat kau pahami itu dengan angkuhnya berkata bahwa kita
hanya melarikan diri dan itu adalah kelakuan pengecut. Bumi akan terus
mengitari matahari dan waktu akan terus berdetak. “Berhentilah memanjakan
perasaan yang tidak berotak itu! Berhentilah hidup dalam delusi!” omelnya.
Namun, logikaku mungkin sedang berbaik hati saat itu. Dia membiarkan dirinya
berdiam sesaat dan membiarkan aku menikmati saat itu. Dia paham bahwa ini kali
terakhirnya membiarkan aku seperti ini: menikmati ketenangan yang semu. Karena
setelah saat itu, logikaku akan mengambil alih tubuhku sepenuhnya, sekuat
apapun perasaan yang berperang melawan untuk merebut kembali posisinya.
Oh, kembali kepada pertanyaanku. Saat
itu aku bertanya pada diriku sendiri, apakah memang logika dan perasaan itu
selalu berlawanan ataukah mereka seharusnya sejalan? Bagaimana jika mereka
berlawanan, namun tetap dipaksa untuk berjalan bersama? Apa efeknya bagi diri
dan orang-orang yang disayangi –termasuk dirimu? Lalu di sisi mana aku akan
mendapatkan ketenangan seperti saat itu: saat kamu duduk di sebelahku,
memejamkan mata seperti turut menikmati angin yang menertawakan kita? Ah,
sepertinya rasa tenang yang aku pahami terlalu dangkal. Semu.
Lim, temanku pernah bilang, logika itu
seperti kemudi dan perasaan adalah bahan bakarnya. Yang kupahami dari sini
adalah perasaan menggerakkan logika kita agar kita bisa bertindak. Artinya
logika yang memiliki gas dan rem saat kita berinteraksi dengan siapapun.
Mungkin demikian. Yang aku mengerti, logika dan perasaan tidak dapat dipisahkan
agar kita tetap menjadi manusia yang utuh. Aku jadi teringat katamu saat itu,
ketika logikaku mengambil kendali penuh, aku seperti robot yang detail dan
memperhitungkan semuanya. Namun saat bicara soal perasaan aku seperti anak
kecil yang bahkan belum pernah mempelajari apapun. Mungkin itu alasannya
logikaku lebih banyak mengambil kendali. Perasaanku terlalu bodoh untuk
memahami hal serumit ini.
Namun, ada satu hal menarik yang aku
temukan dari pembicaraanku hari itu sembari aku mencari jawaban atas
pertanyaanku itu bahwa logika dan perasaan, keduanya bisa saja menjadi korban,
mereka bisa saling menyakiti. Artinya, jika mereka bertentangan, tubuh dan jiwa
kita tidak akan menemukan ketenangan dan semuanya akan menjadi melelahkan.
Dampaknya bukan hanya terasa pada diri sendiri, namun juga dirasakan oleh
orang-orang disekitar kita. Bisa jadi, mereka juga ikut lelah, tersakiti atau
bahkan muak.
Kita telah memilih untuk mencukupkan
segalanya, karena kita sama-sama menyadari bahwa perasaan cinta saja tidak
cukup untuk membuktikan bahwa kita ‘cukup’ mampu menenangkan seluruh badai yang
terjadi atas kehendak semesta. Kita tidak mampu menenangkan badai ditengah laut
dengan cara menguras airnya. Diatas perahu yang hampir karam, kita berpasrah
karena sadar bahwa tidak akan selamat bila memaksa perahu yang berlubang besar
untuk terus berlayar. Satu-satunya jalan untuk menjaga kita tetap hidup adalah
mencari sisi lautan tenang, berenang dengan mengandalkan pelampung yang kita
punya, lalu mencari pulau terdekat untuk memulihkan diri walaupun resikonya
kita akan terpisah dan tidak tahu apakah kita akan terdampar di pulau yang
sama, atau akan terpisah selamanya.
Karamnya perahu itu, sama sekali bukan
kesalahan kita kok. Memang saat itu sedang badai, namun kita memaksa untuk
tetap berlayar sehingga harus menanggung resikonya. Karena sesungguhnya,
ketenangan yang kita lihat adalah hal yang semu. Ketenangan yang sesungguhnya
tidak pernah kita dapatkan bahkan dalam diri satu sama lain sehingga semesta
berusaha menyadarkan kita dengan semua isyaratnya yang sejak awal kita (aku)
abaikan. Ketenangan yang aku pahami terlalu dangkal dan semu karena definisi
ketenangan yang aku tambatkan padamu. Kita lupa bahwa kita tidak mampu lari
dari dunia nyata dan menghentikan waktu. Kita terlalu memaksakan perasaan dan
logika yang berlawanan untuk berjalan bersama.
Akhirnya, aku menemukan jawaban atas
pertanyaanku sendiri. Ketika kita mencintai seseorang, seharusnya logika dan
perasaan dapat berjalan seiring dan tidak menyakiti siapapun. Dengan begitu
kita bisa mendapatkan ketenangan yang sesungguhnya serta keyakinan untuk
menghabiskan sisa hidup kita dengan orang itu. Orang yang kita cintai itu
seharusnya dapat membawa ketenangan dalam dirinya, dan mampu mengendalikan
perahu di tengah badai, membawa kita dengan selamat kepada sisi lautan yang
lebih tenang dan berlabuh di pulau bersama kita, yang merasa aman karena
bersama orang itu. Ketenangan yang dalam dan nyata, yang sangat aku inginkan
itu. Ketenangan yang tidak aku temukan dalam dirimu. Atau mungkin kamu memang
membawa ketenangan, hanya bukan ketenangan seperti itu yang aku cari. Aku
menyayangimu hingga detik ini, hanya, bukan kamu ketenangan yang aku cari.
Badainya telah mereda dan kita
terdampar di pulau yang sama, namun kita memilih untuk tinggal di sisi pantai
yang berbeda dan memutuskan untuk melanjutkan hidup lalu menemukan ketenangan
kita sendiri-sendiri.
Dialog Senja - Lara

Comments
Post a Comment