Melepaskan

22.45

3 jam dan 15 menit lagi, hantu itu akan muncul di jendela kamarku.

Setelah malam saat kutinggal tidur, ia tak datang lagi. Beberapa hari lamanya aku menunggu, berusaha agar mataku tetap terjaga hingga pukul dua dini hari. Namun hasilnya nihil; setiap memasuki pukul dua, harapanku berganti dengan harapan baru, “mungkin dia akan terlambat”. 10 menit, 30 menit, waktu berlalu dan tidak ada yang terjadi. Tidak biasanya dia terlambat seperti ini. Jendelaku taka da yang mengetuk, pintuku taka da yang membuka. Dia tidak datang. Seketika, harapanku berganti menjadi kekecewaan.

Kekecewaan itu terus terjadi hingga aku terbiasa. Menunggu dengan harapan yang hampa, lalu tertidur dengan pikiran yang kosong walaupun banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak saat itu: mungkinkah dia sudah pergi? Mungkinkah dia telah bosan denganku? Ataukah mungkin dia marah? Apakah dia tidak akan kembali lagi? Atau dia sudah memutuskan untuk memilih kehidupan dalam dimensinya sendiri?

Banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan karena kepergiannya yang mendadak. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghubungi dia karena hanya aku yang mengenalnya, aku yang memilikinya dan dia hanya muncul dalam hidupku. Berbeda dengan mencari manusia, aku sama sekali tak bisa mencarinya di duniaku. Malam terus berlalu, satu hari, tiga hari, satu minggu, satu bulan. Pukul dua dini hari memiliki sensasi rasa sakit tersendiri karena harapan yang selalu dikecewakan oleh kenyataan hingga akhirnya aku mampu untuk menguatkan diriku sendiri bahwa kalaupun dia ingin pergi, maka aku harus menghormati segala keputusannya. “Kita harus mengetahui batasan kita. Menghormati semua keputusan dan keinginan, termasuk keinginannya untuk tak lagi muncul disekitarku. Kita harus terus kuat untuk hidup lebih lama lagi. Jangan lagi bergantung pada ‘manusia tak kasat mata’ yang sudah tak ada kalau tak mau cepat mati. Lepaskan, jangan terlalu cepat namun jangan terlalu lambat, karena aku hanyalah manusia yang punya rasa kehilangan. Dia hanya hantu yang akan tetap menjadi hantu, seindah apapun kelihatannya. Semoga dia akan terus menghilang seperti ini agar aku terbiasa, dan tak perlu berduka terlalu lama”.

Waktu berjalan, dan aku mulai menerima bahwa kami tak akan bertemu lagi ditengah malam untuk sekadar berbagi cerita, tertawa dan bersedih bersama. Namun, aku masih belum mampu menghilangkan kebiasaanku untuk tetap terjaga hingga pukul dua dini hari, lalu bisa tertidur setelahnya. Sepertinya jam biologisku membutuhkan waktu untuk menyesuaikan. Aku telah terbiasa menjadi bodoh dengan menunggu hal yang sudah pasti tak akan datang. Perlahan, pasti semuanya akan membaik. Mungkin sebaiknya memang begitu.

***

3 bulan sudah sejak saat aku mulai menyembuh, tiba-tiba jendela kamarku berbunyi, ada yang mengetuk. Caranya mengetuk sangat familiar, dan aku langsung tahu apa itu.

Dia datang lagi.

 

Comments

Popular Posts