Merayakan Kehilangan
Hai, Nang.
Hari ini, tepat 28 Agustus 2020. Bila
kita masih bersama, artinya hari ini kita merayakan hari jadi tahun keempat. Apa
kabar kamu disana? Semoga baik-baik saja. Saya lihat belakangan kamu sering
kumpul dengan teman-temanmu. Saya yakin saat ini kamu sudah baik-baik saja,
karena kamu selalu kuat dan tangguh bahkan ketika semua orang meninggalkanmu,
termasuk saya. kamu cukup tangguh untuk mengatakan semuanya baik-baik saja
walaupun disetiap sudut ruanganmu, setiap jalan yang kamu lewati saat ini
(mungkin) mengingatkanmu pada semua hal tentang kita dulu, sedang saya sudah
menjauh dari sana untuk bisa bangkit lagi. Bila saya ada dalam posisimu, mungkin
saya tidak kuat. Kupang dan setiap sudutnya memang selalu punya cerita. Coba ceritakan,
dimana saja pohon bunga flamboyan yang sudah bermekaran? Saya dengar dari
seorang teman, beberapa pohon sudah mulai berwarna oranye.
Hari ini cukup melankoli bagi saya. Ruteng berangin, mendung dan berkabut tipis seperti saat hujan di desa Binenok sepanjang hari itu. Saya suka mengenang masa-masa itu, dimana kita saling menggantungkan mimpi dan harapan tentang masa depan. Kita suka duduk berdua saja memandangi bintang yang terlihat cerah dilangit desa itu, dan sesekali melihat kunang-kunang beterbangan mengitari kita. Merencanakan masa depan: rumah seperti apa yang kita inginkan, anak sebanyak apa dan siapa saja nama mereka. Walaupun sangat jauh dan terkesan muluk, kamu masih mau membicarakannya. Kamu tahu persis, saya perlu diyakinkan setiap saat perihal eksistensi saya dalam masa depanmu. Kamu memberikan segalanya, namun sialnya saya belum mampu untuk menyerah sepenuhnya: termasuk kesabaran hingga akhirnya kita harus jatuh dan bangun berkali-kali. Dan saat ini kita sudah jatuh dan tidak mampu bangkit lagi karena kaki-kaki yang menjadi fondasi kita sudah patah dan rubuh: kita terlalu kelelahan untuk diperbaiki lagi. Saya akui, kali ini adalah kesalahan saya. ambisi saya merusak semua mimpi yang terlalu indah itu.
28 Agustus kali saya merayakannya
sendiri. Entah apa yang saya rayakan hari ini karena sekarang kita sudah terpisah
cukup jauh, dan sudah tidak ada jalan untuk memutar balik. Saya seperti hanya
ingin merayakannya untuk mengenang bahwa saya pernah menjadi seorang perempuan
beruntung yang bisa hidup denganmu di lebih dari seribu malam. Sialnya, saya
dibutakan oleh ambisi yang menyilaukan dan membuat saya buta lalu melepaskan
ikatan denganmu.
Seorang teman pernah bilang, dia
melihat kita berdua masih menggunakan cincin yang sama, promise ring yang
selalu melekat di jari. Katanya, mungkin masih ada kesempatan untuk ‘pulang’. Tapi,
saya tidak sejahat itu, Nang. Menjadikan kamu rumah yang bisa saya masuki dan
tinggalkan seenaknya. Kamu rumah yang harus ditinggali dan saya tidak akan
pernah mau menyakiti kamu lebih dari ini. Sudah cukup saya menyakiti dengan
mengorbankan kamu untuk keegoisan dan ambisi saya. Hatimu terlalu tulus untuk
disakiti lagi. Mungkin sejahat itu saya padamu, yang akhirnya menjadikanmu
sebagai kebiasaan walaupun semua akhirnya terasa hambar, walaupun perasaan menyayangimu masih tetap tinggal: ruanganmu masih kubiarkan kosong disini, hingga sekarang.
Perihal cincin itu, mungkin hanya
kebiasaan kita karena tidak pernah dilepas. Semua benda pemberianmu masih saya
pakai dengan baik, dan masih ada yang saya simpan. Kadang, saya tersenyum sendiri
sambil mengenang saat kamu memberikan barang-barang itu bersama surat yang
biasanya kamu selipkan diantaranya. Semuanya masih saya simpan, termasuk
setoples burung kertas berisi surat-suratmu yang kau buat di tahun-tahun
kebersamaan kita. Burung kertas dalam kepercayaan Jepang dianggap sebagai simbol
dari harapan, cita-cita dan semangat. Kata orang, ketika kita membuat seribu burung
kertas maka harapan dan permohonan kita akan terkabul. Mungkin, saat itu burung
kertas yang kita buat belum cukup jumlahnya sehingga harapan kita untuk membacanya
bersama sesaat setelah mengikat janji, tidak terkabulkan. Akhirnya kita hanya
membacanya didalam kamar masing-masing dan burung kertas yang kamu harap tidak akan saya baca itu, akhirnya akan terbuka juga.
Hari ini, saya memberanikan diri
untuk membuka surat-surat yang terlipat itu untuk mengingat kamu. Saya tahu,
ini akan membuat saya semakin menyadari bahwa saya telah melakukan kesalahan
besar karena melepaskan kamu, dan tidak akan mungkin untuk membawamu kembali
lagi. Namun, saya tetap ingin membukanya, saya ingin tahu isi hatimu.
Nang,
Saya cukup terkejut, ternyata
kamu adalah lelaki yang romantis. Kamu tidak menyadari itu, sayapun tidak.
Saya terlalu terpaku pada ekspektasi yang tidak mampu kamu capai. Saat membaca
semua surat-suratmu, saya menemukan banyak hal: harta karun yang sebenarnya
sudah saya miliki namun saya abaikan begitu saja. Saya semakin memahami isi
hatimu, pikiranmu, kekhawatiranmu, bahkan cintamu untuk saya sejak awal hingga
saat terakhir kita. Terlalu banyak doa yang kamu panjatkan untuk kita berdua
yang tidak serius atau bahkan lupa saya aminkan. Terlalu banyak bahagia-bahagia
kecil yang terjadi, namun karena sifat manusia yang jarang memperhatikan hal
kecil dalam hubungan, saya menjadi lupa, bahkan tidak melihatnya. Maafkan atas
kekurangan saya selama menjadi pasanganmu, Nang. Hari ini, kamu membuat saya
belajar banyak hal dari surat-suratmu tentang seperti apa perasaanmu dan
seperti apa perlakuan yang kamu dapatkan dari saya yang saya kira sudah baik,
ternyata masih belum memenuhi keinginanmu. Saya selalu merasa semuanya cukup,
Nang. Kali ini, saya belajar untuk menjadi lebih peka, melunak dengan orang
yang tulus menyayangi saya seperti kamu. Maafkan saya yang terlalu keras padamu
dulu. Hubungan kita baik-baik saja, tidak ada yang kurang. Hidup kita berdua
sangat sempurna. Yang salah itu saya, yang tanpa ragu melepaskan apa yang saya
miliki hanya untuk ambisi yang belum tentu bisa memuaskan saya dikemudian hari.
Saya terlalu terfokus pada hidup saya sendiri, hingga saya lupa bahwa saya
sudah miliki kamu saat itu. Maafkan saya yang sudah membuat semuanya menjadi
hambar, hampa dan habis tidak tersisa. Tidak ada yang salah dengan hubungan kita. Yang salah adalah saya yang kurang bersyukur hidup denganmu, dan memilih petualangan yang akhirnya membuat saya merindukan kamu.
****
Untuk kamu, lelaki yang tidak
pernah menjadi kata-kata indahku
Maaf karena aku bukan perempuan
yang mampu bersyukur karena telah memiliki berlian sepertimu. Maaf karena aku
telah menyiakan perasaan, hati dan waktumu untuk keangkuhanku sendiri.
Maaf karena aku meninggalkan kamu
disaat kamu terpuruk sendiri, sedang kamu ada untuk memapahku bangkit disaat
aku terjatuh.
Terlalu banyak maaf yang ingin
aku sampaikan hingga aku tidak yakin kamu masih mau mendengarkannya. Namun,
terima kasih karena telah membiarkan perempuan yang tidak pandai bersyukur ini
ada di sisimu dalam kurun waktu yang tidak singkat, menerima dengan segalaku,
membiarkan aku hidup dilingkupi rasa cinta dalam rumahmu yang tidak habisnya
hingga akhirnya aku memutuskan untuk mematikan lampu rumah dan pergi mengembara
lagi.
Hari ini, aku merayakan
kehilanganku atas kamu. Terima kasih atas tahun-tahun itu, Nang. Aku bahagia.


Comments
Post a Comment