Day 1: Describing My Personality
Baru challenge day 1 sudah mulai berat ya. Deskripsikan kepribadian saya. Gimana yaa haha. Sejujurnya saya sendiri belum benar-benar mengenal seperti apa kepribadian saya, apa yang saya mau dan seperti apa saya terbentuk. Saya hanya sering mendengar orang menjelaskan tentang saya, yang mungkin akhirnya saya serap menjadi siapa saya dimata saya sendiri. Namun terkadang keadaan seperti ini membuat saya sedikit terganggu: terkadang apa yang dikatakan orang bertentangan dengan apa yang saya rasakan, namun saya memaksa diri untuk menjadi seperti apa yang dikatakan orang lain karena seperti itulah saya dikenal. Entah ini salah, atau memang sifat alami manusia seperti itu. Namun, perlahan disini, semoga saya bisa mengenal diri saya sendiri, dari perspektif saya sendiri dan menerima itu sebagai ‘saya’.
Saat ini, saya mengenal diri saya
sendiri sebagai manusia yang penuh dengan pertimbangan. Saya menanamkan dalam
diri bahwa logika harus memiliki porsi lebih banyak daripada perasaan. Paling kurang,
logika harus menempati 70% diri saya, dan sisanya adalah perasaan. Entah,
mungkin nanti presentase ini akan berubah dan mengganggu konsistensi saya
dengan pemahaman yang demikian, saya belum menemukan alasan kuat. Seringkali,
saya mendengar bahwa logika dan perasaan itu harus beriringan agar dapat
menciptakan kedamaian: sesuatu yang benar-benar ingin saya temukan saat ini.
saya belum menemukan alasan yang cukup kuat, untuk membuat mereka dalam posisi
yang seimbang- 50:50. Namun apakah ini juga presentase yang benar? Entah. Atau mungkinkah
saya terlalu perhitungan atas segala sesuatu? Mungkin saja itu bawaan
keturunan. Btw, saya setengah Sulawesi, orang-orang yang katanya cukup pandai
berbisnis sehingga mampu berhitung. Bedanya, saya berhitung soal logika dan
perasaan. Haha
Dalam hubungan, saya orang yang
cukup baik menurut saya, mampu memberikan toleransi yang baik pada setiap
kesalahan, kendala atau tantangan. Namun ketika seseorang merusak kepercayaan
saya, maka apapun yang dia dapatkan dari saya saat itu, bagi saya dia pantas
mendapatkannya. Saya tidak mau merusak hubungan saya dengan orang lain hanya
karena berharap sesuatu yang normal diingkari oleh manusia, seperti janji dan
kepercayaan dan saya cukup konsisten hingga sekarang. Namun ketika kehilangan
respect kepada seseorang, maka saya akan berpikir: oh, Cuma hilang satu orang
kok. Gak rugi. Keuntungannya adalah saya orang yang tidak bisa terlalu lama
marah pada seseorang. Tidak pernah lama sampai akhirnya saya mencari-cari cara
agar bisa lama marah dan membenci orang, namun tidak berhasil. saya justru
menemukan banyak alasan agar tidak perlu terlalu lama marah pada seseorang,
karena itu justru tidak baik untuk kita sendiri. Maka, ya sudahlah.. mungkin
ini sisi baik saya yang menguntungkan orang lain yang bermasalah dengan saya.
Saya orang yang cukup setia. Haha.
Saya setia kawan, setia pada pasangan (yang belom ada) setia pada rutinitas
yang walaupun kadang membosankan dan memuakkan. Jenuh, pasti ada. Saya sering
mengobati rasa itu dengan menikmati waktu sendiri sejenak. Saya sangat
menghargai ‘me time’ karena kesibukan sehari-hari ataupun rutinitas yang sama. Kadang,
saya sama sekali tidak ingin diganggu, namun kadang saya ingin ‘mengganggu’
seseorang dengan pembicaraan yang ringan.
Saya bisa romantis ketika
dibutuhkan, saya bisa menjadi lucu ketika perlu, namun juga bisa menjadi sangat
diam ketika memang sedang tidak ingin berbicara. Cukup banyak mendengarkan
membuat saya menjadi manusia yang sering merasa kesepian, ingin didengarkan. Ingin
berbicara sampai kelelahan sendiri, namun belum ada orang yang bisa mendengarkan
hingga saya lelah. Manusiawi memang, karena saya punya sangat banyak bahan
untuk dibicarakan: mulai dari hal bercanda hingga hal serius, namun manusia
terlalu cepat bosan untuk mendengarkan semuanya dari awal hingga akhir. I see,
I see. Haha
Saya orang yang cukup terarah,
terencana hingga akhirnya overthinking. Sering malah. Setahun ini mau ngapain,
5 tahun kedepan mau jadi apa, 10 tahun lagi mau bagaimana, seperti itu. Kadang saya
nanya sama teman-teman, apa rencanamu kedepan? Mereka santai jawabnya: gak ada.
Haha. Itu membuat saya berpikir, ah masa iya sih saya overthinking? Repot banget
mikirin semuanya padahal orang lain malah biarkan semuanya mengalir begitu
saja. Pernah ada yang mendekat dan saya tanyakan apa rencananya kedepan, apakah
ada saya didalam rencananya, kapan bergeraknya, dia butuh support apa dari saya
dan kapan saya harus bergerak. Dan dia mundur teratur. Saya terlalu detail
katanya. Yep, betul sekali: saya orang yang cukup mendetail tentang
perencanaan. Mungkin karena bawaan pekerjaan yang menuntut saya untuk mendetail
dan terbawa hingga kehidupan pribadi yang harus jelas, terarah dan presisi,
karena #YOLO. Akibatnya, saya tidak terlalu suka kejutan, atau mungkin kejutan
itu memang menyenangkan namun karena saya yang jarang mendapatkan kejutan
sehingga semuanya lebih terarah, saya menjadi tidak menyukainya. Semua harus
terarah, kalau perlu presisi. Karena pertanyaan-pertanyaan itulah (alasannya
kenapa) saya masih melajang.
Saya butuh diyakinkan setiap
saat. Walaupun saya tahu akan sesuatu, saya perlu diyakinkan setiap saat
tentang sesuatu, untuk tetap menyegarkan ingatan, mengembalikan saya dari
disorientasi (which is sering saya alami) untuk menjaga saya tetap konsisten
akan sesuatu walaupun godaannya banyak sekali, atau menjaga saya tetap waras. Saya
paham ini akan melelahkan bagi orang lain untuk terus mengingatkan saya akan
sesuatu. Tapi ya mau bagaimana? Memang saya perlu diyakinkan setiap saat. Itu berguna
untuk menutupi celah-celah saya yang konon katanya cukup banyak untuk dimasuki,
yang bisa membawa saya ke disorientasi atau pergeseran yang tiba-tiba.
Saya adalah orang yang sangat
mengedepankan kualitas. Mau sesedikit apa, yang penting kualitasnya oke. Dalam dunia
kerja, dalam hubungan pribadi, intinya kualitas. Mau bekerja hanya menggunakan
celana pendek, nyeker, masuk telat, tidak apa yang penting seluruh pekerjaan
beres, tepat waktu dan tidak ada masalah. Mau berteman denan circle yang kecil,
bergaul dengan orang yang itu-itu saja, tidak apa. Asal kualitas pertemanannya
baik. ini bukan berarti saya menutup diri dengan orang baru, tidak. Saya sangat
terbuka, namun proses seleksi untuk memasuki circle yang lebih kecil itu ada
dalam kendali saya. saya punya lingkar pertemanan yang dijaga sejak SMP, SMA
hingga sekarang. Kenapa? Semua terjadi karena kualitas. Bukan sekadar
kuantitas, ada teman dimana-mana tapi karena kualitas pertemanan yang
toxic-free dan satu frekuensi.
Saya suka mencoba hal baru. Apapun
hal baru yang menurut saya menarik, bila memungkinkan pasti saya coba. Haha. Kadang
menantang diri sendiri untuk menjadi tidak nyaman itu cukup membantu untuk kita
bertumbuh, dan berpengalaman.
Saya cukup ambisius atas sesuatu.
Ketika menargetkan satu hal, saya harus mendapatkan sesuatu itu bagaimanapun
dengan cara yang positif dan tidak destruktif bagi diri saya sendiri. Untuk ini,
saya cukup baik untuk memetakan strategi dan konsisten dengan hal itu. Hehe
Kelemahan saya: cepat bosan. Ketika
saya sudah memiliki sesuatu atau sudah terbiasa dengans esuatu, saya merasa
butuh untuk berkembang dan melakukan ekspansi ke tempat yang lain, atau hal
yang baru. Ini cukup melelahkan ketika saya benar-benar muak tetapi harus tetap
tinggal. Pernah beberapa kali saya mencoba untuk melarikan diri, namun ternyata
melarikan diri bukan solusi yang baik karena setelah kembali rasa bosan itu
datang lagi. Untuk ini, saya masih belum punya solusinya.
Sebagai anak pertama, saya merasa
punya beban yang cukup besar untuk jadi panutan bagi adik semata wayang,
membanggakan kedua orang tua dan ambisi pribadi yang saya pikul sendiri. Konon kata
orang, saya terlihat independen, cukup tangguh sebagai perempuan sendiri
berdasarkan track record saya di dunia pekerjaan. Namun kamu tau gak seehhh gak
sekuat itu akutuuuu.. apalagi di saat kaya sekarang, di quarter life crisis
yang membuat diriku bener-bener butuh sandaran tapi kok sulit banget nemu orang
yang bisa paham. Manusia akutuuu.. bukannya robot! Apa mungkin saya memasang
ekspektasi yang terlalu tinggi untuk tempat sandaran ya. Entah. Duh jadi curcol
kan.
Mungkin itu dulu deh. Sekilas tentang
kepribadian yang gak jelas ini.


Comments
Post a Comment