Day 12: A Letter to Someone
Hai, kamu yang belum kutahu siapa namanya.
Ini aku. Aku sengaja menuliskan
surat untukmu di hari ini untuk sekadar berkomunikasi satu arah denganmu karena
aku belum tahu, kepada siapa kualamatkan surat ini- Tuhan belum memberitahukan
alamatmu. Hari ini, kita masih menjadi orang asing yang memutuskan untuk
mewujudkan mimpi masing-masing, atau mungkin kita telah bertemu hanya masih
menjadi orang asing yang saling mengenal. Entah kapan kita diperkenalkan oleh
Tuhan sebagai rumah bagi satu sama lain, akupun penasaran. Seringkali aku merayu
Tuhan agar segera diperkenalkan denganmu, namun kataNya, “sabar, semua ada
saatnya. Dia masih dalam perjalanan ke depan pintumu. Dia akan tiba di waktu
yang tepat.” Aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan jawabanNya.
Untuk bertanya bagaimana kabarmu,
rasanya terlalu sok akrab ya. Kita saja belum saling mengenal, dan bilapun
sudah, rasanya pertanyaan ini hanya untuk orang yang sudah lama tidak saling
bertemu. Tapi, hey, apa kamu disana juga sama sepertiku- penasaran dengan siapa
kamu yang akan menjadi teman di sisa hidupku nanti: siapa namamu, seperti apa
rupamu, bagaimana keseharianmu, seperti apa keluargamu, dan seperti apa hidup
kita nantinya. Siapapun kamu, aku selalu mengharapkan dan mendoakanmu yang
terbaik, semesta menyayangimu hingga Tuhan akhirnya berbaik hati untuk memberitahukan
alamat rumahku, atau mengantarkanmu hingga akhirnya kita
saling menemukan. Atau, mungkin kau yang menemukanku karena aku hanya berdiam
didalam rumah; melihat dari jendela?
Aku ingin jujur padamu tentang
satu hal: selama ini, aku selalu salah orang. Mengira beberapa orang yang
mendekat itu adalah dirimu. Tapi ternyata, kamu bukanlah orang-orang itu. Aku menjadi
manusia yang tidak konsisten ketika meminta dihadapan Tuhan: di sujud akhirku,
aku meminta kamu untuk ditunjukkan pada waktu yang tepat, namun dalam doa yang
lain aku meminta seseorang yang khusus, yang telah kukenal untuk mengambil
posisimu. Aku tertawa malu setelah itu, sebegitu terburu-burunya kah aku, atau
sebegitu rindunya kah aku padamu sehingga menjadi manusia yang tidak mampu
bersabar sedikit lagi? Akhirnya aku tetap kembali pada doa di sujud akhirku-
memohon Tuhan mengantarkanmu kepadaku bila waktunya telah tiba.
Untukmu, orang yang belum kutahu
namanya, ini aku di masa sekarang. Di masa depan nanti, ketika kita sudah
bertemu: aku ingin berterima kasih karena telah memilih aku di masa depan untuk
jadi temanmu, di sisa usiamu. Manusia yang mungkin tidak disadari keberadaannya
diantara keramaian. Dari sekian banyak orang yang datang dan pergi, kamu
memilih aku untuk menjadi rumah, tempatmu berpulang dan bercerita tentang
apa-apa yang terjadi dalam hidupmu. Menjadikanku tempatmu bersandar, dan
menumpukan hidupmu. Mungkin, aku bukanlah orang yang kamu harapkan, bukan orang
yang bisa memberikan kamu kedamaian yang (sedang) kamu cari. Namun, aku
menjanjikan segala yang terbaik untukmu, menjadikan kamu duniaku.
Namun, ada satu hal yang ingin
kutanyakan padamu nanti: dari sekian banyak pilihan yang kau miliki sejak kini
hingga saat kamu memutuskan bahwa akulah orangnya; kenapa aku?

Comments
Post a Comment