Day 3: A Memory
Kemarin, saya sempat ngepodcast random soal aroma. Bagaimana aroma alam, aroma ruangan, aroma suatu tempat bahkan aroma tubuh seseorang menjadi suatu ciri unik yang dapat membangkitkan perasaan atau kenangan kita akan suatu masa tertentu. Seperti aroma tanah saat terkena air hujan, rerumputan, aroma setiap rumah, hingga aroma tubuh seseorang. Aroma bisa menjadi seperti mesin waktu: membangkitkan kenangan-kenangan yang terjadi dalam hidup kita. Dia bisa saja memicu kenangan yang sudah lama kita lupakan dan membuatnya menjadi cukup emosional.
Manusia cukup peka terhadap aroma apapun yang ada di sekitar. Dalam satu konteks saya mampu mencium aroma sayuran yang baru selesai dipanen dan yang sudah beberapa hari dipajang. Aneh? Tidak juga. Itu hanya karena terbiasa dengan aromanya. Atau, aroma khas kios-kios di manggarai yang menjual minyak tanah dan ikan kering. Aromanya cukup khas dan tidak bisa saya temukan aroma yang sama di tempat-tempat yang saya datangi. Salah satu yang saya rindukan ketika berada diluar Manggarai. Ada juga aroma petrikor yang mampu membuat kepala penuh dengan ingatan-ingatan tentang masa lalu: mungkin berjalan saat hujan, bermain air, atau mungkin kenangan bersama mantan. Aroma di setiap rumah juga khas. Mereka punya aromanya tersendiri, yang membuat penghuninya selalu merindukan rumah ketika sedang jauh, atau tamunya menjadi familiar. Bila suasana rumah menyenangkan, mungkin menghirup aroma yang mirip saja sudah bisa membuat ingatan tentang rumah itu mencuat. See? Bagaimana aroma dapat membangkitkan suatu kenangan dalam diri kita. Ada penjelasan ilmiahnya, namun kali ini kita akan membahas emosionalnya.
Salah satu aroma yang cukup kuat untuk membangkitkan kenangan secara personal adalah aroma tubuh. Entah itu berasal dari parfum, sabun atau memang aroma khasnya demikian. Namun, walaupun menggunakan sabun dan parfum tetap saja setiap orang punya aromanya tersendiri setelah mereka mengenakan benda-benda itu, mungkin karena bercampur dengan yang namanya keringat. Kenangan tentang aroma tubuh ini juga cukup mempengaruhi saya, bahkan pengaruhnya lebih kuat daripada aroma alam. Aroma tubuh yang selalu sama, membuat saya selalu terbawa pada kenangan-kenangan di masa lalu. Mungkin, ada saja yang berubah dari aroma tubuh seseorang. Namun seringkali yang saya temui, mereka jarang berubah. Mungkin karena ini adalah aroma yang khas, dari tubuh sendiri. Entahlah. Apa manusia terlahir dengan aromanya masing-masing?
Ada aroma tubuh yang tidak pernah berubah sejak dulu dan ingin saya ceritakan kali ini: aroma tubuh mama Elisabeth, ibu angkat saya sejak saya berusia 5 bulan. Kami para anak, sering memanggilnya mama Eis, atau Eis. Eis, merawat saya sejak kecil karena papa dan mama bekerja di kantor. Hingga saat ini, saya masih diperlakukan sebagai seorang bungsu dari 3 anak kandung Eis dan seperti anak kecil ketika bermain dirumahnya-walaupun sudah jarang karena sejak kembali ke Ruteng, saya bekerja. Namun, sejak saya kecil hingga sekarang Eis tidak pernah berubah. Dandanannya masih sama, aroma rumah masih sama, dan aroma tubuhnya yang sama sejak saya kecil, sejauh saya mengingat. Ini nostalgic sih menurut saya, bagaimana seorang Qq yang masih kecil dulu sering digendong walaupun sudah mulai besar, bermain dan tidur siang di ruangan yang beraroma sama dengan pemiliknya, dan saya yang sudah sebesar ini masih manja dan menunjukkan afeksi kepada Eis walaupun ditempat ramai karena sangat menyayanginya, dan bersyukur memiliki Eis dan aromanya yang membahagiakan. Pernah sekali, sulung berpesan untuk membagi cinta pada setiap orang yang saya jumpai tanpa mengenal ras, agama dan warna kulit karena saat kecil, saya mendapatkan cinta yang berlimpah ruah dan menjadi sumber kebahagiaan untuk semua orang. Dan aroma Eis serta rumah Woang, mengingatkan pada cinta yang saya dapatkan dan kewajiban untuk turut membagi cinta dan kebaikan pada sesama.

Comments
Post a Comment