Day 4: Places I Want to Visit

Sebenernya saya udah punya journal book nih soal tempat-tempat yang pengen saya kunjungi. Sebagai cewek single yang punya mimpi dan ambisi besar tentang menjalani hidup yang bebas, saya punya cita-cita untuk pergi ke banyak tempat. Kebanyakan tempat yang saya sebutkan dalam journal saya adalah karena keindahan alamnya, event yang ingin saya hadiri disana, atau sekadar ingin mencoba untuk pergi karena mendengar cerita bahwa tempat-tempat itu bagus, atau memiliki kenangan bagi orang lain. sepertinya akan menyenangkan jika saya mampu memiliki experience disana juga. Semuanya masih berkisar pada hal duniawi, masih tentang senang-senang dan pengalaman: mencoba hal baru. Lets say: ingin ke Belitong karena ada mercusuar disana, ke Switzerland karena ingin melihat Iseltwald dan belahan dunia lain yang indahnya bukan karena punya pantai, atau mengunjungi semua tempat-tempat yang disebutkan dalam buku The Alchemist-nya Paulo Coelho, mungkin juga menikmati tantangan yang diceritakan oleh Agustinus Wibowo dalam trilogy bukunya. Saya pikir, mungkin ini juga bisa menjadi pencarian saya sendiri tentang kehidupan, menyembuhkan diri saya dari rasa kebosanan yang benar-benar sedang menggerogoti saya saat ini. ya, beberapa waktu belakangan saya mengalami rasa bosan yang cukup mengganggu hampir semua sendi kehidupan yang sedang saya jalani. Hidup yang katanya banyak diimpikan orang, diinginkan orang lain. entah kenapa rasanya hampa sekali. Saya tidak betah menetap. Lagipula, untuk apa menetap? Saya belum memiliki satu alasan yang kuat untuk menetap di satu tempat, namun masih cukup terikat sehingga ‘terpaksa’ untuk menetap. Tinggal di Ruteng saat ini seperti hal yang sangat membosankan, semuanya terasa sangat lambat walaupun di saat jauh, terkadang saya merindukan ketenangan yang membosankan ini. Sejujurnyan saya merindukan petualangan. Terlalu banyak rencana untuk melarikan diri yang mencuat dalam pikiran: melanjutkan pendidikan, mencari pekerjaan diluar daerah, apapun agar bisa pergi. Pertimbangan-pertimbangan tentang apakah harus tinggal, dengan keadaan yang sama seperti ini, atau pergi sementara lalu kembali, atau mungkin ‘melanjutkan perjalanan’ dengan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya juga terus berputar didalam kepala. Terlalu banyak pertanyaan, alasan dan agar bisa menghilangkan rasa bosan. Ataukah mungkin sebenarnya, rasa bosan ini tidak akan pernah hilang kemanapun saya pergi? Entah apa yang sebenarnya saya inginkan.

Namun, apakah rasa bosan ini benar-benar akan menghilang jika saya berhasil pergi, sekadar mengunjungi suatu tempat atau mengembara? Mengisi hampa yang sedang saya rasakan?

Lim pernah mengirimkan satu kutipan dalam buku tulisan Dale Carneige tentang seorang bapak yang menulis surat untuk anaknya yang mencoba bepergian jauh untuk ‘mengobati’ diri atas banyak hal yang dia alami. “Anakku, kau kini berada 1500 mil jauhnya dari rumah tapi kau tidak merasakan adanya perbedaan, bukankah begitu? Saya tahu, kau tak akan mengalami perubahan, sebab penyebab utama dari segala kesulitannya tetap kau bawa serta, yakni dirimu sendiri. Sebenarnya badan dan jiwamu sehat semuanya: tidak ada yang kurang beres. Kau bukannya dicampakkan oleh situasi yang kau hadapi, tetapi oleh apa yang kau pikirkan mengenai situasi tersebut, sebab apa yang kau pikirkan mengenai situasi tersebut, sebab apa yang dipikirkan orang dalam hatinya, itulah dirinya. Apabila kau menyadari hal ini, hai anakku, pulanglah segera.”

Kutipan lama yang menarik, yang membuat saya berefleksi cukup panjang tentang rasa bosan dan semua nama-nama tempat yang saya tuliskan didalam journal. Sebenarnya untuk apa saya ingin mengunjungi tempat-tempat itu? Kesenangan? Pelarian? Menyembuhkan diri? Padahal masalahnya juga ikut terbawa bersama saya. apakah benar bisa menyembuh bila bepergian begitu saja?

Memperbaiki orientasi dan hati. Untuk bepergian dan menentukan tempat, sepertinya memang harus memperbaiki orientasi terlebih dahulu: untuk apa? Apakah akan menyenangkan bila pergi dengan hati yang sedang sakit? Pergi ke tempat duniawi seperti itu harus dengan hati yang senang dong, supaya semuanya juga ‘sehat’. Haha. Hei, Aquila. Kamu sebenarnya kenapa? Kamu sudah tahu jawabannya ada pada dirimu sendiri. kamu tahu jawabannya adalah rumah. Rumah yang bukan kamu kunjungi, tapi kamu tinggali. Kamu tahu seperti apa rumah yang kamu inginkan, agar kamu bisa pergi sesaat mengunjungi tempat-tempat itu dengan rasa yang menyenangkan tanpa harus ditunggu oleh rasa bosan, atau rasa tidak menyenangkan lainnya saat kamu pulang. Kenapa kamu menolak hatimu sendiri?

Baru hari keempat, refleksi tentang diri sendiri ini sudah semakin banyak ya.. hehe. Namun hari ini, saya terpikir untuk pergi ke satu tempat: Mekkah. Menikmati mekkah di malam hari, menggali pengalaman-pengalaman spiritual diantara lampu malam dan keramaian orang yang mencari ketenangan hidup, atau sekadar memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim. Saya berpikir untuk mengunjungi Mekkah, sebagai tempat yang cocok untuk pergi.

 

Comments

Popular Posts