Day 5: My Parents
Menjelaskan soal orang tua kadang jadi hal yang
membingungkan sih. Saya sendiri bingung, apakah sebenarnya saya mengenal
orangtua saya dari perkenalan mereka kepada saya, mendengar cerita-cerita dari
orang lain atau saya yang berusaha mengenal mereka sendiri. Untuk opsi ketiga,
sepertinya usaha saya cukup terlambat karena baru mencoba mengenal mereka
beberapa tahun terakhir, ketika saya bisa pulang ke rumah sebagai seorang
manusia dewasa. Dampaknya: memang cukup dangkal yang saya ketahui tentang
orangtua saya. Namun, kali ini saya mencoba untuk memperkenalkan mereka. Hehe sebenernya
saya agak bingung mau mulai darimana.
Saya terlahir sebagai anak pertama dari pasangan ini. lahir
di musim hujan di Ruteng, yang membuat mereka cukup kerepotan karena saya
sering merengek kedinginan namun mereka tetap mencintai saya, karena katanya
saya anak yang sangat ditunggu. Ketika mama mengandung saya, papa selalu berdoa
agar dianugerahkan seorang anak perempuan yang sehat, dan Alhamdulillah, doa
papa terkabul. Saya menjadi anak perempuan satu-satunya dalam keluarga dan
tumbuh menjadi anak yang sehat, tanpa kekurangan apapun. Saat kecil, katanya
saya sangat mirip dengan papa. Wajahnya sama, kelakuannya sama. Namun semakin
dewasa, saya lebih mirip seperti mama yang dulu katanya tomboy parah haha. Saya
bertumbuh dengan karakter yang dimiliki kedua orangtua saya yang cukup
berlawanan, sehingga saya bingung kenapa mereka masih bersama dengan
ketidakcocokan yang mereka miliki. Namun tetap saja saya bersyukur karena masih
memiliki keluarga yang lengkap dan dekat dengan Tuhan.
Papa adalah pribadi yang cukup keras, tidak neko-neko dalam
mengambil keputusan, dan berbicara sesukanya. Ketika tidak menyukai sesuatu
bisa langsung berbicara tanpa memikirkan konsekuensinya alias sumbu pendek. Sedangkan
mama, cukup tenang dengan independensinya yang tinggi. Mama selalu punya banyak
pertimbangan walau sekarang terlihat seperti mulai berubah. Mama selalu punya
strategi untuk melakukan sesuatu, namun kadang dirusak dengan spontanitas yang
papa miliki. Tidak jarang mereka curhat ke anaknya ini tentang kekesalan
mereka, namun setelah itu membaik lagi. Untungnya, mama tidak pernah bisa marah
terlalu lama dengan sesuatu, mama cukup memiliki belas kasihan dan kasih sayang
kepada manusia yang lain. Kesamaan yang mereka miliki: tidak segan memutuskan
hubungan dengan siapapun yang telah menyakiti keluarga mereka-yang juga
dimiliki oleh si anak perempuan tunggalnya ini. Ketika saya memahami karakter
kedua orangtua ini, saya menyadari bahwa saya mewarisi semua karakter milik
kedua orang ini. menjadi cukup rumit memang, namun jika saya tidak mewarisi
karakter mereka, saya tidak akan sampai di titik ini. Dear future husband,
tolong maklumi ya: darah itu tidak bisa berbohong. haha


Comments
Post a Comment