68 Hari Menuju 2021: Kebutuhan vs Keinginan

Hari jumat. Hari berkumpulnya seluruh orang rumah yang biasanya sibuk di luar. Makan siang dirumah, ngobrol gak jelas bareng-bareng dan akhirnya kembali ke kamar; mengurung diri atau kembali ke aktivitas masing-masing. Ini seperti sudah menjadi kebiasaan selama setahun terakhir saya tinggal di rumah, di Ruteng. Entah kapan sebenarnya rutinitas ini dimulai karena sejak tiba dan menetap dirumah saya lebih sering keluar, makan di luar karena harus sambil meeting atau pertemuan dengan orang hingga malam hari. Walaupun seorang pengangguran, saya punya jadwal yang cukup padat sehingga tidak jarang saya melewatkan hari berkumpul ini, atau bahkan hanya bertemu dengan orang-orang rumah beberapa hari sekali. Karena ketika mereka bangun dan beraktivitas saya masih tidur, dan saya pulang ke rumah saat semua orang sudah beristirahat. Komunikasi lebih sering via telepon hanya untuk menanyakan keberadaan saya atau mengingatkan untuk pulang.

Jumat kali ini, saya memutuskan untuk tinggal dirumah saja: bekerja dari rumah. Sebenarnya ada pekerjaan yang mengharuskan untuk keluar rumah namun mungkin kali ini bisa di skip dulu hehe. Saya hanya keluar pagi untuk beberapa urusan sekaligus mengambil beberapa file untuk dikerjakan dirumah. Walaupun dikamar, paling tidak saya tetap ada dirumah. Saat diluar tadi, saya sempat melewati salah satu kedai mie ayam yang katanya paling enak di Ruteng. Sempat terpikir untuk mampir, kebetulan sedang lapar. Haha. Namun, rasanya kok gak worth ya.. entah kenapa. Belakangan saya jadi lebih sering menahan bila ada keinginan untuk makan diluar: selain karena hanya saya yang nikmati sendiri dan teringat orang-orang dekat makannya apa, rasanya juga kok sebenarnya gak perlu-perlu amat untuk makan diluar sedangkan dirumah ada makanan yang sudah pasti sehat dan mengenyangkan dirumah. Saya memutuskan untuk pulang, makan dirumah. Masakan mama: terong balado, ikan goring dan sambal.

Awalnya gak ngerti kenapa terong balado, nasi panas, ikan goreng dan sambel saja bisa menghilangkan hasrat saya untuk menyantap mie ayam hari ini. Namun pada akhirnya saya menyadari satu hal bahwa sesungguhnya perut kita hanya perlu diisi dengan makanan, dan ia tidak peduli dengan makanan jenis apa yang masuk ke dalamnya. Yang membuat kita menginginkan beragam jenis makanan untuk disantap itu adalah otak, yang memerintahkan mulut memproduksi liur berlebih ketika ia memproyeksikan jenis makanan yang ingin dimasukkan ke dalam tubuh. Ini perkara keinginan.

Hm.. soal kebutuhan dan keinginan ya. Saya sempat berpikir cukup panjang tentang kedua hal ini: apakah yang saya inginkan adalah kebutuhan saya, atau apa yang saya butuhkan juga adalah hal yang saya inginkan. kalau diinginkan dan dibutuhkan, syukur. Nah kalau diinginkan tapi tidak dibutuhkan? Wah mubazir dong. Ini membuat saya sangat selektif untuk memenuhi sesuatu dalam hidup saya, apakah sesuatu itu benar-benar diperlukan, apakah masuk ke daftar prioritas ataukah hanya diinginkan sesaat. Banyak hal yang dipikirkan seperti apakah ini untuk kebutuhan konsumtif atau produktif, apakah harus dipenuhi sekarang juga atau bisa nanti saja ketika kebutuhan lainnya sudah terpenuhi. Akhirnya, saya membuat daftar prioritas, kebutuhan dan keinginan untuk disandingkan bersama. Hasilnya? Ternyata banyak hal-hal yang saya inginkan hanya menjadi keinginan, tidak perlu untuk dipenuhi segera, dan tidak menyentuh kebutuhan sama sekali. Hahaha

Ini membuat saya cukup kaget sendiri tentang apa yang saya miliki. Ternyata toh selama ini saya hanya memenuhi ‘lapar mata’: nafsu untuk diri sendiri yang setelah terpenuhi, sudah. Ruginya double: rumah penuh dengan hal yang sebenarnya tidak perlu dan kerugian finansial. Di ujung pemikiran ini saya memutuskan untuk banyak menahan. Ketika melihat sesuatu yang bersifat keinginan, saya lebih memilih untuk menahan dalam beberapa waktu untuk melihat apakah saya benar-benar menginginkan hal itu. Bukan berarti keinginan itu tidak boleh dipenuhi ya. Boleh-boleh aja sih menurut saya sebagai reward untuk diri sendiri. namun ya jangan keseringan karena nanti akhirnya ada pola konsumtif yang kita pelihara dalam diri kita, yang tentunya bakal merugikan apalagi kebutuhan semakin tua semakin banyak kan.

Sebenarnya poin dari cuap-cuap disini tuh saya cuma pengen ngasih tip untuk diri sendiri untuk berhemat berdasar dari kebutuhan dan keinginan berhubung ada hal besar di masa depan:

  1. Buat daftar: kebutuhan dan keinginan, daftar prioritas pemenuhannya
  2. Setiap penghasilan, sisihkan 30% di awal untuk ditabung (bisa tabungan berjangka atau disiapkan rekening khusus), sisanya breakdown menjadi pengeluaran rutin dan having fun
  3. Uang receh, ditabung aja! Kalo kepepet di akhir bulan baru dikeluarkan
  4. Asuransi! Kalau ada apa-apa (sakit, dl naudzubillah ya) kamu udah aman. Dan setelah masa tenggat habis, bisa diclaim

Yep kayanya itu aja deh cuap-cuap gajelas kali ini. mau lanjutin kerja dulu hahahahaha

Comments

Popular Posts