83 hari menuju 2021

Delapan puluh tiga hari menjelang akhir tahun.

Menghitung hari seperti ini, membawa banyak kekhawatiran, cemas dan takut. Khawatir akan keadaan setelah tahun ini selesai, cemas pada kenyataan yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi, dan takut pada kepergian dan kehilangan.

Namun, menghitung hari seperti ini membuat saya menjadi lebih menghargai waktu: lebih menghargai segala kesempatan yang datang, kebersamaan dengan orang yang disayangi, dan waktu yang tersisa. Saya ingin semuanya jadi maksimal, tidak ada yang sia-sia. Memang, kedengarannya saya menjadi obsesif. Saya menjadi lebih kaku karena memaksimalkan waktu yang ada agar bisa menjadi bekal menghadapi segala perasaan negatif yang akan datang itu. Namun, apa salah ingin membuat banyak hal indah dan baik untuk dikenang, kalau-kalau semua kekhawatiran, kecemasan dan rasa takut saya terbukti?

Kata orang: ketika sesuatu telah menjadi ingatan, sesungguhnya ia telah menjadi harta karun-- dan saya ingin punya banyak harta karun di masa ini; just in case ketika saat itu, sesuatu itu memutuskan untuk tidak lagi berada dalam hidup saya.

Ada yang bilang, tidak perlu menghitung hari, tidak perlu khawatir, tidak perlu cemas, tidak perlu takut. Saya kembali berpikir, apa bisa? Saya harus terus menghitung agar saya tahu berapa banyak lagi waktu yang saya miliki untuk memberikan semua yang bisa saya beri. Saya khawatir, cemas dan takut karena saya manusia. Tidak ada jaminan bagi saya untuk merasa aman bahwa sesuatu tidak akan menghilang. Semua pasti pergi, cepat atau lambat. Ini, ego saya sebagai manusia.

Saya benar-benar ingin pulang ke rumah kali ini-- tempat dimana saya bisa berteduh dan tinggal, tempat dimana segala kepastian menjadi pasti, dan tempat dimana saya bisa membuka semuanya, tanpa tertutup satu tabirpun. Tempat dimana kekhawatiran, cemas dan ketakutan saya bukanlah apa-apa karena kasih sayang yang saya dapatkan jauh lebih besar dari semua perasaan negatif itu.

Comments

Popular Posts