Gempa
Tiga puluh oktober dua ribu dua puluh.
Aku mendapati diriku membuka mata
di satu ruangan berwarna putih yang sangat familiar, ruang yang menjadi tempat
favoritku untuk berpulang, tempat yang aku bangun dengan perasaan yang penuh. Rumahku.
Hariku berjalan seperti biasanya: tawa yang lepas, pembicaraan yang
membahagiakan, keputusan besar yang diambil bersama siapapun yang menempati
rumah ini bersamaku. Namun, tiba-tiba sesuatu terjadi. Gempa yang singkat namun
goncangannya cukup kuat… Namun aku memilih untuk tetap bertahan didalam rumah,
melindungi diri karena aku yakin, rumah yang kubangun cukup kokoh bila hanya
menahan gempa sesingkat ini.
Setelah gempa berhenti, aku
keluar sejenak untuk memeriksa rumah yang baru saja kubangun itu: rumah yang
dibangun dengan susah payah. Aku mendapati dindingnya yang retak dimana-mana,
atapnya rusak dan pintunya terlepas. Di lantainya, Nampak lubang yang sudah
berusaha keras untuk ditutup, kembali menganga di tengah-tengah ruanganku.
Rumah yang kukira sudah cukup kuat untuk menjadi tempat bernaung ternyata tidak
kuat menahan gempa, bahkan gempa sesingkat itu. Aku menangis sejadi-jadinya
karena menyadari bahwa aku tidak cukup mampu untuk memperbaiki semuanya. Aku
saja tidak cukup hingga akhirnya aku memilih untuk pasrah, tidak ada lagi yang
bisa aku lakukan untuk rumah ini. Aku kembali masuk ke dalam rumah yang gelap
karena lampunya tidak lagi menyala, berdiam diri didalamnya dan menunggu waktu
hingga rumahku runtuh dengan sempurna.
Aku tersadar di ruangan berwarna
hijau, dengan selimut yang masih membungkus tubuhku. Aku mengenali ruangan ini.
kamarku yang sesungguhnya. Rumahku yang paling nyata. Kulihat jam di sisi
tempat tidur yang menunjukkan pukul 00.45 dini hari, tanggal tiga puluh satu
oktober. Ah, ternyata aku tidur sehari penuh, lebih dari 24 jam; waktu yang
cukup panjang untuk sekadar tidur. Tanggal tiga puluh oktober masih bertengger
manis di kalenderku dan melewatinya dengan mimpi buruk yang sangat buruk.
Sayangnya, perasaan sakit yang hadir dalam mimpi itu mengubah duniaku
sepenuhnya—ia mengikutiku hingga ke dunia nyata.

Comments
Post a Comment